
"Minumnya, Mas!" Kirana meletakkan cangkir kopi di meja. Lalu dia pun duduk di samping suaminya yang sejak tadi termenung di teras belakang. Seolah sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting
"Ada masalah?" tanya Kirana kemudian.
Tristan membuang nafas pelan. "Masalah Nabila," jawabnya lirih.
"Nabila? Kenapa dia?"
Tristan menggeser tubuhnya. Merapat pada tubuh Kirana. Bermain-main dengan bayi di dalam kandungan perut istrinya adalah aktivitas yang tidak pernah dilewatkannya. Gerakan bayi yang semakin kencang hingga memperlihatkan tonjolan yang terlihat semakin jelas adalah kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun.
Tristan mengusap kembali perut istrinya saat bayi di dalamnya kembali diam.
"Auw!" Kirana mengadu saat merasakan sesuatu seperti menonjok di dalam perutnya.
"Kenceng banget dia geraknya. Udah nggak sabar ingin keluar kayaknya." ujar Tristan lalu dia terkekeh.
Persalinan Kirana hanya tinggal menunggu hari. Tristan hanya sesekali ke kantor. Dia ingin meluangkan waktu lebih banyak untuk menemani Kirana.
Namun melihat Nabila yang terlihat kacau beberapa hari terakhir, dia tidak yakin jika Nabila bisa diandalkan seperti sebelumnya. Kondisi Nabila tidak hanya berimbas pada dirinya sendiri. Pekerjaannya pun menjadi terhambat karena lebih banyak melamun.
"Tadi Nabila kenapa, Mas?" Kirana masih menunggu jawaban dari suaminya.
Tristan pun berhenti bermain dengan bayi dalam perut Kirana.
__ADS_1
"Daniel melamar Nabila. Tapi mereka nggak mungkin bisa bersatu. Butuh pengorbanan yang tidak mudah jika memaksakan hati mereka. Mas hanya prihatin melihat Nabila beberapa hari ini seperti bukan dirinya. Bahkan pekerjaannya pun terganggu. Mas ingin memberinya cuti untuk beberapa waktu, tapi bagaimana dengan kamu kalau Mas full di kantor."
Kirana pun terdiam. Dia bisa membayangkan bagaimana rumitnya hubungan mereka. Belum lagi pertentangan keluarga besar. Dia pun mendesah pelan. Saat lagi-lagi harus ikut merasakan peliknya hubungan teman Tristan.
"Susah kalau sudah masalah hati," gumam Kirana. "Apa Tante Tiara tahu tentang hubungan mereka?"
"Hmm." Tristan mengangguk. "Bahkan Nabila sudah dijodohkan dengan anak temannya. Tapi Nabila belum memberi respon positif. Dia masih terkungkung dengan perasaannya pada Daniel."
Kirana mengangguk paham. "Mas percaya nggak sebuah ungkapan. Witing tresno jalaran soko kulino, ala cinta karena biasa?"
"Maksudmu?"
"Ya siapa tahu setelah Nabila menikah dengan laki-laki lain dia bisa melupakan Daniel. Begitu juga dengan Daniel, mungkin jika dia menikah dengan wanita lain dia bisa melupakan perasaannya pada Nabila. Karena jika keduanya masih sama-sama sendiri, masing-masing dari mereka pasti akan terus berharap tanpa kepastian," ujar Kirana panjang lebar.
"Kalau mereka sadar tidak mungkin bersatu, maka salah satu harus move on. Jadi yang lainnya tidak akan berharap lagi. Coba deh Tante Tiara diminta untuk mendesak Nabila."
Tristan tak menyahut ucapan Kirana. Perjodohan memang bukan hal yang buruk. Banyak pasangan yang tetap berakhir meski awalnya terpaksa menjalani pernikahan. Termasuk dirinya dan Kirana. Tristan bahkan seperti menjilat ludah sendiri. Dengan lantang tidak bisa membalas cinta Kirana, namun sekarang dia justru bergantung pada Kirana. Kirana adalah nafas dan hidupnya.
"Ke rumah Tante Tiara, yuk!" ajak Tristan tiba-tiba.
"Sekarang?"
"Iya."
__ADS_1
Kirana pun masuk ke dalam rumah. Mengganti daster pendeknya dengan baju panjang. Dan menutup kepala dengan kerudung.
Mentari yang sedang bermain di ruang keluarga merengek untuk ikut saat melihat Kirana berganti penampilan. Kirana pun mengajak serta Mentari ke rumah Nabila. Sudah lama dia tidak mengajak putrinya itu keluar meski sekedar bermain. Karena dia sendiri pun enggan bepergian dan lebih suka menghabiskan waktu di rumah.
Mereka menyusuri jalanan yang cukup ramai di malam akhir pekan. Rumah Nabila yang hanya berkisar lima belas menit harus ditempuh dengan waktu yang lebih lama.
Saat tiba di komplek perumahan tempat tinggal Nabila dan orang tuanya, Tristan kesulitan mencari tempat parkir. Jalanan di depan rumah Nabila dipenuhi beberapa mobil. Terpaksa Tristan lebih jauh dari rumah tantenya.
"Mas, kayaknya mobil-mobil ini tamunya Tante Tiara. Tadi rumahnya ramai orang aku lihat."
"Iya, ya? Ada acara mungkin. Kita nanti lewat pintu samping saja."
Mereka pun turun dari mobil berjalan beberapa puluh meter lalu masuk ke rumah berpagar tinggi itu. Pintu samping pun terbuka lebar. Tristan tidak perlu mengetuk pintu dulu untuk masuk.
Pintu samping yang menghubungkan garasi dan dapur. Mereka melihat asisten rumah tangga yang sibuk menyiapkan minum.
"Eh, Den Tristan, Neng Kirana? Kok lewat pintu samping. Nggak lewat depan saja?" sapa Bi Asih.
"Di depan banyak tamu. Nggak enak, Bi," sahut Tristan. "Tamunya siapa sih, Bi?" tanyanya kemudian.
"Lho, Den Tristan belum diberi tahu kalau Neng Bila lamaran?"
"Lamaran?!" sahut Tristan dan Kirana nyaris bersamaan.
__ADS_1