
"Elita, akhirnya kamu pulang, Sayang." Tristan memeluk dari belakang wanita yang mengenakan daster milik istrinya.
"Tentu saja, Mas. Aku pasti pulang."
"Aku merindukan. Kenapa kamu pergi begitu lama?" Tristan mengendus leher jenjang Silvia yang dia pikir itu adalah Elita. Silvia membalik tubuhnya. Sentuhan Tristan yang telah lama dia nantikan akhirnya bisa dirasakan juga.Tristan dengan tatapan penuh kerinduan mendekatkan wajahnya. Menyentuh bibir Silvia yang sangat mirip dengan Elita. Kesempatan itu pun tidak disiakan Silvia. Mereka menyatukan bibir seolah melepas kerinduan yang sekian lama terpendam.
"Sedang apa kalian?!" Seruan Kirana membuat Silvia terperanjat dan reflek menjauhkan wajahnya.Tubuh Tristan yang masih sempoyongan pun ikut berbalik.
"Dasar tidak tahu malu. Beraninya kamu menggoda suami orang di depan istrinya?"
"Hai kamu! Jaga mulutmu"! hardik Tristan yang lebih mirip orang meracau.
"Dia Silvia, Mas. Bukan Mbak Elita," sahut Kirana.
"Diam!" Suara Tristan kali ini cukup kencang hingga membuat Kirana berjengit. Sekilas dia melirik Silvia yang tersenyum jumawa. Kirana telah salah mengambilkan baju untuk Silvia. Daster tanpa lengan yang memperlihatkan kulit putih bersih itu tentu saja mengundang hasrat laki-laki. Terlebih Tristan yang dalam keadaan mabuk tidak bisa membedakan jika itu bukanlah Elita.
"Saya tidak habis pikir bagaimana kalian bisa menikah sedangkan Mas Tristan masih begitu mencintai Mbak Elita. Menyakitkan sekali hubungan kalian." Silvia tersenyum remeh. Dia mengambil air putih yang tadi baru dituangnya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.
"Elita!"
"Mas, dia bukan Mbak Elita." Kirana mencoba meyakinkan sekali lagi. Namun Tristan tetap memanggil nama Elita dan menggedor pintu kamar yang dihuni oleh Silvia.
Tidak ingin Mentari terganggu tidurnya, Kirana menarik paksa Tristan naik ke kamar meski harus dengan susah payah. Tristan masih saja memanggil nama Elita saat mereka sudah sampai di kamar.
Bruk! Tubuh tinggi tegap itu terhempas di atas kasur. Kirana mengganti semua baju Tristan dengan kimono agar lebih mudah memakaikannya. Dia mengunci Tristan di dalam kamar sebelum kembali ke kamar Mentari.
****
Saat subuh tiba, bukan alarm yang membangunkan Kirana. Melainkan bunyi pintu yang digedor berulang-ulang. Kirana mengambil kunci kamar di atas meja belajar Mentari lalu menyeret langkah keluar dari ruangan itu.
"Kenapa kamu mengunci saya?" tanya Tristan dengan kesal.
"Untuk melindungi Mas Tristan dari perbuatan keji."
"Maksudnya?" Dahi Tristan mengernyit.
"Cek saja cctv di dapur apa yang kamu lakukan dengan sekretarismu itu," sahut Kirana dengan kesal. Tentu saja dia masih cemburu dengan kejadian semalam. Istri mana yang tidak marah melihat suaminya berciuman dengan perempuan lain di depan mata. Cemburu? Kirana mendesah pelan. Dia tidak ingin secepat itu rasa untuk Tristan tumbuh. Tapi siapa yang mampu mencegahnya. Bahkan Kirana sendiri tidak sanggup.
__ADS_1
Kirana melangkah masuk ke kamar. Membereskan tempat tidur yang berantakan seperti kapal pecah. Tristan jika tidur sendiri ternyata membuat kondisi tempat tidur mengenaskan. Kirana melipat selimut dan memata bantal. Juga membetulkan sprei yang tertarik ke sana ke mari.
"****!" Gumaman pelan itu pun terdengar saat Tristan melihat layar ponselnya.
"Makanya lain kali jangan pulang dalam kondisi mabuk. Kamu sama sekali tidak menghargai saya di rumah ini." Rasa kesal Kirana semakin menjadi saat bayangan kejadian semalam tiba-tiba melintas
Tristan berdecak kesal. Kirana terlalu bawel pagi ini.
"Buatkan saya kopi!"
Tenggorokan Kirana tercekat. Demi apa Tristan pagi ini menyuruhnya membuatkan kopi. Kirana bahkan ingin pergi ke dokter THT siang nanti jika Tristan tidak mengulang ucapannya. Bukan, Kirana bukan tidak suka. Dia justru berbunga karena pada akhirnya Tristan mau meminta tolong padanya. Dengan senang hati perempuan itu pun turun ke dapur untuk membuatkan kopi dengan sedikit gula.
Kirana mencari Tristan ke balkon setelah tidak menemukannya di dalam kamar. Masih terlalu gelap untuk duduk di luar. Namun Tristan tidak mempermaslahkannya.
"Kopinya, Mas." Kirana meletakkan cangkir kopi di meja.
Tristan melirik Kirana yang mengulas senyum untuknya. Jangan harap dibalas, pria itu justru kembali fokus pada ponselnya
"Kamu yang mengganti baju saya?"
