Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
56. Penjelasan


__ADS_3

Seorang Executive Muda berinisial TP, diduga ingin mengakhiri hidup dengan menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan karena ketahuan berselingkuh dengan sekretarisnya.


Penggalan berita itu membuat Kirana terbelalak. Isu perselingkuhan dan pelakor memang selalu hangat untuk diperbincangkan. Apalagi jika melibatkan publik figur, beritanya akan digoreng sampai gosong.


Kirana tidak menyangka, jika insiden kecelakaan suaminya pun akan diunggah ke media sosial. Melihat dari mobil yang ada dalam berita itu, tidak salah lagi jika isi berita itu memang terkait dengan suaminya.


"Jadi benar kamu mau bunuh diri?" tanya Kirana dengan nada menyindir.


"Bunuh diri apaan sih? Siapa yang bilang?"


"Ini di berita kamu lagi trending." Kirana pun membacakan penggalan berita yang ada dalam situs berita online.


"Coba sini lihat!" sahut Tristan terkejut.


"Aku kirim linknya. Baca di hp kamu."


Decakan kesal terdengar dari lidah Tristan. "Hpku mati. Lihat sini!"


Kirana pun turun kembali dari tempat tidurnya. Mendekat ke bed pasien lalu mengulurkan gawainya. Namun bukan gawai yang diambil Tristan melainkan lengan Kirana yang dicekal. Perempuan itu pun meronta minta dilepaskan. Kendati raganya terbalut perban di sana sini, namun tenaga Tristan tetap saja mengalahkan Kirana.


"Naik!"


"Nggak! Saya muak sama kamu!"


"Naik, Kirana! Banyak hal yang harus kamu dengarkan dari saya! Tidak lebih dari sepuluh menit. Setelahnya, silakan memutuskan apa pun yang terbaik menurut kamu. Jika kamu masih saja sulit untuk percaya dengan saya." Ucapan Tristan yang terdengar sangat serius mampu membuat Kirana terdiam. Dia tidak lagi memberontak.


Bahkan perlahan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Tristan. Kirana pun tak menolak saat Tristan meraih dagunya agar dia mengangkat wajah dan membalas tatapan suaminya.


"Dengar Kirana!" Mendengar suara dingin itu kirana mengingat saat awal pernikahan mereka.


"Satu hal yang harus kamu tahu, saya tidak pernah selingkuh. Saya tidak pernah tidur dengan wanita mana pun selain yang sudah saya ikat dengan pernikahan. Saya memang brengsek Kirana. Saya bukan laki-laki alim seperti yang kamu idamkan. Tapi saya tidak pernah mengkhianati istri saya. Kamu."


"Kamu masih mencoba berkelit meskipun buktinya sudah jelas?!"


"Dengarkan saya dulu Kirana. Apa yang kamu lihat di foto itu bukan berarti saya tidur dengan Silvia."

__ADS_1


Tristan mengambil gawaimya. Kehabisan daya hanya dalih agar Kirana mau mendekat. Dia pun membuka ponsel itu dan menunjuk sebuah video rekaman cctv di kamar tamu.


Kirana meraih ponsel itu. Kali ini dia benar-benar ingin membuktikan ucapan suaminya. Karena keputusan terberat akan diambilnya. Dia sudah tidak bisa lagi mentolerir perbuatan Tristan jika terbukti dia tidur dengan wanita lain.


Netranya terbelalak saat melihat adegan erotis suaminya dan Silvia. Dia melemparkan benda di tangannya ke tubuh suaminya.


"Kamu menyuruh aku menonton adegan mesummu dengan selingkuhanmu?! Benar-benar nggak waras!"


"Ini belum selesai. Lihat dulu. Saya memang mabuk waktu itu. Tapi saya masih bisa membedakan wangi tubuh kamu yang lebih memabukkan" Tristan pun memaksa Kirana melihat rekaman selanjutnya.


"Sinting!" Kirana memaki Tristan yang asih saja mencoba merayu di saat mereka sedang berselisih.


"Mana ada laki-laki yang sudah on fire sempat membedakan mana istri mana ******. Apalagi kamu mabuk," ujar Kirana diiringi senyum miring.


"Itu nggak berlaku buat saya!"


Kirana mendecih. Namun kedua netranya terpaku pada layar ponsel yang dipegang oleh Tristan. Dia dapat melihat dengan jelas bagaimana Tristan mendorong tubuh Silvia keluar dari kamar lalu menutup pintu. Dan lelaki kembali berjalan sempoyongan lalu terkapar di atas ranjang.


Beberapa saat kemudian, Silvia masuk kembali ke dalam kamar itu. Dan menggoda Tristan yang sudah terlelap. Silvia.mencoba membangunkan Tristan dengan mencumbu bagian-bagian sensitif tubuh pria itu. Merasa frustasi karena tidak berhasil membangunkan Tristan, Silvia yang sudah tidak mampu menahan hasrat melakukan pemuasan dengan menggunakan jari Tristan. Semua itu pun dilakukan Silvia sambil merekam dirinya sendiri.


"Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat kamu percaya pada saya," sahut Tristan frustasi.


