Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
15. Semua Gara-gara Kirana


__ADS_3

Tubuh mungil Mentari mengkerut. Meski Tristan menyerukan namanya bukan karena marah. Akan tetapi karena terkejut dan rasa khawatir yang berlebihan membuat pria itu tidak mampu menahan suaranya lebih rendah.


"Maaf, Pa!" Mentari masih menunduk ketakutan.


Pecahan gelas dan tumpahan cairan putih memenuhi lantai dapur. Tristan menarik tangan kecil itu menyingkir perlahan. Dia takut Mentari terluka lagi. Setelah luka karena kejadian beberapa hari yang lalu telah kering, dia tidak akan membiarkan sakit itu mendera putrinya lagi.


Semua ini lagi-lagi karena Kirana. Andai saja dia ada di rumah itu, Mentari pasti tidak akan merengek padanya untuk meminta dibuatkan susu. Tidak akan keluyuran di dapur untuk membuat susu sendiri yang justru berakhir dengan lantai yang kotor dan menambah pekerjaan Tristan karena dia harus membersihkannya.


"Tunggu di kamar. Papa buatkan susu untuk Mentari."


Anggukan kecil masih dengan rasa ketakutan. Disusul langkah Mentari meninggalkan dapur.


Tristan mengambil gelas untuk membuatkan susu. Jam tidur siang Mentari memang sudah diatur oleh Kirana. Dan minum susu adalah keharusan sejak Mentari masih merah. Seolah menjadi candu yang sulit untuk dilepas. Bahkan Tristan terpaksa membuang semua botol susu saat Mentari masih saja tidak mau lepas dari benda itu setahun lalu.


Segelas susu diantarkannya ke kamar Mentari. Anak itu masih terdiam ketakutan saat menerima gelas dari tangan papanya. Hingga usapan pelan di kepalanya sedikit membuatnya tenang. Merasa jika ayahnya tidak lagi menjadi sosok yang mengerikan.


"Ganti baju dulu, ya!" ujar Tristan sesaat setelah gelas di tangan Mentari kosong.


Dress Mentari basah oleh tumpahan air susu. Tristan pun membuka lemari bergambar kucing cantik untuk mengambil baju ganti.


"Baju-bajunya ke mana? DI rumah Oma?" tanya Tristan melihat tumpukan baju di lemari Mentari sudah sangat tipis.


"Bajunya kotor, Pa."


Pria itu pun menyeret langkah ke dapur usai mengganti baju putrinya. Pecahan gelas dan tumpahan air susu harus segera dibersihkan sebelum melukai orang.


Sepeninggalan Kirana, rutinitasnya akan kembali seperti semula. Mengurus semua pekerjaan rumah.


Kirana memang keras kepala. Selalu membantah saat Tristan melarang untuk mengurus keperluannya. Termasuk mengurus baju kotornya. Namun lambat laun Tristan membiarkannya. Dia tak lagi mau tahu apa saja yang dilakukan Kirana. Yang dia tahu, baju bersihnya selalu tersedia di lemari. Meski begitu, Tristan masih menyangkal jika keberadaan Kirana sedikit banyak membuatnya bergantung pada istrinya itu


Dalam hati Tristan mengumpat orang yang bahkan dia tidak tahu di mana saat ini. Mentari belum kembali ke sekolah sejak mengalami kecelakaan. Jika ucapan ibunya mamanya benar, lalu ke mana perginya Kirana? Tristan meremas rambutnya. Untuk apa memikirkan dia, pikirnya dengan kesal pada dirinya sendiri.


Tristan memungut baju kotor yang tercecer di dekat mesin karena keranjangnya tidak mampu menampung lagi. Dimasukkannya semua ke dalam sebuah tas besar. Lalu menghubungi laundry langganannya untuk menjemput.


"Pa, Mentari lapar." Mentari menggelendot papanya yang tengah duduk di sofa


Tristan hampir lupa jika sejak pagi perut Mentari belum terisi karena insiden pagi tadi. Dia pun kembali beranjak dari sofa untuk memasak. Namun niatnya memasak harus diurungkan. Lemari pendingin kosong. Sepertinya Kirana belum sempat belanja. Hanya ada beberapa telur dan sisa sayuran yang mulai mengering. Tristan menutup pintu kulkas dengan keras. Dia kembali mengumpat istrinya. Seolah semua hal yang membuatnya kesal Kirana lah penyebabnya.

__ADS_1


"Mentari mau makan ayam goreng?" tanyanya setelah berpikir sebentar.


"Mau. Tapi makan di sana, ya. Mentari mau main juga."


"Habis makan, belanja terus pulang. Papa sedang banyak pekerjaan," jawab Tristan dengan tegas. Dia kembali kesal karena kebiasaan Kirana yang selalu mengajak Mentari belanja sekaligus melipir ke wahana bermain setiap akhir pekan.


"Yaah! Tapi Mentari mau main."


Tristan kembali menolak permintaan Mentari dengan pilihan akan delivery order jika Mentari tetap memaksa bermain setelah makan. Anak kecil itu pun menurut meski harus menahan kecewa.


"Pakai motor Bunda ya, Pa."


Tristan mendesah kasar. Ada-ada saja permintaan Mentari. Dia pun mengambil motor matic putih yang teronggok di garasi. Motor yang beberapa hari lalu diantar oleh pekerja bengkel atas rekomendasi Daniel. Tristan pun mendapat informasi tentang kecelakaan yang terjadi pada Kirana dan Mentari beberapa hari lalu dari Daniel. Awalnya Daniel hanya ingin memastikan jika anak kecil yang ditolong itu Mentari atau bukan. Karena Kirana mengakui Mentari sebagai anaknya. Hal itu membuat Daniel ragu jika anak kecil itu anak Tristan. Terlebih dia baru beberapa kali bertemu Mentari.


