
"Kamu terlalu lancang membuka lemari Elita."
Kirana terpaku. Dia pikir Tristan tidak akan membahas masalah tempo hari. Tentang dia yang mengambilkan baju Elita untuk Silvia. Tapi ternyata dia salah. Tristan hanya menundanya karena dia sakit. Jika bukan terdorong rasa kemanusiaan yang memang terlampau berlebihan, apalagi Tristan adalah suaminya, Kirana tentu akan membiarkan laki-laki itu terkapar di tempat tidur beberapa hari kemarin.
Saat ini Kirana seperti seorang pencuri yang sedang dihakimi pemilik rumah. Lidahnya kelu melihat Tristan yang menatap tajam penuh amarah. Cukup sudah kesabarannya diuji. Tristan ternyata memang tidak pernah bisa menghargainya.
"Apa kamu pikir Silvia lebih berhak masuk ke dalam kamar lalu mengambil baju di lemari ini sendiri? Karena ini lemari kakaknya?" Kirana membalas ucapan Tristan dengan sengit.
"Aku ini istri kamu. Sedangkan dia? Dia bukan siapa-siapa di sini. Statusnya di rumah ini adalah tantenya Mentari. Dan itu bukan berarti dia bebas melakukan apa pun d rumah ini."
"Jangan mencoba mengguruiku. Aku yang lebih berhak menentukan siapa yang boleh menyentuh benda-benda milik istri saya."
Kirana kembali tertegun. Jika bagi Tristan istrinya hanyalah Elita yang sudah tiada, mungkin Kirana hanya dianggap sebagai pengasuh Mentari. Sungguh menyakitkan jika memang demikian.
Sekuat hati Kirana mengusir sesak yang menghimpit rongga dadanya.
"Kalau memang memang menurutmu Silvia lebih berhak di rumah ini, kenapa tidak kamu nikahi saja perempuan itu sejak dulu?!"
Sebelum percikan api itu semakin berkobar, Kirana menyambar tasnya lalu keluar dari kamar. Pagi hari diawali dengan pertengkaran bukan sesuatu yang baik. Pekerjaannya menghadapi anak-anak kecil yang membutuhkan kesabaran luar biasa. Dia tidak ingin pertengkarannya dengan Tristan membuat pikirannya kacau dan akan berimbas pada semangat mengajarnya.
Kirana mengambil tiga kotak bekal di lemari lalu memasukkan sandwich yang telah dibuatnya ke masing-masing kotak. Untuknya, Mentari dan satu lagi untuk suaminya. Bahkan di saat hatinya sakit karena sikap Tristan, kirana masih memikirkan perut suaminya. Sayang ketulusannya tidak pernah mendapat perhatian sedikitpun. Apalagi penghargaan dari Tristan. Kirana bahkan tak pernah mendengar suaminya sekedar berterima kasih atau tolong. Kalimat sederhana yang tentu saja akan membuat Kirana tersenyum mendengarnya.
"Kita sarapan di sekolah ya, Sayang." ujar Kirana pada Mentari yang telah siap duduk di meja makan.
"Kenapa, Bunda?"
"Nggak apa-apa. Bunda ada yang harus dikerjakan di sekolah."
Mentari mengangguk mengerti.
__ADS_1
Kirana pun memasukkan dua box bekal ke dalam tas. Tersisa satu box yang dibiarkan tergeletak di atas meja. Dia tidak peduli Tristan akan membawanya atau tidak. Toh pria itu memang jarang sekali makan olahan tangan Kirana jika bukan karena Mentari yang merengek minta ditemani makan.
Helm dan seat belt disiapkan Kirana untuk menjaga Mentari agar tidak jatuh. Perjalanan ke sekolah lumayan jauh. Kirana tidak mau ambil resiko Mentari capek di jalan atau lalai berpegangan padanya.
Langkah Tristan terdengar menuruni tangga saat Kirana sedang memakaikan jaket Mentari.
"Sarapannya di kotak bekal, Mas." ujar Kirana tanpa menoleh.
Setelah jaket terpasang rapi, Kirana menyuruh Mentari untuk pamit pada ayahnya. Ini sudah ke sekian kalinya Kirana mengajak Mentari berangkat naik motor. Letak kantor dan sekolah yang berlawanan arah terkadang tidak memungkinkan Tristan untuk selalu mengantar mereka. Meski Tristan seringkali mengingatkan mereka untuk naik taksi, tapi putri kecilnya lebih suka naik motor. Hal baru yang tidak pernah dia rasakan sebelum mengenal Kirana.
"Naik motor enak ya, Bunda," begitu komentar Mentari suatu hari.
Mentari melambaikan tangan setelah berpamitan pada ayahnya. Kirana,sengaja mengacuhkan suaminya dengan menggandeng tangan Mentari tanpa mengucap sepatah kata pun. Kekesalannya masih memuncak. Sikap Tristan semakin hari semakin menjadi. Tembok tinggi yang Kirana pikir bisa dia runtuhkan ternyata masih kokoh membatasi keduanya. Sandiwara Tristan terkadang sangat natural. Hingga Kirana sulit membedakan Tristan tengah bersandiwara atau memang benar telah berubah. Dan ucapannya saat di kamar tadi menyadarkan Kirana bahwa Tristan memang sulit untuk disentuh.
