
Matahari perlahan masuk ke peraduan.menyisakan bentangan langit yang kemerahan. Tampak siluet sepasang manusia yang beriringan menyusuri pantai seolah enggan beranjak meninggalkan keindahan pantai di kala matahari terbenam.
Pada akhirnya, titik bahagia itu telah Kirana temukan. Tristan bukan lagi sosok pria dingin dan angkuh yang selalu menghindarinya. Lelaki itu telah menjelma menjadi suami yang hangat dan penuh kasih seperti selama ini hanya ditunjukkan untuk putrinya semata.
Sepanjang hari, mereka menghabiskan waktu berdua. Menyewa sebuah saung dan juga penginapan yang menghadap ke pantai Kirana benar-benar merasakan menjadi istri yang begitu dicinta.
"Bagaimana kalau kita menginap di sini?"
"Hah?!" Kirana sontak terkejut dengan ide yang tiba-tiba diucapkan oleh Tristan.
"Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kamu," ucap Tristan menatap lekat istrinya.
"Kita masih punya banyak waktu berdua, Mas. Memangnya kamu mau ke mana?"
"Saya tidak akan ke mana-mana. Hanya saja, sepulang dari sini kita tidak bisa benar-benar berdua."
Kirana memahami maksud ucapan Tristan.mereka memang bukan pasangan sesama single yang bisa menghabiskan waktu berdua sebelum buah hati mereka lahir. Terlebih jika nanti sudah pulang ke rumah Tristan, akan ada Mentari yang juga butuh perhatian mereka.
"Meski mungkin hanya sebentar, saya ingin membuat kamu merasakan seperti layaknya pasangan baru. Bisa menikmati waktu berdua tanpa kamu harus memikirkan selain kita berdua."
"Maksudmu Mentari?" Kirana menimpali lalu menggelengkan kepala.
"Saya menikah dengan kamu itu lantaran Mentari. Mentari anak kita, mana mungkin saya merasa terganggu olehnya. Justru saya sekarang sedang merasa rindu sekali dengan dia. Tadi pagi dia ngambek gara-gara panggilannya tidak saya jawab."
Tristan memutar bahu Kirana hingga mereka saling berhadapan. Kembali menatap lekat bola mata bulat membuat sang pemilik menunduk karena gugup. Tangan pria itu terulur mengangkat dagu Kirana.
"Kirana, terima kasih sudah menerima saya dan Mentari dengan tulus. Terima kasih telah memaafkan dan memberi kesempatan saya untuk menjadi suami yang lebih baik. Apa pun yang terjadi nanti, tolong jangan pernah meninggalkan saya dan Mentari." Ucapan yang begitu tulus itu begitu menyentuh hati. Kirana mengangguk perlahan.
"I love you, Baby."
"I love you too."
Senyum bahagia pun terukir di bibir keduanya. Keyakinan Kirana pun terwujud. Tristan boleh berkeras hati menolaknya. Tetapi ada Sang Maha yang membolak-balik hati manusia.
"No!" Kiran mendorong bibir Tristan yang mendekat.
Kirana memutar iris mata ke kiri dan kanan. Tidak hanya mereka berdua yang tengah menikmati keindahan sunset. Namun tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada beberapa pasangan yang sebagian masih remaja tengah menghabiskan sore mereka di tepi pantai.
Tristan pun mendengus kesal. Seketika dia menggendong Kirana menepi ke saung. Menuntaskan keinginannya yang tertunda. ******* habis bibir Istrinya yang semakin mungil karena tekanan kedua pipinya.
"Mas! Malu dilihat orang!" hardik Kirana dengan kesal saat berhasil melepaskan diri. Aksi Tristan bisa jadi terlihat oleh pengunjung yang lain karena saung yang mereka tempati hanya berdinding tidak lebih dari setengah meter.
__ADS_1
"Peduli apa dengan orang lain?" bantah Tristan.
"Baca, tuh!" Kirana menunjuk tulisan di salah satu sisi dalam saung.
Tulisan larangan berbuat asusila itu begitu jelas tercetak sebagai peringatan untuk para pengunjung.
Tristan terkekeh. "Kita kan suami istri, sah-sah saja mau berciuman di mana pun."
Angin semakin kencang berhembus hibgga menusuk pori-pori kulit. Kirana memilih beranjak daripada menanggapi ucapan suaminya. Di lingkungan pergaulan Tristan berciuman di tempat umum dan terbuka mungkin hal biasa. Tetapi Kirana harus mengingat jika mereka sedang berada di lingkungan yang penuh pengawasan. Di lingkungan yang masih menjunjung tinggi adab dan norma. Meski ada saja yang masih melanggar, tetapi mengingat usianya, hal itu tidak patut dipertontonkan sebagai contoh yang tidak baik bagi pasangan yang belum sah.
Kirana menyusuri hamparan pasir menuju ke villa yang terletak di atas bukit. Tidak jauh dari bibir pantai. Meninggalkan Tristan yang terdengar langkahnya tengah berjalan menyusulnya.
Hari semakin gelap dan sepanjang pantai hanya diterangi dari pencahayaan dari beberapa villa yang disewa. Tristan benar-benar bersikaeras mengajak Kirana menginap di villa malam ini.