"Enak kan Pa, naik motor Bunda?"


Tristan berdehem menjawab cicitan Mentari. Dia melajukan motor dengan pelan. Karena Mentari berdiri di depan tanpa pengaman. Dia sengaja mengajak Mentari ke outlet ayam goreng kenamaan yang terdapat di salah satu pusat perbelanjaan yang terdekat. Banyak stok kebutuhan dapur yang sudah habis.


Tristan meminta mentari duduk emnunggu semntara dia mengantri. Satu nampan berisi dua paket ayam goreng dibawanya setelah membayar. Makanan yang paling digemari oleh Mentari. Hingga menu itu hampir setiap hari dimasak oleh Kirana. Ah, Kirana lagi! Tristan merasa ada yang salah dengan otaknya.


Dengan senang hati Tristan memisahkan kulit dan daging ayam dan memindahkannya ke piring Mentari.


"Nanti pulangnya beli lagi ya Pa. Buat di rumah."


Tristan pun mengiyakan. Dia sungguh heran dengan Mentari yang tidak bosan makan dengan ayam goreng.


Keduanya serempak mendongak saat melihat sebuah nampan singgah di meja mereka. Perempuan dengan celana jins dan kemeja longgar terlihat melempar senyum.


"Makan di sini juga, Sil?" tanya Tristan melihat siapa yang baru saja meletakkan nampan.


"Iya. Sekalian belanja. Apa kabar ponakan, Onty?" Silvia mendaratkan bibirnya di pipi Mentari.


"Baik, Onty," jawab Mentari acuh dan tetap sibuk dengan ayam gorengnya.


Silvia pun mendadak keki. Entah kenapa keponakan satu-satunya itu terlihat tidak menyukainya. Apalagi ketika dia mendekati Tristan. Mentari akan marah dan berbicara ketus padanya. Meski Silvia sudah berusaha mendekat. Membawakan mainan atau baju-baju setiap kali datang, tapi Mentari tetap saja enggan dekat-dekat dengannya. Silvia pun memang tidak terlalu pandai mengambil hati anak-anak. Karena dia memang tidak sesabar kakaknya.


Setelah selesai makan, Tristan mengajak Mentari masuk supermarket. Begitu juga dengan Silvia karena dia pun memiliki tujuan yang sama. Masing-masing mendorong troli beriringan.

__ADS_1


"Istrimu mana, Mas? Kok belanja sendiri?"


"Bukan urusan kamu!"


Silvia terperangah mendengar jawaban Tristan yang tidak hanya suaranya saja yang ketus. Namun wajahnya juga masam.


"Nggak enak nggak Bapak sama," gumamnya sambil terus membuntuti Tristan. Ke mana saja pria itu menjalankan trolinya.


Dua kantong besar penuh belanjaan jauh dari ekspektasi Tristan. Mentari meminta banyak macam buah dan sayur. Dan juga makanan kering. Sehingga dia kewalahan saat harus membawanya dengan motor karena ada Mentari juga.


"Pakai motor, Mas?" tanya Silvia melihat Tristan menuju ke tempat parkir motor.


"Bisa nggak? Kalau nggak bisa, Mentari biar sama aku aja. Takut jatuh."


Mengingat hal yang belum lama menimpa Mentari Tristan pun menyetujui tawaran Silvia. Dia meminta Mentari pulang bersama Silvia meski harus dengan bujuk rayu yang cukup lama. Dan anak itu pun akhirnya menurut untuk pulang menumpang mobil tantenya. Tristan juga menitipkan barang belanjaannya ke bagasi mobil Siilvia.


Tak sampai sepuluh menit, mereka sudah tiba di rumah hampir bersamaan.Tristan pun menurunkan semua tas belanjanya dari bagasi mobil Silvia.


"Sepi, Mas. Istrimu ke mana?" Silvia mengulang pertanyaan yang sama saat melihat siapa pun yang menyambut mereka.


"Kamu nggak usah bawel bisa nggak sih, Sil?!" sahut Tristan dengan suara tegas seraya meletakkan kantong belanja di dapur.


Ketidakberadaan Kirana tentu saja hal yang membuat Silvia senang. Dia bisa kembali leluasa di rumah itu tanpa ada yang menegurnya.


"Mentari mau es jeruk, nggak?" tanyanya sambil menuang air jeruk ke dalam gelas.


"Nggak. Mentari capek, mau tidur," sahut Mentari sambil membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali. Sejak di mobil tadi dia memang sudah kesulitan menahan mata untuk tetap terbuka.


"Ya udah buat kamu aja, Mas." Silvia mengulurkan gelas itu dan Tristan yang kehausan pun menyambutnya. Dalam sekejap dia menandaskan isi gelas itu.


"Mas …" Tristan yang sedang menata belanjaan le dalam lemari menoleh saat mendengar suara Silvia yang terdengar begitu seksi. Sepertinya otaknya memang sedang benar-benar mengalami masalah.


"Apa kamu tidak ingin mengulang yang tertunda kemarin?" ujar Silvia setengah berbisik.


"Maksudmu apa?" sahut Tristan datar.


Silvia tanpa canggung melingkarkan lengannya di pinggang Tristan. Laki-laki normal pasti akan tergoda dengan perlakuan Silvia. Dan Tristan pun tak mengelak jika sesuatu tengah bergejolak dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2