
"Lain kali lebih berhati-hati Pak Tristan, jangan sampai terjatuh lagi," pesan Dokter Ardi sebelum meninggalkan pasiennya.
Tristan mengangguk mengiyakan. Dai harus berbohong baru saja terjatuh saat dokternya bertanya mengenai luka di kakinya.
Setelah mengantar Dokter yang baru saja memeriksa suaminya, Kirana kembali masuk ke dalam. Hari ini visit dokter untuk terakhir kali. Karena selanjutnya Tristan hanya perlu kontrol untuk memeriksakan perkembangan tulangnya. Namun pria itu justru berulah. Untunglah masih tidak terjadi hal yang mengkhawatirkan.
"Kamu nggak jadi ke dokter kandungan?"tanya Tristan karena Kirana pulang lebih awal.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Tadi ada jalangmu lagi periksa juga. Makanya aku batal periksa hari ini," jawab Kirana tanpa beban meski dia sadar tengah berucap kasar.
"Na, harus berapa kali saya bilang kalau …"
"Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu dan anak yang dikandungnya bukan anakmu?" potong Kirana. Lalu dia masuk ke dalam kamar.
Rencana untuk memeriksa kandungannya hari ini dibatalkannya setelah tadi dia melihat Silvia sedang mengantri di kursi tunggu. Kirana sempat heran, bukannya beberapa hari yang lalu perempuan itu mengajak Mentari memeriksa kandungannya.
Mungkin selanjutnya Kirana akan memeriksakan kandungannya ke dokter yang lain. Untuk menghindari kemungkinan bertemu dengan Silvia lagi.
Kirana bukannya takut. Hanya saja dia enggan bersitatap dengan perempuan itu. Dia sudah bertekad, tidak akan ambil pusing dengan apa pun yang dilakukan Silvia dan Tristan. Tetapi dia tetap ingin menjaga kewarasannya. Dan akan lebih baik untuk tidak pernah bertatap muka lagi dengan Silvia.
"Na!" Suara Tristan terdengar dari luar pintu. Kirana yang baru saja melepas kerudungnya meninggalkan meja rias untuk membukakan pintu.
"Ada apa, Mas?"
"Boleh masuk?"
Kirana membuka pintu lebih lebar lagi tanpa berbicara. Memberi jalan agar kursi roda Tristan bisa masuk ke dalam kamarnya.
Dia menutup pintu kembali. Lalu membuka pakaiannya tanpa mempedulikan Tristan yang mendadak sakit kepala karena menahan diri untuk tidak menyentuh Kirana. Jangankan meminta hak, melihat ekspresi wajah Kirana yang selalu datar saja dia segan. Tristan hanya mampu menelan saliva melihat Kirana dalam balutan pakaian dalam.
Dia rindu mengusap perut istrinya, merasakan gerakan makhluk kecil di dalam perut Kirana. Ah,kenapa dia mendadak menjadi pria pecundang. Nyalinya terlalu ciut untuk mendekati istrinya.
"N-Na!" panggil Tristan pelan.
__ADS_1
Kirana berdehem seraya mengenakan dasternya. Daster seksi yang dibeli oleh Tristan. Bentuk tubuh Kirana tampak jelas berbalut kain tipis warna pink itu.
"Apa yang harus saya lakukan agar bisa mendapatkan senyummu kembali?"
Kirana seketika menoleh seraya mengibas rambut panjangnya yang baru saja terbebas dari ikat rambut.
"Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan Mas. Saya tidak akan meminta kamu melakukan ini itu untuk menyenangkan hati saya." Jawaban Kirana seolah mencubit hatinya. Tristan bukan orang bodoh yang tidak tahu makna jika istrinya tidak peduli apa pun yang akan dia lakukan.
"Kamu … benar-benar tidak bisa memaafkan saya?"
Kirana membuang nafas pelan. "Apa harus saya ulangi? Saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf. Jelas, bukan?"sahut Kirana sembari menyisir rambutnya. Menggelungnya lalu mengunci gelungan rambut itu dengan sebuah stick.
"Aku mau masak. Kamu mau makan siang sama apa?"
Tristan menggelengkan kepala sebagai jawaban. Kirana sampai kehabisan cara agar selera makan suaminya membaik.setiap hari Tristan hanya makan sangat sedikit. Itu pun tidak teratur. Setiap hari Bi Elis memasak menu kesukaan Tristan. Namun tetap saja Tristan hanya mencicipi sedikit saja.
Dan hari ini Bi Elis sedang libur untuk tiga hari ke depan. Menjenguk anaknya yang baru saja melahirkan di kampung. Maka Kirana akan menyiapkan sendiri makan siang untuk mereka.
