Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
32. Terbongkar


__ADS_3

"Sejauh mana hubungan kalian yang tidak Mama ketahui?" Bu Ratih bertanya dengan wajah dingin menatap tajam ke arah putranya yang duduk di tepi ranjang.


"Nggak ada, Ma. Dia adik ipar dan juga sekretaris Tristan."


"Mau berkelit? Lalu bagaimana dengan bekas merah di leher dan badan kamu? Kamu baru saja menghabiskan malam dengan dia?!" tanya Bu Ratih. Kilat amarah jelas sekali tampak di wajah wanita itu.


Tristan tertegun. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Kepanikan membuatnya tidak sempat merapikan diri. Dan kaos singlet yang dia kenakan menampakkan semua bagian atas tubuhnya.


"Mama tidak habis pikir dengan kamu. Mama sudah memilihkan wanita baik-baik untuk menjadi istri kamu, tapi kamu justru memilih perempuan murahan."


"Ma! Silvia tidak seburuk yang Mama tudingkan!" sambar Tristan.


"Berani kamu meninggikan suaramu di depan Mama?! Menurutmu perempuan yang menyodorkan tubuhnya pada lak-laki yang bukan siapa-siapnya masih bisa disebut memiliki harga diri? Dengar Tristan, dulu kamu boleh mengistimewakan Elita karena dia istrimu dan patut untuk diperlakukan istimewa.Tapi tidak dengan adiknya. Sudah cukup kamu membiayai hidupnya sampai lulus kuliah,, memberinya pekerjaan dengan semua fasilitas istimewa di luar gajinya. Tetapi dia masih ngelunjak dengan tidak tahu diri ingin menggantikan posisi kakaknya." Bu Ratih masih menatap sinis putranya yang kini menunduk.


" Sekarang Mama tahu kenapa kamu enggan untuk memindahkan dia ke bagian lain. Jangan salahkan Mama jika besok dia akan menerima surat pemecatan."


"Atas dasar apa, Ma? Selama ini Silvia bekerja dengan baik. Mama tidak bisa memecat karyawan dengan alasan yang tidak jelas," bantah Tristan


"Kamu masih membela dia? Baik, tidak hanya dia yang akan menerima surat pemecatan. Tapi kamu akan Mama tarik dari perusahaan. Silahkan hidupi dia dengan uang dari usahamu sendiri. Mama tidak rela uang dari perusahaan yang susah payah oleh papamu dimanfaatkan untuk menghidupi orang tidak tahu diri seperti dia. Mama akan alihkan semua aset-aset keluarga atas nama anak-anak kamu. Kamu benar-benar telah membuat Mama kecewa, Tristan." tegas Bu Ratih. Wanita itu pun meninggalkan kamar anaknya dengan perasaan amat kecewa.


Sementara Tristan masih termenung di tempatnya. Merenungi ucapan mamanya. Dia masih berkilah jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kekeliruan. Membiayai hidup Silvia selama dia belum bekerja dia pikir hal yang wajar. Dia hanya ingin meringankan beban Elita menghidupi adiknya. Lalu apa salahnya memberi dia pekerjaan? Silvia bekerja dengan baik. Pekerjaannya nyaris sempurna meski tingkahnya terkadang dii luar batas. Tapi selama Tristan bisa mengendalikannya apa yang perlu dipermasalahkan?


Lalu anak-anak? Pikiran Tristab pun melanglang ke kampung halaman Kirana. Ada sesuatu yang tengah disembunyikan mamanya.


Tristan menyeret langkah ke kamar mandi setelah Mentari meneriakinya. Sudah cukup lama dia tidak mengajak anaknya bermain. Mentari pasti akan menagih janjinya hingga sepagi itu sudah tiba di rumah.


"Papa! Ayo cepetan!" Teriakan Mentari kembali terdengar. Tapi bukan di lantai bawah. Melainkan di depan kamar. Tristan yang sedang berganti pakaian pun menyahut mengiyakan.


Setibanya di bawah, Tristan tidak menemukan mamanya. Mentari bilang omanya sudah pulang setelah menemui Onty Sisil.


Sementara Silvia terlihat sedang berada di dapur. Sibuk di depan kompor. Dengan pakaian yang masih sama. Baju malam dengan tali menggantung di bahu.


Ada banyak hal yang harus dibicarakan dengan Silvia. Namun saatnya sedang tidak tepat.

__ADS_1


"Minum tehnya dulu, Mas." ujar Silvia seolah tidak pernah terjadi sesuatu.


Tristan menerima cangkir berisi teh hangat yang diulurkan Silvia. Benda cair itu bahkan terasa sulit untuk ditelan. Tristan meneguknya sedikit lalu meletakkan cangkir ke atas meja makan.


"Saya mau antar Mentari bermain." ujarnya.


"Mentari mau ditemani Onty, nggak?"


"Nggak usah. Tadi kan Onty disuruh Oma pulang. Kenapa masih di sini?"


"Mentari! Bersikap sopan sama Onty Sisil!" hardik Tristan dan membuat Mentari terdiam.


Tristan mendekap Mentari yang berkaca-kaca menatapnya. Rasa penyesalan pun menyusup. Dia benar-benar kacau pagi ini. Masalah sedang berbondong-bondong menghampirinya.


Lelaki itu meninggalkan meja makan untuk mencari kunci mobil di kamar tamu. Menelisik seluruh isi ruangan hingga ke bawah bantal namun benda yang dicarinya tidak ditemukan.


******* kasar pun terdengar. Otaknya terlalu lamban berputar. Tristan tidak mampu mengingat di mana dia terakhir kali meletakkan kunci. Akhirnya dia memutuskan mengambil kunci motor lalu mengajak Mentari berangkat. Mengabaikan Silvia yang masih berkutat di dapur.


"Papa jahat!"


Tristan melihat bibir Mentari yang masih mengerucut dari kaca spion.


"Papa minta maaf, ya. Tapi Mentari nggak boleh ulangi lagi. Sama orang tua itu harus hormat."


Mentari tetap saja diam. Satu-satunya cara membujuknya adalah segera melajukan motor.


Seolah lupa dengan kemarahannya, Mentari kembali berceloteh sepanjang jalan. Bercerita banyak hal. Termasuk kunjungannya ke rumah Kirana yang selama ini tidak diketahui oleh Tristan. Meski tersamarkan oleh suara kendaraan, telinga Tristan masih dapat menangkap dengan jelas cerita Mentari.


Anak itu baru berhenti bicara saat mereka sampai di mall. Mereka menuju ke lantai tiga karena tujuan Tristan hanya mengajak Mentari bermain.


"Pa, besok kalau adik bayi sudah lahir diajak ke sini ya. Mentari bosan kalau main sendiri."


Sepertinya ada yang dilewatkan Tristan dari kisah kunjungan Mentari ke kampung halaman Kirana tadi.

__ADS_1


"Adik bayi siapa?" tanya Tristan.


"Adik bayinya Bunda. Kan Bunda mau punya adik bayi. Kemarin Bunda sakit perut, nangis. Terus dibawa ke rumah sakit. Tapi adik bayinya nggak jadi lahir. Kata Oma masih lama lahirnya."


Tenggorokan Tristan terasa tercekat. Dia menangkap maksud ucapan ibunya tadi. Kirana hamil. Ya, tidak salah lagi. Entah dia harus bahagia atau marah. Dia orang yang paling berhak tahu tentang kehamilan Kirana. Namun tidak ada satu orang pun yang memberitahunya. Begitu tidak pantaskah dia menjadi ayah dari anak yang dikandung Kirana, hingga statusnya seolah diabaikan.


"Pa! Ada Kakak Alea!" Teriakan Mentari membuat pikiran Tristan buyar.


Dari kejauhan, gadis kecil sepantaran Mentari berlari ke arah mereka. Diikuti wanita yang berjalan tergopoh-hopih mengejar langkah anaknya.


"Mana nih mama barunya nggak diajak?" gurau Diana.


Tristan tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Diana. Kabar pernikahannya sampai juga ke telinga sahabat Elita itu Entah dari siapa. Hanya ada dua kemungkinan orang, Mentari atau mamanya. Atau dari Alea. Karena kedua anak yang sedang bermain trampolin itu satu sekolah.


"Tapi Miss Nana nggak pernah kelihatan lagi di sekolah. Katanya resign. Benar begitu?"


Tristan terpaksa mengangguk. Meski dia tidak tahu kebenarannya. Hanya saja mengingat Kirana terlalu lama meninggalkan sekolah, mungkin tebakannya benar.


"Wah, sayang sekali. Padahal dia sangat disukai anak-anak. Mereka pasti merasa kehilangan."


Lagi-lagi Tristan hanya tersenyum tipis mendengar ungkapan Diana.


Menunggu Mentari bermain terasa begitu lama. Berulang Kali Tristan melongok jam di tangannya. Setengah jam sudah berlalu. Padahal Mentari bisa menghabiskan dua jam untuk menjelajah semua permainan. Apalagi jika sudah bersama temannya. Bisa jadi akan lebih lama lagi.


"Kenapa, Tan? Kamu ada perlu lain? Tinggal aja nggak papa. Nanti Mentari aku antar pulang "


"Nggak. Nggak usah, Di. Titip Mentari sebentar aja. Mau beli minum dulu."


"Oh. Ok!" sahut Diana mengangguk.


Membeli minum adalah sebagian dari dalih untuk menutupi kegusarannya. Karena sebenarnya dia ingin cepat-cepat pulang menemui mamanya untuk meminta penjelasan.


.

__ADS_1


__ADS_2