Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
66. Gula Kapas


__ADS_3

Tristan pun mendadak panik melihat kesedihan di wajah Kirana. "Bukan begitu, Sayang. Tadi Mas becanda."


"Tapi wajah kamu serius," sanggah Kirana.


"Nggak, nggak. Mas cuma becanda. Beneran," ucap Tristan meyakinkan.


"Ok. Mas ralat ya, nggak apa-apa kalau nanti anak kita cewek. Nanti kita buat lagi," lanjut pria itu menghibur istrinya.


"Sekarang kamu mau apa? Mau beli cilok, kan? Pedes juga boleh. Suka-suka kamu mau berapa sendok sambalnya. " Tristan mencondongkan tubuhnya di depan tubuh Kirana untuk membukakan pintu.


"Silakan!" ujarnya sambil tersenyum kaku.


Kirana memutar iris matanya lalu turun dari mobil. Dia sengaja menghentikan mobil di taman kota itu untuk membeli cilok. Makanan dulu saat di kampung hampir setiap hari dibelinya.


Dia memasukkan dua sendok sambal ke dalam plastik berisi cilok lalu menggoyang-goyangkan agar tercampur.


"Aku juga mau, Na." Kirana melirik lelaki yang turun dari mobil dan berjalan memakai penyangga.


Aku? Dahi Kirana pun berkerut. Lalu kembali rata. Dia menyuruh Tristan memesan sendiri. Lalu mengajak suaminya itu duduk di salah satu kursi taman. Tristan yang sudah lama tidak mengunjungi taman yang dulu sering menjadi tempatnya jogging pun mengiyakan. Demi sang istri tidak marah lagi padanya.


"Mas, aku mau gula kapas," kata Kirana setelah bulatan-bulatan tepung itu masuk ke perutnya.


"Gula kapas? Mana yang jual?" Trostan celingukan mencari penjual gula kapas.


"Itu di ujung," tunjuk Kirana


"Ok. Tunggu di sini, ya."


"Warna tosca ya, Mas."


Tristan menjawab singkat kemudian dia mendatangi mamang penjual gula kapas warna-warni.


Tristan memilih warna gula kapas yang ada di dalam plastik. Tidak ada satupun warna yang dipesan oleh Kirana. Semua isi plastik yang bergantungan berwarna putih, pink, kuning dan biru.

__ADS_1


"Mas, ada yang warna tosca nggak? tanya Tristan pada penjual.


"Wah, nggak ada, Pak. Warna tosca yang kayak apa ya, Pak?" Penjual itu bertanya balik.


"Tosca itu hijau kebiruan atau biru kehijauan. Bisa dibuatkan nggak, Mas? Istri saya lagi ngidam gula kapas warna tosca."


"Waduh, lagi ngidam, ya?" Lelaki bertopi itu pun tampak berpikir keras. "Bentar ya, Pak. Saya beli pewarnanya dulu di toko kue sebelah sana."


Penjual gula kapas itu pun menyeberang jalan untuk membeli pewarna makanan. Lalu kembali lagi dengan botol kecil di tangannya.


"Mudah-mudahan jadi warna toscanya ya, Pak. Kalau istri ngidam mah harus dituruti. Kalau nggak, bisa ngambek nggak dikasih pintu nanti."


Tristan pun tertawa pelan. "Pengalaman ya, Mas?"


"Bukan lagi, Pak. Anak saya udah dua."


Dan setelah melalui pencampuran warna, gula kapas warna tosca itu pun jadi. Tristan membayar lebih atas kerelaan penjual gula kapas itu menuruti kemauan Kirana.


"Gula kapas warna tosca sudah siap." Tristan menyodorkannya pada Kirana.


"Kan spesial. Harus beli pewarnanya dulu."


"Aku ngerepotin ya, Mas?"


Tristan mengernyit menatap istrinya. Mood Kirana berubah lagi. Setelah tadi dia terlihat bahagia saat makan cilok. Kini kembali murunh setelah meminta cotton candy. Selabil itukah emosi Kirana saat kandungannya semakin besar?


"Nggak. Sama sekali tidak, Sayang. Abangnya baik. Lagian beli pewarnanya juga nggak jauh. Cuma di seberang jalan itu. Ayo dimakan!"


Kirana mengangguk. "Makasih ya, Mas."


"Nggak usah makasih, dong. Apa pun mau kamu, aku turuti," sahut Tristan sambil membuka plastik pembungkus cotton candy itu.


"Bunda!" Suara itu membuat Kirana urung menyobek gula kapas.

__ADS_1


"Mas, kok aku dengar suara Mentari, ya?"


"Mana? Nggak ada kok?"


Dari kejauhan Kirana melihat gadis kecil dengan rambut dikuncir kuda berlari ke arah mereka. Disusul wanita berambut keemasan yang mengenakan celana jins dan kaos longgar yang berlari di belakangnya


Kirana tidak salah menduga. Mentari pun tengah bermain di taman itu bersama Nabila.


"Ya ampun! Anaknya nangis nyariin, mak bapaknya sibuk pacaran di sini! Lama-lama gue ngerangkap jadi baby sitter juga," sindir Nabila. Perempuan itu memang tidak segan mengekspresikan suasana hatinya di depan Tristan.


Mentari menghambur ke pelukan Kirana. Sambil menggerutu karena dia dan Tristan pergi sejak sore tadi setelah mengantarnya pulang ke rumah.


"Maaf ya, Bil. Tadi habis dari makam mampir ke sini," ujar Kirana merasa sungkan. Lain halnya dengan Tristan yang tampak tidak peduli dengan cicitan Nabila.


"Mentari udah makan belum?" Tristan justru bertanya pada anaknya.


"Belum," jawab Mentari polos.


"Ok. Gue traktir lo, Bil. Lo boleh pilih tempatnya asal Mentari suka."


"Hasyeek!" Nabila bersorak. "Kita makan korean food ya, Mentari! Mau ya? Mau dong," bujuknya pada sang keponakan sambil mengerjap-ngerjapkan mata.


"Iya, mau," sahut Mentari sambil mengangguk.


"Yes!" Nabila kembali bersorak kegirangan.


"Eh, tunggu dulu. Nyonya belum acc," kata Tristan menoleh pada Kirana.


"Hayuklah!" Kirana pun menyambut ide Nabila.


"Tapi bulan depan masih ada tambahan insentif kan, Bang?" rayu Nabila lagi.


"Ngelunjak!" sambar Tristan sambil beranjak dari kursi. Nabila pun tertawa lepas.

__ADS_1


.


__ADS_2