
Setelah baru saja Daniel pamit pulang, Kirana meminta ibu mertuanya untuk pulang terlebih dulu. Dia tidak tega melihat wajah lelah pada wanita itu. Sejak semalam mendapat kabar dari Daniel perihal Tristan yang mengalami kecelakaan, mereka terjaga sampai pagi ini.
"Kamu tidak apa-apa ditinggal sendirian, Wi? Mama khawatir dengan kandungan kandungan kamu?"
"Tidak apa-apa, Ma. Mama tidak usah khawatir."
Meski masih dipenuhi rasa cemas, Bu Ratih pun meninggalkan ruangan rawat putranya. Rasanya tidak tega membiarkan Kirana yang sedang mengandung harus menjaga Tristan yang sedang sakit. Namun, kesehatannya beberapa hari terakhir sedang tidak baik.
Kirana kembali menutup pintu setelah mengantar ibu mertuanya. Kesunyian kembali terjadi. Sejak semalam, dia memang tidak bertegur sapa dengan Tristan. Hanya sesekali mengajak bicara Daniel terkait kejadian yang menimpa Tristan. Sebuah kebetulan dia sempat berkenalan dengan lelaki yang menolongnya saat mengalami kecelakaan bersama Mentari beberapa bulan lalu.
Dia tidak bertanya detail kejadiannya pada Daniel. Yang dia tahu dari foto, bagian depan dan samping mobil Tristan ringsek. Kecelakaan itu menyebabkan tangan dan kaki kanan Tristan patah.
Kirana menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh suaminya. Satu persatu dibukanya kancing piyama berlogo rumah sakit. Kirana merasa kesal karena Tristan tak lepas menatapnya. Bahkan saat Kirana mulai mengelap tubuh yang tidak seberapa berotot itu, Tristan masih saja menatapnya.
"Angkat tangannya!" ujar Kirana menyuruh Tristan mengangkat tangannya untuk membersihkan bagian lengan. Tristan justru menahan senyum melihat wajah kesal Kirana.
"Lain kali kalau mau uji kesaktian jangan cuma nyetir sambil mabuk. Di rel kereta saja sekalian."
Tristan terkekeh mendengar ungkapan istrinya. "Kalau saya mati, kamu tidak merasa kehilangan?" Pertanyaan itu membuat Kirana mengangkat sudut bibirnya.
"Laki-laki di dunia ini tidak hanya kamu!" balas Kirana ketus.
"Oh ya?! Lalu kenapa kamu masih peduli denganku?"
Kirana berhenti mengusap lengan Tristan, lalu menatap wajah suaminya yang terdapat luka di keningnya. "Saya akan berhenti peduli denganmu setelah tidak ada lagi ikatan di antara kita," sahutnya dengan tegas. Lalu kembali membersihkan tubuh suaminya hingga semua bagian.
"Pelan dong, Sayang. Kakiku sedang sakit," protes Tristan saat Kirana memasang celananya dengan kasar.
"Kamu pikir kakimu tidak berat!"
Bug!
"Auw!"
Kirana meletakkan kaki yang terbalut dengan perban begitu saja. Hingga Tristan mengaduh.
Tidak peduli dengan dirinya sendiri yang belum mandi, Kirana merebahkan dirinya di bed penunggu. Rasa malas bersentuhan dengan air yang akhir-akhir ini dialaminya menjadi problem yang sedang dicari penyebabnya.
__ADS_1
Ibu mertuanya bilang karena bawaan ibu hamil. Tapi entahlah, Kirana tidak bisa percaya sepenuhnya. Tapi mungkin saja benar adanya.
Saat ini dia hanya ingin memejamkan mata setelah sejak datang ke rumah sakit tadi malam dia terjaga sampai pagi ini. Kirana menutup mukanya dengan selimut namun tidak juga dapat terlelap. Beberapa kali mengubah posisi tidurnya pun dia tetap saja gelisah.
Bunyi perutnya menjadi alarm jika dia sejak tadi mengabaikan rasa laparnya. Kirana beringsut turun dari bed single itu. Lalu mengambil gawai dan dompet dari dalam tas.
"Aku mau ke kantin," pamitnya tanpa menatap wajah Tristan.
"Sebentar lagi Nabila datang. Dia bawa titipan makanan dari Mama."
Pintu kamar terbuka setelah beberapa detik Tristan selesai berbicara. Perempuan yang selalu mengenakan celana panjang itu muncul dengan senyum lebar membawa satu tas plastik dan satu tas makanan di tangannya. Nabila terlihat kerepotan karena masih harus menyeret koper kecil.
"Morning!" sapanya. Hampir tak pernah terlihat wajah sedih pada Nabila. Hari-harinya selalu terlihat ceria.
