Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
38. Jangan Berpisah


__ADS_3

"Mas, kamu nggak mau pulang ke Jakarta?" tanya Kirana suatu pagi setelah mendapat panggilan video dari Mentari.Tristan memang sudah cukup lama berada di kampung. Sudah lebih dari dua minggu. Dan aktivitas Tristan setiap hari mengantarnya setiap hari dan menemani sampai waktu pulang.


"Mama tadi mengirim pesan. Mentari tanya kapan kamu pulang," lanjutnya.


"Saya atau kita?" Pertanyaan Tristan membuat Kirana terdiam.


"Saya tidak akan pulang tanpa membawa kamu," ucap Tristan lagi.


"Saya masih harus menunggu Stifa selesai cuti. Setelah itu baru akan saya putuskan."


"Kalau begitu akan saya tunggu. Sampai berapa lama temanmu itu cuti?"


"Satu bulan. Terlalu lama kalau Mas harus menunggu Syifa masuk kerja. Mas sudah meninggalkan pekerjaan terlalu lama."


"Kamu tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan saya. Itu urusan saya."


Kirana menyudahi pembicaraannya. Dia tahu ujungnya tidak akan pernah selesai. Tristan akan tetap bertahan dengan alasannya sekeras apa pun dia memintanya pulang lebih dulu.


Lagi pula, keberadaan Tristan di dekat telah banyak membantunya. Banyak ilmu bisnis yang dia dapatkan dari suaminya. Tristan dengan telaten memberikan arahan padanya. Di sela kesibukan pria itu mengerjakan pekerjaannya sendiri. Karena tentu saja pemgetahuan Tristan jauh lebih mumpuni dari pada Kirana yang latar belakang pendidikannya psikologi.


Satu hal yang Kirana temui dari Tristan, lelaki itu tidak sepenuhnya kaku seperti awal-awal mereka terikat dalam hubungan pernikahan. Akhir-akhir ini, sisi lain suaminya terkuak sedikit demi sedikit. Sering bersikap manis meski kadang cemburunya yang tak beralasan memercikkan perdebatan. Terlebih jika sudah menyinggung tentang Baraka. Meski sudah jelas status Baraka kini suami Syifa.


"Aduh!" Kirana menepuk jidat saat mengingat ada yang terlupa untuk dibawanya.


"Kenapa?"


"Ada yang ketinggalan. Proposal event pameran. Mana urgent..Hari ini harus sudah harus dicairkan anggarannya."


"Saya ambilkan. Di mana kamu simpan?"


"Di meja. Map merah ada ada labelnya proposal event."


Tristan menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja. Lalu bergegas kembali ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal.

__ADS_1


Deretan map-map berjajar rapi di meja yang ada di dalam.kamar Kirana. Warna merah tidak hanya satu. Bahkan bisa dikatakan warna merah mendominasi. Tristan meneliti satu persatu label yang menempel.


Fokusnya justru bertumpu pada sebuah map hijau yang bertulis Berkas PA dengan tulisan yang sangat kecil. Meski sudah terlewatkan, namun label dalam map itu begitu membuatnya penasaran sehingga Tristan menarik map warna hijau itu.


Degupan jantungnya berpacu puluhan kali lebih cepat saat membuka map itu. Meneliti satu persatu berkas yang tersusun rapi. Kedua kakinya seolah tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya. Tristan luruh terduduk di kursi.


Kirana sudah menyiapkan semuanya. Tristan masih mengira jika permintaan cerai hanya sebuah gertakan. Kareena Kirana masih mau menerimanya dengan sangat baik. Namun melihat isi map yang digenggamnya, ternyata Kirana tidak main-main dengan ucapannya. Istrinya sudah menyiapkan semua berkas untuk melakukan gugatan cerai dengan lengkap. Ribuan tanya pun memenuhi kepala Tristan. Apa mungkin semua hanya tinggal menunggu waktu?


Getaran ponsel di saku celana membuatnya terkesiap. Kirana meneleponnya agar dia segera mengantar berkas yang bahkan belum ditemukannya. Tristan mengembalikan map yang ada di tangannya ke tempat semula. Mencari sekali lagi map merah yang diminta Kirana namun tidak juga dia temukan.


"Coba ingat-ingat lagi di mana kamu menyimpannya. Saya sudah cek semuanya," ujarnya melalui panggilan telepon.