"Saya ingin menyapa anak kita. Boleh?" tanya Tristan dengan ragu.
"Tentu saja. Ini anak kamu, mana mungkin saya melarang kamu berinteraksi dengannya."
Bibir Kirana melengkung ke atas. Dia selalu merasa terharu setiap kali merasakan pergerakan di perutnya. Janinnya tumbuh dengan sehat. Usianya sudah memasuki bulan ke lima. Dan gerakannya semakin aktif setiap hari.
"Dia sangat aktif," gumam Tristan. Dia menempelkan kepalanya ke perut istrinya.
Kirana menghirup nafas dalam-dalam. Mengusir kegugupan yang pasti akan terasa oleh Tristan melalui detak jantungnya.
"Mas, aku capek," keluh Kirana karena Tristan justru semakin erat mendekap perutnya.
"Ya sudah, duduk saja. Tidak usah masak"
Bukan itu yang dimau oleh Kirana. Dia ingin Tristan melepaskan dirinya. Lalu dia akan keluar dari kamar itu.
Namun Tristan justru memintanya untuk tetap di kamar. Merebahkan diri di atas ranjang bersama suaminya. Meski sebenarnya enggan, Kirana tetap patuh permintaan suaminya. Lagi-lagi dengan alasan anak agar Kirana tidak bisa menghindar.
Di atas tempat tidur, Tristan merasa lebih leluasa. Mengusap perut Kirana, mengajaknya bayinya bercengkerama meski reaksi yang diterimanya hanya gerakan-gerakan kecil calon anaknya. Hal itu mampu membuatnya tersenyum lebar.
__ADS_1
Tatapan Tristan kini bukan lagi fokus pada perut Kirana. Melainkan pada mata bulat yang mencoba menghindar saat Tristan menatapnya lekat. Meyakinkan bahwa Kirana telah merasa kembali nyaman berada di dekatnya.
"Saya rindu kamu, Kirana." Ucapan Tristan membuat Kirana menarik sudut bibirnya.
"Kamu aneh, Mas," sahut Kirana pura-pura bodoh.
Setiap hari mereka bertemu. Bahkan Kirana juga mengurus semua keperluan Tristan. Mereka akan terpisah saat kembali ke kamar masing-masing. Tentu saja Kirana tahu, rindu seperti apa yang dirasakan Tristan.
Mendadak Kirana gugup saat wajah Tristan sudah berjarak beberapa inchi saja dari wajahnya.
"M-Mas, aku harus ke dapur. Aku harus masak."
Kirana beringsut ke tepi ranjang. Namun Tristan menahan lengannya.
"Tidak usah masak. Delivery saja. Mama punya langganan katering."
Kirana memutar otak. Mencari cara agar dia bisa menghindar dari Tristan. Sebelum suaminya itu tahu, jantungnya tengah berdegup sangat kencang.
"Apa kamu tidak akan memberi kesempatan saya untuk menebus semua kesalahan saya, Kirana? Apa semua yang telah kamu ketahui tidak cukup untuk meyakinkan bahwa saya tidak pernah mengkhianati kamu?"
"Tolong jangan bahas itu lagi," sahut Kirana.
"Saya tidak akan berhenti meyakinkan selagi kamu masih saja menudingku mengkhianati kamu."
Kirana membuang nafas kasar. Dia kembali mengangkat kakinya ke atas tempat tidur. Mungkin sudah saatnya berbicara dengan kepala dingin. Semua tidak akan pernah selesai jika terus saja menghindar.
"Entahlah, Mas. Seberapapun kamu meyakinkan, aku masih saja sulit untuk percaya sama kamu," ujar Kirana pelan.
Tristan memintanya mendekat. Kirana tidak lagi menolak saat suaminya mendekapnya. Bahkan dia tak lagi ragu menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Kamu tahu Kirana, saya bukan orang yang mudah meletakkan hati pada wanita. Apalagi singgah dari wanita satu ke wanita lain," ungkap Tristan sambil mengusap rambut Kirana.
"Saya mungkin tidak seperti yang kamu inginkan. Saya terlalu banyak kekurangan. Karenanya, saya ingin kamu melengkapi hidup saya Kirana. Bantu saya untuk menjadi suami yang baik untuk kamu. Dan ayah yang baik untuk Mentari dan calon anak-anak kita nantinya."
Meski ucapan itu terdengar tulus, namun Kirana terlalu sulit untuk merasa yakin.
"Beri saya waktu untuk meyakinkan diri saya, Mas," jawab Kirana akhirnya.
__ADS_1
"Apa yang membuat kamu tidak yakin?"
Kirana menggeleng. Karena semua keraguannya hanya berdasar prasangka.