"Kita nggak bawa baju ganti, ,Mas."
Sebuah koper diseret Tristan ke hadapan Kirana. Koper berwarna ungu yang sangat Kirana kenali. Karena itu koper miliknya.
"Ini koper saya? Kok bisa ada di sini?"
Tristan tersenyum remeh. "Jangankan hanya membuat koper itu ada di sini. Membuat gadis sepertimu jatuh cinta sama saya saja saya mampu."
Tristan pun beristighfar sekencang-kencangnya.
Kirana membuka koper yang berisi beberapa lembar baju miliknya dani milik Tristan. Di dalamnya juga terdapat dua buah sweater. Dia tidak mempermasalahkan lagi siapa yang mengantar koper itu. Sudah pasti orang yang diutus orang tuanya. Karean yang ounya akses masuk ke kamar Kirama untuk mengambil baju-baju itu hanya kedua orang tuanya.
Kirana mencari piyama untuk mengganti baju yang sudah seharian ini dipakai. Dia terbelalak saat menemukan baju dinas malam pemberian Nabila yang belum pernah diipakainya. Satu lingeri dari Nabila yang pernah dia pakai berakhir di tempat sampah karena terkoyak oleh ulah Tristan. Sisanya maish tersimpan rapi di lemari dan kini sudah berpindah ke dalam koper.
"Mas! Ini yang menata baju ke koper siapa?"tanya Kirana pada Trostan yang tengah duduk menikmati teh hangat yang baru saja diantar oleh pengelola villa.
"Ibu," sahut Tristan.
"Kamu yang minta atau inisiatif Ibu sendiri?"
"Sa ….Ibu yang milih sendiri," sahut Tristan gugup.
"Ibu atau kamu?" cecar Kirana lagi.
"Ibu!" jawab Tristan yakin. Namun tdak mampu membuat Kirana percaya.
"Memangnya kenapa? Salah ambil?" tanya Tristan pura-pura bego.
__ADS_1
"Salah banget!" balas Kirana ketus. Dia mengambil sebuah piyama panjang dan handuk lalu bergegas menuju ke kamar mandi.
"Pintunya jqngan dikunci. Sebentar lagi Mas nyusul!" seru Tristan dengan senyum jail.
Kirana tidak menghiraukan Tristan. Dia menutup pintu kamar mandi lalau menguncinya. Tubuhnya sudah mendamba berendam dengan air hangat setelah hantaman air asin saat di pantai tadi membuat lengket kulitnya.
Selesai membersihkan diri, Kirana menyelonjorkan kakinya di atas sofa sembari menikmati tehnya yang sudah mulai dingin. Dia menunggu Tristan mandi untuk bersiap makan malam.
Bukan makan malam siap saji yang mereka pesan. Termyata Tristan memesan ikan yang masih mentah dan alat panggang. Mereka membuat acara barbeque di belakang villa.
"Coba ada Mentari, Ayah,ibu dan juga Mama. Pasti lebih seru," celeruk Kirana saat Tristan mulai membakar ikan.
"Itu bisa diagendakan lain kali. Saat ini saya hanya ingin ada kita berdua di sini. Tidak ada yang lain. Kamu ngerti nggak sih, Sayang?"
"Iya ngerti."
"Anggap saja kita sedang honeymoon. Biar nggak ngenes-ngenes amat jadi istri saya nggak pernah diajak honeymonn," ucap Tristan berseloroh.
Tristan membolak-balik ikan agar tofak gosong. Semnetara Kirana duduk diam.menunggu ikan matang. Apalagi yang bisa dia lakukan kalau sang suami sudah bertitah untuk menunggu.
Kirana tidak mengira jika Tristan begitu lihai membakar ikan. Aromanya bumbu yang terbawa angin bahkan membuat Kirana beranjak untuk mendekat.
"Mas aku mau .…maksudnya saya mau yang nggak terlalu gosong."
Tristan menoleh dengan senyum dikulum. "Mana piringnya? Ini sudah matang."
Kirana mengambil sebuah piring berukuran besar. Dua ekor ikan bakar pun dipindahkan Tristan ke dalam piring.
Mereka duduk beralaskan tikar menikmati ikan bakar dengan sebakul nasi. Dua ekor ikan Tristan harus bersusah payah membakar sendirii. Padahal tinggal memesan pun bisa. Kirana tidak habis pikir dengan suaminya itu.
Namun tidak hanya membakar ikan, Tristan juga tidak membiarkan tangan Kirana kotor oleh makanan.
"Saya bisa makan sendiri, Mas," tolak Kirana saat Tristan hendak menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Saya tidak akan mempermasalahkan soal sebutan, senyamannya kamu. Aku kamu, bukan sebutan yang buruk."
Kirana menipiskan bibirnya.
"Tapi biarkan tangan ini yang menyuapkan makanan untuk istriku."
Kirana tidak punya pilihan lain selain membuka mulutnya. Dalam setiap suapan dia tak lepas berdoa, semoga bahagia yang tengah ia rasakan akan selamanya.
__ADS_1