"Kamu pikir saya akan membiarkan orang lain yang melakukannya?"
Kirana tak menyahut ucapan Tristan. Dia membalik badan lalu meninggalkan suaminya. Pedasnya mulut Tristan kini sudah menjadi hal yang biasa terrdengar oleh telinganya.
Kirana turun ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Moodnya mendadak terjun saat melihat Silvia sudah berada di dapur. Wanita itu sedang berkutat di depan kompor. Dengan malas Kirana mengambil sayuran dari dalam kulkas kemudian memotongnya di meja makan. Sengaja menjaga jarak dengan Silvia yang tampak acuh dengan keberadaan Kirana. Tanpa canggung Silvia memakai alat dapur tanpa seijin pemilik rumah. Dia membuat dua cangkir teh lalu membawanya menaiki tangga.
"Mas Tristan sudah minum kopi!" ujar Kirana.
"Lagi pula kamu tidak ada kewajiban melayaninya. Untuk apa repot-repot membuatkan teh untuknya."
Silvia menyungging senyum sinis sambil kembali menuruni anak tangga.
"Mungkin kamu belum tahu. Saya yang selalu melayani MasTristan di kantor. Semuanya."
Kirana tahu, ucapan Silvia hanya untuk memancing emosinya. Dia pun menipiskan bibir. "Itu kan sudah menjadi tugas kamu di kantor. Apa kamu lupa saat ini sedang berada di mana?" balas Kirana dengan tenang sambil memotong sayuran.
Tawa remeh terdengar dari bibir Silvia. "Apa yang bisa dibanggakan menjadi istri yang tidak dicintai."
__ADS_1
"Jangan merasa paling tahu tentang urusan orang lain. Kamu memang adik Mbak Elita. Tapi ingat, Mbak Elita sudah meninggal. Hubunganmu dengan Mas Tristan tentu sudah menjadi orang lain. Tidak seharusnya kamu lancang di rumah ini dan berbuat sesukamu."
Percakapan mereka terhenti saat suara Tristan memanggil Silvia dari ujung tangga.
"Hari ini ada schedule meeting penting, nggak?" tanya Tristan.
"Nggak ada, Mas," sahut Elita.
"Kalau begitu kamu ke kantor naik taksi. Saya mau cuti. Kepala saya pusing."
"Mau saya pangggilkan dokter, Mas?" tanya Silvia.
"Tidak perlu. Saya hanya ingin istirahat. Lebih baik kamu pulang sekarang. Jangan memakai baju kakakmu lagi dengan alasan tidak bawa baju ganti."
"Ya ampun, Mas. Cuma pinjam satu ini."
"Banyak pakaian Elita yang lebih sopan. Kenapa kamu mengambil baju itu?" Suara Tristan terdengar sangat kesal. Bagaimana tidak? Silvia memakai baju Elita yang begitu disukainya. Baju tidur yang begitu pas menempel di badan Elita dan selalu memancingnya untuk mengurung Elita di dalam kamar. Sekarang baju itu justru dikenakan Silvia.
"Bukan aku yang ngambilin, Mas. Istri kamu, nih."
Kirana yang sejak tadi mengabaikan percakapan kedua orang itu sontak mendongak. Tatapan tajam Tristan pun mengarah padanya. Kirana tak perlu bertanya jika kini amarah itu justru tertuju padanya. Dia sadar telah lancang membuka lemari milik Elita. Namun bukankah lebih tidak sopan lagi jika Silvia yang mengambilnya?
Kirana membereskan sayuran di meja makan lalu beranjak ke dapur. Urusan kemarahan Tristan biarlah diurus nanti. Setidaknya dia sedikit lega karena kemarahan Tristam tidak meledak di depan Silvia. Bisa-bisa dia akan menjadi bahan tertawaan Silvia jika itu terjadi. Untung saja Tristan pagi ini sedikit pengertian.
Rutinitasnya di pagi hari terlalu padat untuk mempedulikan Silvia yang masih saja berulah mencari perhatian Tristan. Kirana menyelesaikan pekerjaan dapurnya secepatnya. Kemudian membangunkan Mentari untuk bersiap berangkat sekolah. Mentari yang sudah bisa sedikit mandiri tidak terlalu merepotkan. Kirana hanya perlu menyiapkan baju ganti. Lalu pergi ke atas untuk bersiap-siap mengajar.
Merepotkan sekali harus masuk ke kamar sebelah untuk mengambil baju gantinya. Sementara kamar yang tidak pernah di huni hanya berisi sebuah lemari dan beberapa perlengkapan bayi. Mungkin dulu kamar Mentari sewaktu bayi. Karena di antara dua kamar itu terdapat pintu penghubung.
Langkah Kirana yang hendak masuk ke kamar mandi terhenti saat melihat Tristan meringkuk di tempat tidur dengan tubuh tertutup selimut. Dia memberanikan diri mendekati.
"Kamu sakit beneran, Mas?" tanya Kirana seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Tristan.
"Ya beneran lah. Kamu pikir saya sedang pura-pura?"
Kirana menghela nafas pelan. "Kamu sakit saja masih marah-marah, Mas."
"Ke dokter, ya? Badan kamu panas," ujar Kirana kemudian.
__ADS_1
Tristan kembali menolak. Dia hanya butuh Dokter Elita. Bukan dokter yang lain.