Kirana bergegas membantu Nabila dengan mengambil tas-tas yang dibawa sepupu suaminya itu.
"Sorry ngerepotin, Bil," ucap Kirana.
"It's ok." sahut Nabila sambil menepikan koper di dekat bed penunggu.
"Lo kenapa bisa jadi gini, Bang? Mabok?"
"Tobat, Bang. Udah punya istri solehah juga masih main ke klub. Malu tuh sama istri lo. Anak udah mau dua juga," cerocos Nabila lalu dia menghempaskan diri ke sofa.
Sementara Kirana sibuk membuka kotak-kotak makanan. Aroma gurih masakan Bi Elis mengalihkan perhatian pada sekelilingnya. Dia mencomot ikan fillet goreng tepung lalu mengunyahnya. Tidak peduli Nabila yang sedang menceramahi suaminya panjang lebar. Seolah keinginan untuk melampiaskan kekesalannya sudah terwakili oleh sepupu yang sekarang menjadi asisten suaminya itu.
"Jangan dihabisin, Na. Gue belum sempat sarapan tadi,"
Kirana terkekeh. Bisa-bisanya Nabila mengingatkan dia yang sedang asyik makan di sela omelannya pada Tristan.
"Kata Bi Elis, ikan gabusnya buat Abang." ujar Nabila lagi.
Kirana membuka satu box lagi yang belum sempat dibukanya. Kirana meneguk saliva melihat sup ikan gabus di dalam kotak. Dia melirik Tristan yang tengah menatapnya.
Kirana tidak tahu apa yang ada di kepala suaminya. Sejak tadi seolah tidak jemu mengamatinya.
"Mas! Minta sedikit, ya?" pinta Kirana dengan wajah mengiba. Harga dirinya jatuh seketika hanya karena makanan yang menggoda lidahnya.
__ADS_1
"Buat kamu saja semua," sahut Tristan.
"Serius?!" Wajah Kirana mendadak berbinar. "Tapi kata Bi Elis ini buat kamu."
"Mas nggak suka ikan dimasak kuah. Mau yang goreng saja."
Kirana mengerutkan dahi. Sepertinya Tristan sedang berbohong. Karena saat tengah malam Tristan mengambil sop ikan karena permintaannya, dia hanya memakan dua potong. Sisanya habis oleh suaminya.
Namun Kirana tidak peduli. Bi Elis hanya membawakan sedikit. Untuknya sendiri pun akan habis. Masa bodoh dengan Tristan. Besok-besok masih bisa minta untuk dimasakkan.
"Kamu nggak makan berapa hari sih, Na? Lahap banget!" Nabila mengomentari gaya makan Kirana.
"Namanya makan buat dua orang, Bil. Nanti kalau kamu hamil bakal ngerasain sendiri."
Jawaban Kirana membuat Tristan terbahak. "Lo daripada jadi perawan tua mending sama Daniel aja, Bil," selorohnya. "Biar cepat berkembang biak," imbuhnya.
"Gue sama Daniel?! Ada nggak temen lo yang lebih brengsek dari dia?"
"Emang Mas Daniel brengsek?" Kirana menimpali.
"Aduh, Na! Gue kasih tahu, ya. Temen laki lo itu semua brengsek. Dia doang yang agak lempeng." Nabila menunjuk Tristan yang terbaring di atas bed dengan dagunya.
"Pantes!" gumam Kirana pelan.
Nabila tertawa melihat Kirana percaya begitu saja ucapannya. Perempuan itu pun mengambil satu kotak bekal yang masih utuh lalu memasukkannya ke dalam tas. Waktunya sudah terlalu mepet untuk sarapan di rumah sakit. Dia sudah terlambat masuk ke kantor. Sejak hari ini dia harus menghandle semua pekerjaan Tristan sampai sepupunya itu bisa kembali masuk ke ke kantor.
"Gue duluan, Na! Bang!" pamitnya sebelum pergi.
"Hati-hati, Bil!" sahut Kirana. Sementara Tristan menjawab dengan deheman.
Suasana kamar kembali hening. Kirana mengemasi kotak makanan yang sudah kosong. Lalu memasukkannya ke dalam tas.
Perut kenyangnya membuat rasa kantuk menyerang. Kirana menutup mulutnya saat tiba-tiba menguap.
"Na! Sini, deh!" panggil Tristan.
"Nggak! Aku malas dekat sama kamu!"
__ADS_1
Kirana beranjak dari sofa lalu naik ke bed yang kosong. Dia mengambil gawainya sebelum kantuk itu benar-benar membawanya ke alam mimpi. Benda yang sejak semalam diabaikannya. Setelah ebalas beberaoa pesan yang masuk, dia menghabiskan waktu dengan berselancar di situs berita online.
"Astaghfirullah!" Kirana terperanjat saat membaca sebuah berita di media sosial.