Kirana meminta Mentari untuk berpegangan sebelum melakukan motor. Dengan kecepatan rata-rata, Mereka mengaspal di jalanan yang sudah cukup padat meski jam baru menunjuk angka setengah tujuh. Lebih awal dari jam biasanya mereka berangkat.
Berkali-kali Kirana harus mengembalikan fokusnya pada jalan saat pikirannya kembali melayang. Dia sudah bertekad meninggalkan semua masalahnya di rumah namun ternyata gagal. Bayangan Tristan yang menghakiminya pagi tadi dan juga rentetan kejadian saat adanya Silvia di rumah kembali berputar.
Ciiiit! BRAK!
Kirana terlambat menarik rem saat saat sebuah mobil melaju dengan kencang dari lawan arah..Tubuhnya pun terpelanting dan tersungkur ke jalan.
"Mentari!" Hanya nama itu yang ada dalam pikirannya hingga terucap di bibirnya.
Kirana mencoba untuk berdiri namun sepertinya kakinya terkilir. Beberapa orang pun mendekat menolong mereka.
"Pak, tolong anak saya!" jerit Kirana karena Mentari terjepit di antara tubuhnya danl jalan Tangisan Mentari semakin membuatnya panik.
Kirana tidak lagi memikirkan bagaimana nasib motornya..Dia juga tidak peduli dengan mobil yang sempat menyenggol body motornya. Mobil itu telah kabur bersama pemiliknya. Yang ada dalam pikirannya hanya keselamatan Mentari. Ada tanggung jawab besar yang dia emban atas diri putri sambungnya itu.
__ADS_1
Seseorang yang baik hati mengantar mereka ke rumah sakit. Luka-luka di tubuhnya butuh penanganan. Mentari juga mengalami lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Meski sama-sama luka, Kirana mencoba menenangkan Mentari yang masih syok. Anak itu belum berhenti menangis.mungkin juga karena menahan perih akibat lukanya.
"Maaf, saya tidak bisa menunggu sampai selesai karena harus segera ke kantor."
"Oh iya. Tidak apa-apa, Mas. Terima kasih banyak sudah membantu kami. Maaf jadi merepotkan Anda."
"It's oke. Hanya kebetulan saya sedang lewat. Untuk urusan motor akan diurus teman saya. Boleh minta nomor telponnya untuk konfirmasi kalau sudah selesai diperbaiki nanti."
Kirana pun menyebut sederet angka. Dan juga namanya saat pria berkemeja putih itu menanyakannya.
"Sebelumnya maaf nanti nomornya saya berikan ke teman yang akan memperbaiki motor Mbak Kirana."
Melihat dari sikap pria itu, Kirana tidak keberatan. Pria yang sangat sopan. Kiana sangat yakin circle pertemanannya pun orang baik.
"Iya, tidak masalah. Kalau boleh tahu nama Anda?" tanya Kirana.
"Saya Daniel."
Pria itu pun kemudian berpamitan. Meninggalkan Kirana dan Mentari yang sedang ditangani di ruang IGD. Kirana lega karena luka mereka tidak terlalu parah. Hanya beberapa lecet di tangan dan kaki. Tapi bagi Mentari, luka itu sesuatu yang batu baginya. Melihat kulitnya mengelupas membuatnya merasa ngeri.
Kirana tidak tahu bagaimana cara berterima kasih pada pria bernama Daniel. Laki-laki itu tidak hanya menolong mengantarnya ke rumah sakit. Bahkan semua biaya rumah sakit Kirana sudah ditanggung olehnya. Bahkan saat keluar dari rumah sakit, pria itu juga sudah memesankan taksi untuk pulang. Kirana hanya berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengan pria itu untuk mengucapkan terima kasih. Karena dia tidak menyimpan nomor kontak pria itu Tidak terlintas dalam pikirannya untuk bertukar nomor telepon.
"Bunda, sakit!" Sejak tadi hanya menangis, Mentari baru mengeluh sakit saat dalam perjalanan pulang.
"Iya, Sayang. Sakitnya nggak lama. Nanti sembuh, kok." Kirana mendekap Mentari agar lebih tenang.
Kirana semakin kalut. Bagaimana dia harus mempertanggungjawabkan apa yang terjadi dengan Mentari pada Tristan. Ketakutan itu semakin mencekam saat taksi mulai masuk ke kompleks tempat tinggal mereka.
__ADS_1
Dengan langkah tertatih, Kirana menggandeng Mentari. Mobil sedan hitam metalic itu masih terparkir rapi di carport menunjukkan pemiliknya belum berangkat ke kantor. Sejenak Kirana berhenti di depan pintu pagar. Mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Tristan.