Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
60. Kedatangan Silvia


__ADS_3

"Aku ke sini untuk menagih janji kamu, Mas." Silvia berkata tanpa dipersilakan duduk oleh Tristan. Perempuan itu seolah tidak punya malu lagi mendatangi Tristan di rumah utama.


"Janji apa?" jawab Tristan dingin.


"Kamu janji akan mencarikan pekerjaan setelah kamu memecatku. Tapi nyatanya apa, Daniel menolakku. Dia mengatakan sedang tidak butuh pegawai baru."


"Itu urusan Daniel mau menerimamu atau tidak."


"Bukankah ini karena campur tanganmu?" balas Silvia sinis. Aku nggak nyangka kamu bisa setega itu denganku. Setelah kamu menyuruh orang mengeluarkan barang-barangku dari apartemen lalu menjual apartemen itu, kamu pun menutup kesempatanku untuk mendapatkan pekerjaan baru."


Tristan tersenyum miring. "Ini semua karena kamu yang tidak tahu diri. Selama ini saya sudah berbaik hati padamu. Tapi kamu justru berbuat semaumu sendiri. Masih beruntung saya tidak membuatmu mendekam di balik jeruji besi karena ulahmu membuat berita sampah."


"Kalau begitu saya minta harta peninggalan Mbak Elita!" ujara Silvia geram.


Ucapan Silvia justru membuat Tristan tertawa meremehkan. "Dengar Silvia, Elita meninggal tidak meninggalkan harta apa pun. Semua penghasilannya setiap bulan dia sumbangkan 100% ke yayasan sosial," terang Tristan.


"Sayang sekali, orang sebaik dia harus punya adik sepertimu," lanjut Tristan.


"Lalu bagaimana dengan rumah itu. Bukankah rumah itu adalah kado pernikahan untuk Mbak Elita. Artinya rumah itu sepenuhnya milik Mbak Elita. Saya adik satu-satunya. Tidak ada salah kalau saya meminta sebagian peninggalannya."


"Rumah itu hak Mentari!" tegas Tristan. "Carilah pekerjaan lain, Silvia! Jangan mengganggu kehidupan saya lagi. Saya masih berhati memberimu kebebasan menghirup udara di luar."


Wajah Silvia pun seketika mengiba. Dia menjatuhkan diri duduk bersimpuh di kaki Tristan. Mengharapkan belas kasih lelaki itu. Bertahun-tahun mengenal Tristan, dia tahu lelaki keras kepala itu tidak bisa melihat orang dalam kesulitan.


Namun yang Silvia temui kali ini, Tristan bukan sosok yang dia kenal kenal selama ini. Hatinya benar-benar membatu.


"Mas, tolong bantu saya sekali ini saja. Saya janji tidak akan mengganggumu lagi," Silvia masih mengiba di kaki Tristan.


Tristan membuang pandangannya ke sembarang arah. Agar tetesan embun dari kedua mata Silvia tidak terlihat olehnya.


"Selama ini, kesulitanmu yang mana yang yang tidak pernah saya bantu, Sil? Saya sangat menyayangkan sikap kamu. Kamu terlalu berambisi menggapaI apa yang bukan ditakdirkan untuk kamu. Sampai nekat melakukan segala cara," Tristan seolah mengingatkan Silvia.


"Aku nggak tahu lagi harus ke mana sekarang, Mas. Kamu tahu saya tidak punya tempat tinggal lagi, saya tidak punya tabungan." Silvia kembali mengiba.


"Itu bukan urusan saya, Sil. Berpikirlah bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup. Selama ini kamu terlalu nyaman dengan apa yang sudah kamu dapatkan sampai lupa untuk investasi," ucap Tristan.


"Kamu bisa jual mobil itu. Dan mulailah bertumpu pada kakimu sendiri," lanjutnya lalu dia memutar kursi rodanya.


"Mas!" panggil Silvia. "Mas Tristan!"


Tristan melajukan kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Lalu menutupnya. Meski teriakan Silvia masih terdengar begitu jelas di tangannya. Dia sudah bertekad untuk tidak lagi memberikan sekedar belas kasihannya untuk Silvia. Tidak peduli bagaimana cara Sivia mengiba padanya.

__ADS_1


Di ruang tamu, Tristan mendapati Kirana tengah berdiri menatapnya. Semua pembicaraannya dengan Silvia dia yakin terdengar oleh Kirana yang berdiri di dekat pintu.


"Ayo ke dalam!" ajaknya meraih tangan Kirana.


Perempuan itu pun mengikuti laju kursi roda Tristan tanpa membuka suara. Pikirannya tengah berkecamuk mengingat percakapan Tristan dan Silvia di teras rumah. Hatinya yang mudah sekali tersentuh tentu saja tidak bisa membayangkan saat Silvia mengiba.


Kirana mencoba membuang pikirannya yang terkadang terlalu naif. Silvia bahkan nyaris memporakporandakan pernikahannya dengan Tristan. Dia tidak pantas untuk dikasihani. Meskipun perempuan itu sama-sama sedang hamil seperti dirinya.


Kirana masih bertanya-tanya. Siapa ayah dari bayi yang dikandung Silvia jika Tristan tidak mengakuinya. Ingatan Kirana pun melayang pada saat tanpa sengaja dia melihat sosok menyerupai Silvia masuk ke sebuah kamar hotel.


"Kirana!" Panggilan itu membuat Kirana terkesiap.


Tristan sudah berada di depan pintu kamar, sedang Kirana mematung setelah menghentikan langkahnya di ruang tengah. Perempuan itu pun bergegas menyusul suaminya masuk ke dalam kamarnya.


"Mas!"


"Ya?"


"Kamu yakin anak yang dikandung Silvia bukan anakmu?" tanya Kirana ragu.


"Astaghfirullahal'adzim. Kamu butuh tes DNA untuk membuktikannya? Kalau iya, saya bisa lakukan itu."


Kirana pun terdiam mendengar jawaban Tristan yang lagi-lagi terdengar sangat yakin.


Tristan membuang nafas kasar. "Saya tidak tahu dan saya juga tidak peduli siapa ayah bayi yang dikandungnya," jawabnya kemudian.


"Sudahlah, tidak usah memikirkan apa yang bukan urusan kita. PR kita masih banyak untuk membenahi rumah tangga kita sendiri," lanjut Tristan berniat mengakhiri pembahasan mereka tentang Silvia.


"Kamu benar-benar sudah tidak peduli lagi dengannya. Dia adik Mbak Elita loh, Mas. Masih punya ikatan darah dengan Mentari."


Tristan memutar kursi rodanya, mendekati ranjang tempat di mana Kirana sedang duduk. Tangan pria itu terulur membelai pipinya.


"Saya tidak peduli. Kamu dengar itu, Kirana?" ucap Tristan menatap intens wajah uang semakin bulat itu.


"Please! