
Setelah melalui perdebatan dengan suaminya, Kirana akhirnya diperbolehkan untuk berbicara dengan Silvia. Dan di kafe yang ada di seberang sekolah Mentari, kini mereka tengah duduk berdua.
Kirana merasa harus berbicara dengan Silvia. Mengetahui siapa ayah dari janin yang ada dalam kandungan perempuan itu saja tidak cukup. Dia harus memastikan jika Silvia tidak akan pernah mengganggu kehidupannya dengan Tristan lagi.
Meski ketika di depan Tristan mengiba, namun ternyata Silvia bisa menatap dengan pongah saat berhadapan dengan Kirana.
"Setelah berhasil mengambil perhatian Mas Tristan sepenuhnya, sekarang kamu mencoba menjauhkan Mentari dari saya?" ujar Silvia dengan sinis.
"Hebat sekali kamu," lanjutnya.
Kirana pun membalas tak kalah sinis "Mas Tristan suami saya. Sudah sepatutnya saya mendapatkan perhatian darinya. Seharusnya kamu sadar siapa diri kamu."
"Tentu saja saya akan menjadi istrinya jika saja kamu tidak masuk ke dalam kehidupannya. Kamu benar-benar serakah. Bahkan anak dalam kandungan saya pun tidak bisa mendapat perhatian yang sama dengan anak kamu."
Tawa remeh Kirana pun kembali terdengar. "Sadarlah, Sil. Mas Tristan saja tidak mengakui jika itu anaknya. Dan kamu juga harus tahu kalau aku dan Mas Tris sudah tahu siapa ayah bayimu itu."
Terlihat wajah Silvia memucat. Kirana sebenarnya tidak tega dengan orang seperti Silvia yang rela melakukan apa pun demi ambisinya. Bahkan sampai mempermalukan dirinya sendiri.
"Saya di sini ingin bicara baik-baik depanmu, Sil. Bukan untuk saling memperebutkan Mas Tristan. Karena sudah jelas Mas Tris suami saya. Apa pun cara kamu, apa pun alasan kamu, posisi saya sudah lebih kuat dari pada kamu yang bukan siapa-siapa." ujar Kirana yang membuat Silvia kembali terdiam.
"Saya hanya ingin memberitahumu. Hentikan kekonyolanmu, Sil. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Buang egomu jika kamu benar-benar sayang pada anakmu. Biarkan dia tumbuh dalam kasih sayang ayah biologisnya. Apapun alasan kalian hingga akhirnya tumbuh janin dalam kandunganmu, pria itu sudah berniat baik untuk bertanggung jawab." Ucapan Kirana sontak membuat Silvia menatap ke arahnya.
"Kamu terlalu terobsesi dengan suami saya. Sampai membutakan hatimu." Kirana masih mendominasi pembicaraan. Dan Silvia seolah tidak berniat lagi mendebat Kirana.
"Pikirkan hak anakmu, Sil. Selagi ayahnya belum berubah pikiran."
Silvia menarik sudut bibirnya. "Kamu pikir saya akan membiarkan hidup saya menderita jika harus menyerahkan diri pada laki-laki sepertinya."
Kali ini Kirana yang terdiam. Jika harus memilih, Kirana pun pasti akan menolak laki-laki seperti Lucky. Yang katanya gemar mengobral cinta. Namun jika harus orang lain yang terkena getah dari perbuatan mereka, rasanya tidak adil. Apalagi jika orang itu adalah suaminya, Tristan.
Keheningan pun menyeruak di antara dua wanita itu. Hingga beberapa saat kemudian, seorang pria mendekati meja mereka.
"Sil!"
Kirana dan Silvia kompak menoleh.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Silvia dengan sinis pada Lucky.
"A-aku mencarimu ke mana-mana. Tapi …".
"Untuk apa? Bukannya kamu menolak untuk bertanggung jawab? Sekarang apalagi yang kamu mau?"
__ADS_1
"Aku minta maaf, Sil."
Kirana yang merasa tidak seharusnya berada di antara Silvia dan Lucky pun beranjak. Sepertinya permasalahan mereka tidak sesederhana yangKirana tahu. Ya, cerita dari satu pihak memang belum tentu sepenuhnya benar.
Dia pun meninggalkan dua orang itu untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Kirana!" Panggilan Lucky membuat Kirana menoleh.
"Thanks."
Kirana pun tersenyum mengangguk menanggapi ucapan Lucky. Entah terima kasih untuk apa. Karena dia merasa tidak berbuat apa-apa untuk teman suaminya itu.
Sepeninggalan Kirana, kedua orang itu masih terdiam. Lucky, lelaki buaya darat yang terbiasa mengobral mulut manisnya nyatanya hanya membisu saat dihadapkan pada sikap dingin Silvia.
Dia tidak tahu harus memulai dari mana setelah membuat Sivia kecewa karena sempat menolak bertanggung jawab atas janin yang dikandung partner menghabiskan malam sejak beberapa bulan terakhir.
Jika bukan karena dalam pengaruh alkohol, Silvia akan mungkin mau menyerahkan keperawanannya untuk laki-laki sebejat dia. Silvia yang merasa frustasi cintanya pada Tristan tak terbalas justru menjadikannya pelampiasan. Mendapatkan Silvia seutuhnya tentu saja sebuah keberuntungan untuk Lucky. Dia satu-satunya laki-laki yang menyentuh Silvia. Tapi jika harus menjadi ayah secepat itu, Lucky merasa belum sanggup. Dia masih enggan mengakhiri petualangannya.
Namun hidupnya justru selalu dibayangi rasa bersalah. Bayangan Sivia selalu mengganggunya setiap saat.
"Sil!"
Silvia membisu atas panggilan Lucky. Dia sengaja membuang wajah menghindari Lucky yang duduk di sampingnya.
Lelaki itu pun meraih jemari lentik Silvia. "Aku… aku minta maaf, Sil. Aku mau bertanggung jawab pada anak kita."
Silvia berusaha menarik genggaman tangan Lucky.
"Aku tahu kamu marah sama aku. Aku akan menebusnya. Kita menikah sekarang juga." Keputusan Lucky begitu memgejutkan Silvia.
Lucky beranjak menarik tangan Silvia kendati Silvia berontak ingin dilepaskan.
"Lepaskan, Lucky!" ujar Silvia menahan suara agar tidak terdengar oleh pengunjung kafe lain.
Namun Lucky tetap memaksa menggandengnya sampai ke tempat parkir dan memaksa Silvia masuk ke dalam mobilnya.
"Lucky, aku bawa mobil! Buka pintunya!"
"Alah! Biarin aja. Nanti aku ganti mobil yang baru," sahut pria itu seraya melajukan mobilnya meninggalkan kafe.
Sepanjang jalan, dia mengalami kebuntuan. Tempat mana yang bisa menikahkan mereka saat itu juga. Tidak mungkin ke KUA. Karena mereka harus mengurus administrasi lebih dulu.
__ADS_1
LucKy pun mengambil gawai di dalam tasnya. Menggeser layar mencari nomor temannya.
"Tan, lo tahu nggak ustadz yang bisa nikahin gue sekarang juga?"
"Gue nggak tahu. Mau nikah sama siapa lo?"
"Adik lo. Bantu gue, Tan."
"Elah. Gue nggak tahu. Lo tanya Daniel coba."
"Daniel kristen, Bego! Dia mana tahu yang beginian."
"Ya kali aja dia tahu."
Lucky pun menutup panggilan dengan kesal. Dia menuruti saran konyol Tristan untuk bertanya pada Daniel.
"Ada. Ustadz depan rumah gue."
Lucky menutup panggilannya usai mendapat jawaban dari Daniel. Dia memutar arah mobil menuju komplek tempat tinggal Daniel.
Mendadak Lucky mengurangi kecepatan mobilnya. Melihat sepanjang tepi jalan untuk mencari butik yang menjual kebaya. Meski dadakan, dia pun ingin Silvia memakai kebaya. Bukan celana panjang dan kemeja longgar seperti yang tengah dikenakan wanita yang sejak tadi diam di sebelahnya.
Lucky membelokkan kendaraan saat melihat sebuah ruko berlantai dua dengan papan nama sebuah butik yang menjual kebaya.
"Ayo turun!" ujar Lucky
Silvia bergeming di tempatnya.
"Jangan menguji kesabaranku, Sil. Kamu tahu aku nggak sesabar Tristan." Lucky membopong tubuh Silvia tanpa meminta persetujuan.
Silvia pun memekik kencang memukul punggung Lucky.
"Turunin!"
Pria itu pun terkekeh lalu menurunkan tubuh Silvia yang bertambah berisi dari yang terakhir dia lihat.
Lucky memilihkan kebaya sekenanya. Karena Silvia hanya duduk diam di sofa tanpa berniat memilih sendiri kebaya yang akan dikenakannya.
Setelah memilih sebuah kebaya yang pas di badan Silvia, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Rumah Daniel tidak jauh lagi dari tempat mereka mencari kebaya. Hanya butuh 5 menit mereka sudah tiba di rumah dua lantai bercat putih.
Dengan pelan, pria itu mengetuk pintu pagar. Beberapa kali mengetuknya, seorang remaja keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Maaf, cari siapa, Om?" tanya remaja itu.
"Cari …." Lucky menggaruk kepalanya. Dia bahkan lupa menanyakan nama pemilik rumah itu karena terburu-buru menutup panggilan dari Daniel.