
"Ibu bilang juga apa? Pikirkan dulu baik-baik. Menikah itu bukan untuk sehari dua hari tapi untuk selamanya. Kamu terlalu grasa-grusu tanpa memikirkan akibatnya. Kalau cuma alasan sayang sama anaknya, tidak harus kamu menikah dengan bapaknya." Ucapan ibunya hanya bisa membuat Kirana terdiam.
Dia baru saja sampai di rumah. Bukan sambutan hangat yang diterima, melainkan ungkapan kekesalan ibunya yang mungkin telah sebulan lebih tidak terlampiaskan. Apakah karena restu ibunya yang setengah hati itu membuat pernikahannya tidak bahagia? Pikiran itu sempat terlintas dalam benak Kirana.
"Nana minta maaf." Kalimat itu tak mampu Kirana lanjutkan. Dulu dia begitu kekeuh menerima lamaran Bu Ratih. Dan sekarang ucapan ibunya terbukti jika dia tidak bahagia. Atau mungkin bahagia itu memang belum saatnya dia dapatkan.
"Astaghfirullah. Bu,Nana baru datang. Biarkan dia istirahat dulu."
Kirana mendongak mendengar suara berat ayahnya. Dia beranjak dari sofavmenghampiri ayahmya yang baru pulang dari masjid. Entah karena rasa rindu atau rasa ingin berlindung, Kirana memeluk ayahnya dan menangis tersedu. Pak Restu membiarkan putrinya menumpahkan air mata sepuasnya. Hingga baju yang dikenakannya basah kuyup.
"Sudah?" Pak Restu mengusap kepala yang tertutup kerudung itu. Rasa sayang yang dicurahkan oleh ayahnya rasanya sudah cukup, sehingga Kirana selama 25 tahun hidupnya tidak berniat untuk sekedar menjalin hubungan dekat dengan laki-laki.
Kirana mengurai dekapannya pada sang ayah lalu kembali menjatuhkan diri di sofa.
"Ibu sudah merasa bahwa laki-laki itu tidak serius dengan kamu. Ibu bisa melihat dari cara dia saat menikahi kamu. Tidak punya unggah-ungguh! Tidak menganggap ayah dan ibumu sama sekali."
Kirana harus memaklumi sikap ibunya. Pada umumnya, laki-laki yang akan menikahi seorang wanita akan datang menemui keluarga mereka namun Tristan bahkan tidak pernah melakukan itu semua. Hanya Bu Ratih yang meminta ijin itu pun melalui telepon.
"Sudah, Bu. Belum tentu Nana datang karena sedang ada masalah dengan suaminya."
"Ibu tahu betul bagaimana anak kita. Kalau memang tidak ada masalah kenapa dia pulang sendiri membawa banyak pakaian?"
Pak Restu pun ikut bergabung duduk di samping putrinya. "Ibu kan tahu kalau suami Nana itu sibuk. Siapa tahu dia tidak sempat mengantar." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Heleh! Sesibuk apa pun kalau memang dia sayang sama istrinya pasti akan menyempatkan diri mengantar. Memastikan istrinya sampai di sini dalam keadaan baik-baik saja. Ayah mau bela menantu yang tidak bertanggung jawab itu?!" kata Bu Ambar menyanggah ucapan suaminya.
Mendebat ucapan ibunya sama saja menyiramkan bensin ke percikan api. Kirana pun memilih untuk diam. Lagi pula apa yang diucapkan ibunya memang benar. Perasaan seorang ibu memang selalu peka. Meski demikian Kirana untuk membagi kisah rumah tangganya sekalipun itu dengan kedua orangtuanya. Bagaimanapun dia adalah seorang istri. Tidak pantas mengungkap keburukan suami pada siapa pun.
"Baraka pulang. Ibunya bilang kalau dia ingin meminangmu. Seandainya kamu bersabar sedikit saja untuk menunggu dia." Bu Ambar membuang nafas kasar.
"Bu, Mas Baraka tidak pernah mengatakan apa-apa pada Kirana, bagaimana mungkin Kirana menunggu seseorang yang tidak pernah memberi harapan."
"Harusnya kamu ngerti to, Nduk. Baraka itu memang tidak mau pacaran. Dia ingin fokus dengan bisnisnya dan menyelesaikan S2nya. Dia ingin berusaha agar bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya nanti. Apa selama ini kamu tidak peka kalau dia suka sama kamu," tutur Bu Ambar dengan wajah penuh penyesalan.
"Istighfar, Bu. Anak kita sudah punya suami." Pak Restu menyela agar istrinya tidak terlalu jauh berandai-andai.