"Pasti ada, Mas."


Tristan bahkan sampai merekam.deretan map itu untuk membuktikannya.


Dia mendesah kasar saat mendapati map merah yang dicarinya tergeletak di atas nakas. Mungkin Kirana terlalu banyak beban pikiran dan menjadi mudah lupa.


"Nggak ketemu, Mas?" tanya Kirana dengan wajah pasrah melihat Tristan datang dengan tangan kosong


"Memangnya terakhir kamu letakkan di mana?"


Kirana menggeleng. Semalam dia mengecek proposal itu sebelum ditandatangani. Namun dia harus mendahulukan kewajibannya sebagai seorang istri saat suami sedang meminta haknya. Alhasil, di meletakkan begitu saja proposal itu.


"Mas coba cari di….bawah bantal atau di laci-laci."


"Capek harus bolak-balik," jawab Tristan sambil meletakkan pantatnya di kursi rotan.


"Oh, ya sudah. Sini kuncinya biar saya ambil sendiri." Kirana menengadahkan tangannya meminta kunci.


Namun bukan kunci yang diterimanya, melainkan map merah yang disembunyikan Tristan di balik bajunya. Kirana memutar bola mata malas karena keusilan suaminya.


"Kamu sengaja membuat saya panik?!" ujar Kirana kesal.

__ADS_1


"Bukan kamu yang panik tapi saya."


Grep!


Tristan menarik Kirana hingga terjerembab membentur tubuhnya. Lengan lelaki itu mendekap istrinya demikian erat bahkan hingga Kirana merasakan sesak dan meminta untuk dilepaskan.


"Sampai kapan pun, saya tidak akan melepaskan kamu, Kirana."


"Tapi perutku sesak, Mas. Kamu kenapa, sih?"


Tristan melonggarkan pelukannya. Mengingat perut Kirana yang memang sudah semakin membesar. Bahkan terhitung besar untuk kehamilan di usia 3 bulan.


"Mas, kamu kenapa, sih. Ini saya mau kerja lho. Kalau kamu begini terus saya nggak bisa kerja," ujar Kirana pelan karena Tristan belum juga melepaskannya.


"Seharusnya kamu memang tidak perlu bekerja. Biar saya saja."


"Itu nggak mungkin, Mas."


"Saya tahu. Kamu terlalu memikirkan orang lain sampai lupa memikirkan perasaan saya."


Kiraa mendongak. Menatap wajah Tristan yang terlihat sendu.


"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Kirana tak mengerti.


Tristan membingkai wajah Kirana dengan kedua telapak tangannya. Menatap lekat bola mata bulat milik istrinya itu yang memperlihatkan raut kebingungan.


"Katakan pada saya, Kirana. Apa yang harus saya lakukan agar kamu benar-benar memaafkan saya dan menerima saya dengan tulus. Hukum saya semaumu. Tapi tolong hentikan keinginanmu untuk melepaskan ikatan ini, Kirana. Saya tidak sanggup kalau harus berjauhan dengan kamu." Tristan kembali membawa Kirana ke dalam dekapannya.


Kirana semakin tidak mengerti dengan sikap suaminya. Karena tanpa diminta, maaf dan ketulusan itu telah dia berikan sepenuh hati. Dan perpisahan, Kirana sudah memikirkan ulang niatnya setelah benih itu kini telah tumbuh menjadi janin di rahimnya. Tidak sedikit dia menemui anak-anak korban keretakan hubungan orang tua. Sebagian tumbuh dengan normal tanpa kekurangan kasih sayang, sebagian lagi tumbuh menjadi anak-anak yang butuh perhatian lebih karena kurangnya kasih sayang yang seimbang dari kedua orangtuanya.


"Mas, kita sudah berkomitmen untuk memulai semuanya dari awal. Apa yang sudah kita lewati di waktu sebelumnya, masing-masing dari kita sudah berjanji untuk menyimpannya dan menutup rapat. Apa Mas masih ragu dengan komitmen yang kita buat? Bagian mana yang harus saya perbaiki agar tidak membuat langkah kita tersendat?" papar Kirana setelah Tristan melepaskan dirinya


"Tentang perpisahan? Itu hanya akan menjadi wacana selamanya," imbuhnya seraya melangkah kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2