Apa yang baru saja dilihatnya justru membuat Kirana semakin muak. Dia harus melihat suaminya memuaskan wanita lain meski itu hanya dengan jari. Sepertinya Silvia begitu terobsesi dengan Tristan. Hingga melakukan hal gila semacam itu.


Pikiran Kirana pun mulai berkeiaran. Bagaimana bisa Silvia berada di rumah Tristan saat tengah malam. Jika bukan Tristan yang memberi akses. Kendati suaminya sudah menjelaskan kronologinya, tetap saja akal Kirana menolak. Kepercayaan yang sudah diberikan pada Tristan telah terkikis.


Bisa jadi Tristan tengah membodohinya. Mereka terlibat dalam satu pekerjaan bertahun-tahun lamanya. Bahkan Tristan kerap melakukan perjalanan ke luar kota bersama dengan Silvia. Bukan hal yang tidak mungkin jika mereka pernah melakukan hal menyimpang. Mengingat sikap Silvia yang terlalu berani. Memangnya seberapa kuat Tristan mampu menahan? Dan rekaman yang diperlihatkan Tristan hanya untuk menutupi hal yang sesungguhnya.


"Saya akan terima gugatan cerai dari kamu jika sampai terbukti Silvia hamil anak saya."


Kirana mengabaikan ucapan Tristan. Pikirannya tengah berkecamuk dengan prasangka dan segala hal yang mungkin saja terjadi.


Lelah, rasa itu kian menggerogotinya. Hidup bahagia bersama keluarga kecilnya pun mungkin hanya akan menjadi angan-angannya.


Kirana mendengar jelas. Tristan tengah menghubungi seseorang. Dari cara bicaranya, dia menebak jika orang di seberang adalah Daniel. Tristan meminta tolong Daniel untuk membereskan berita mengenai dirinya yang semakin hangat diperbincangkan publik. Bukan meminta tolong, karena nadanya terdengar seperti memerintah. Kirana tidak tahu, seberapa mendominasi suaminya dalam circle pertemanan mereka. Ya, dia memang tidak tahu bamyak siapa suaminya. Sehingga dia mengira jika Tristan telah benar-benar jatuh hati padanya.

__ADS_1


Dia pun beranjak dari sofa. Mengambil dompetnya dari dalam tas. Berada di dalam ruangan itu seolah kehabisan stok oksigen. Kirana ingin menghirup udara lebih leluasa.


Kirana menyendiri di kafe rooftop rumah sakit. Duduk di sofa yang ada di sudut. Memesan jus buah dingin berharap mampu membawa suasana hatinya menjadi lebih baik. Tidak ada yang dilakukannya. Hanya ingin menepi untuk menenangkan diri sembari mendengarkan musik yang diputar oleh pegawai kafe itu. Suasana kafe yang begitu lengang tanpa pengunjung seolah mendukung kesendiriannya.


Namun ternyata dia tidak bisa sepenuhnya tenang. Otaknya kembali memutar bayangan adegan Tristan dan Silvia. Tristan sama sekali tidak menjaga perasaannya. Istri mana yang tahan melihat suaminya beradegan tidak senonoh dengan perempuan lain. Sekalipun itu untuk pembuktian bahwa Tristan benar-benar tidak selingkuh.


"Hai! Miss Nana, kan?"


Kirana mengernyit. Mencoba mengingat-ingat wanita berjas putih yang berdiri di depannya. Sapaan Miss untuknya hanya dipakai oleh muridnya saat mengajar. Namun sejauh Kirana mengingat, dia tidak mampu menebak siapa wanita itu.


"Saya Diana, maminya Alea," ujar Diana dengan senyum tipis.


"Oh iya, saya hampir lupa." Kirana memang tidak mengajar di kelas Alea Hanya saja, Mentari seringkali bermain dengan putri dari dokter itu.


"Boleh duduk di sini?"


Diana meletakkan cangkir kopinya di mja lalu duduk berhadapan dengan Kirana. Mereka berbincang banyak hal, termasuk kabar pernikahan Kirana dan Tristan yang mengejutkan Diana..


"Ngomong-ngomong sedang Miss Nana kok di sini? Habis periksa atau mau periksa?"


"Saya menunggu Mas Tristan dirawat."


"Maksudnya Tristan sakit?" tanya Diana memastikan.


"Iya. Tadi malam kecelakaan."


"Oh ya?! Tapi nggak papa kan?"


"Patah kaki dan tangannya."


"Ya Tuhan!" Diana tampak sangat terkejut. "Nanti selesai praktek saya besuk dia. Saya duluan, ya." Diana pamit karena jam prakteknya sudah akan dimulai. Kirana pun tersenyum mengangguk.


Dia kembali sendirian. Menatap gelas jus orangenya yang masih utuh. Bahkan dinginnya pun sudah berkurang. Kirana mengambil gelas itu lalu menghisapnya.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Kirana mwngambik benda oioih itu lalu membuka pesan yang ternyata dari Syifa. Sebuah foto stik bergaris dua dan foto hasil usg kiriman dari sahabatnya itu menmmbuat Kirana melengkungkan bibir.

__ADS_1


__ADS_2