Bu Ambar yang semakin kesal karena merasa suaminya justru membela menantunya beranjak dari kursi. Lalu meninggalkan Pak Restu dan Kirana di ruang tengah.
Dan sekarang dia merasa seolah-olah ibunya tengah menyudutkannya. Seolah Kirana yang bersalah karena telah memilih laki-laki lain. Apalagi dia tidak beruntung karena laki-laki pilihannya justru tidak seperti yang diharapkan ibunya.
Kirana pun membuang nafas kasar.
"Jangan diambil hati ucapan ibumu, Nduk. Dia hanya sedang kecewa. Beberapa hari yang lalu ibunya Baraka bilang, kalau Baraka akan pulang dan berniat melamar kamu. Ibumu sama ibunya Baraka memang sudah berniat untuk besanan. Tapi apa mau dikata, jodoh bukan .mereka yang ngatur." Ucapan ayahnya membuat Kirana tertegun . Rencana perjodohan dua ibu-ibu yang sering pengajian bersama itu memang tidak pernah diungkapkan pada Kirana.
"Maaf, Yah. Kalau ternyata Nana mengecewakan Ibu dan Ayah. Tapi Nana masih boleh kan tinggal di sini untuk beberapa waktu ke depan?"
"Tentu saja, ini juga rumahmu. Kenapa harus minta ijin? Meskipun kamu sudah menikah, kapan pun kamu mau ke sini atau mau tinggal.di sini sekalipun Ayah tidak keberatan."
__ADS_1
Kirana mengangguk. Ucapan ayahnya yang selalu terdengar menenangkan membuat dia lebih nyaman untuk mencurahkan segala sesuatu pada sang ayah. Meski dia pun sangat dekat dengan ibunya. Hanya saja keputusan Kirana untuk menikah dengan Tristan mungkin begitu mengecewakan ibunya.
Kirana menatap sendu ibunya yang tengah berada di dalam kamar. Duduk mematung di atas tempat tidur dengan tatapan kosong. Rasa bersalah pun semakin merongrong Kirana. Begitu hebat imbas yang tercipta karena keputusannya yang begitu cepat dia ambil. Tidak hanya bagi dirinya, namun juga sang ibu.
Dia pun melangkah masuk dan bersimpuh seraya memegang kaki ibunya. Memohon ampun pada wanita yang telah melahirkannya. Hingga tangis kedua wanita itu pun pecah bersamaan. Tidak ada yang salah. Semua hanya kesalahpahaman yang harus segera diluruskan.
"Jadi apa yang Ibu katakan tadi benar, Kirana?" tanya Bu Ratih setelah keduanya merasa sedikit tenang.
Meski hatinya gundah, namun perlahan Kirana mengangguk. Saat ini dia sedang butuh tempat untuk bersandar. Dan dekapan ibunya membuat dia mampu kembali tegar.
"Mas Tristan sebenarnya orang baik, Bu. Hanya saja dia masih terjebak dengan masa lalunya."
Bu Ratih mendesah kasar. "Kamu terlalu baik menjadi seorang istri. Sudah tersakiti masih saja membela suamimu. Dengar Kirana, ibu tidak pernah memaksa kamu harus menikah dengan laki-laki yang sesuai dengan keinginan Ibu. Tapi setidaknya kamu memilih laki-laki yang bisa menghargai kamu. Menjaga dan menyayangi kamu dengan tulus. Ibu dan Ayah sejak kamu dalam kandungan hingga sampai saat ini tidak pernah membiarkan kamu kesusahan. Ibu tidak rela jika tiba-tiba orang lain datang dan hanya menyakiti kamu."
"Maaf, Bu. Kirana minta maaf." Kirana menyusut air yang kembali meleleh.
"Carilah kebahagiaan atas pilihanmu selama itu masih bisa kamu temukan. Jika tidak, jangan menjadi bodoh karena mencintai seseorang. Lihatlah dunia luar. Banyak hal yang bisa membuatmu tersenyum. Kamu masih muda, jangan korbankan dirimu untuk orang yang tidak bisa menghargai kamu."
"Bu …. "Kirana tertegun menangkap maksud penuturan ibunya.
"Ibu tidak akan ikut campur tentang urusan kalian. Kamu sudah dewasa. Bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kamu."
Kirana mengangguk meski dia justru merasa ibunya tengah menyindirnya. Dia kembali mendekap ibunya. Dekapan paling hangat yang hanya sejak sebulan lalu mendiamkannya. Kirana tahu betul, ibunya memiliki hati yang begitu luas. Meski kadang disertai dengan emosi yang meledak-ledak. Namun hatinya akan terbuka setelahnya.
__ADS_1