Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
75. Hubungan yang rumit


__ADS_3

Hapus air matamu!"


Nabila sontak menoleh. Dia nyaris tak percaya jika yang tengah berdiri di sampingnya sambil mengulurkan tisu adalah Daniel. Baru beberapa menit yang lalu Nabila melihat Daniel bersama seorang perempuan keluar dari kafe itu.


"Sorry." Daniel menyeka sudut mata Nabila karena perempuan itu tak kunjung menyambut tisu dari tangannya.


Keduanya sejak lama memiliki perasaan yang sama. Bahkan sejak Nabila masih duduk dibangku sekolah menengah. Mereka pernah menjalin hubungan beberapa bulan. Namun menyadari jika mereka tidak mungkin bersatu, Nabila memilih untuk mengakhiri.


Sekian tahun berpisah antara Jakarta dan Perth nyatanya tak mampu membuat Nabila benar-benar melupakan Daniel. Nabila tidak pernah bisa mengisi hatinya dengan pria lain. Daniel yang pertama dan belum ada yang bisa menggeser nama lelaki itu dari hatinya.


"Dia Bianca. Teman dekat," ujar Daniel menebak isi kepala Nabila.


Senyum hambar melengkung di bibir Nabila. "Cantik. Kapan mau official?"


Daniel terdiam. Dia ingin Nabila marah. Dia ingin Nabila cemburu. Bukan bersikap seolah-olah tenang seperti yang terlihat sekarang.


"Kamu cemburu kan, Bil?"


Nabila terkekeh. "Untuk apa? Kamu bebas kok mau jalan sama siapa saja."


Untuk ke sekian kalinya Nabila membohongi dirinya sendiri. Meski dia sudah menegaskan hubungan mereka hanya akan berteman untuk selamanya, dia tak memungkiri jika dia tercubit saat melihat Daniel jalan dengan perempuan lain. Namun dia berusaha untuk menepisnya. Meski tetap saja gagal.


"Air matamu nggak bisa bohong." Daniel ingin Nabila mengakui perasaannya


"Kamu terlalu percaya diri. Aku tadi kelilipan."


Daniel membuang nafas kasar. Ditatapnya wanita berambut keemasan yang tengah menyesap minuman pesanannya.

__ADS_1


Cantik meski selalu berpenampilan apa adanya. Wajahnya hanya akan tersentuh make u saat datang ke kantor, itu pun tipis. Sayang Daniel hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki.


Daniel bisa mendapatkan puluhan wanita cantik, namun hatinya kadung tertambat pada orang yang pertama mengambil hatinya. Puluhan kali dia mengganti sosok Nabila dengan perempuan lain, namun nyatanya Nabila saja,Nabila lagi dan selalu Nabila yang ada dalam pikirannya.


"Kita nikah yuk, Bil!'


Nabila justru mengerutkan dahi mendengar ucapan Daniel. "Kamu lagi ngajak nikah apa ngajak makan, Dan?" sahutnya kemudian.


"Aku serius, Bil," balas Daniel. "Aku capek terus-terusan bohong sama diri sendiri. Aku tahu kamu juga sama. Aku ingin kita menikah, tinggal bersama, punya anak-anak yang lucu-lucu dan menghabiskan sisa usiaku bersama kamu. Cuma itu tujuan hidupku."


Nabila tercekat. Lidahnya kelu melihat keseriusan di wajah Daniel mengungkapkan keinginannya. Impian sederhana yang tidak mungkin bisa terwujud.


Nabila tersentak saat tiba-tiba Daniel menggenggam jemarinya.


"Bil! Mau kan kamu menikah denganku?"


"Maaf, Dan. Aku nggak bisa," sahut Nabila dengan berat.


"Aku tahu kita beda. Kita bisa menikah di luar, Bil."


Nabila melepaskan genggaman tangan Daniel seraya menggeleng.


Apa yang diucapkan Daniel bisa saja dilakukannya. Tapi dia tidak ingin buta hati. Banyak hal yang harus menjadi pertimbangan selain mementingkan ego. Nabila lahir dari orang tua yang religius terutama papanya. Begitu juga dengan Daniel. Bukan hanya keluarganya, keluarga Daniel pun akan menentang jika mereka memaksa untuk bersatu.


"Kita jalan masing-masing saja, Dan," putus Nabila.


Daniel menggeleng. "Aku sudah mencobanya berkali-kali. Aku tetap butuh kamu, Bil."

__ADS_1


Nabila menghirup nafas dalam-dalam apa yang dirasakan Daniel juga dirasakannya. Sesakit itu jika cinta tidak bisa disatukan.


"Aku harus kembali ke kantor!" Nabila meraih tas dan handphonenya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Sepanjang jalan menuju ke kantor, Nabila tak bisa menghentikan titik-titik bening yang membanjiri kedua pipinya. Hingga akhirnya dia menghentikan mobilnya di tepi jalan karena kehilangan konsentrasi dalam.menyetir.


Lembaran demi lembaran tisu telah basah oleh air matanya. Dia kembali menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kencang.


Dia terpaksa mengenakan masker saat masuk kembali ke kantor. Mata yang sembab dan merah tentu akan menjadi pusat perhatian. Namun dia tetap saja tak bisa lolos dari pengamatan Tristan yang kebetulan satu lift dengannya. Meski sudah memalingkan wajah, Tristan justru semakin curiga.


"Ikut gue!" kata pria itu saat Nabila hendak ke mejanya.


Nabila pun mengekor. Masuk ke dalam.ruangan sepupu sekaligus bosnya itu.


"Lo kenapa?" tanya Tristan lalu meminta Nabila melepas maskernya.


Tangis Nabila kembali pecah. Tristan mengulurkan tangan memintanya mendekat. Nabila pun menghambur ka arah Tristan.


"Berantem lagi sama Daniel?"


Nabila menggeleng dalam.dekapan Tristan.


"Lalu?"


"Daniel…. Daniel ngelamar gue," sahut Nabila sambil terisak.


Tristan mendesah kasar. Dia pun pusing jika dihadapkan rumitnya kisah percintaan teman dan adik sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2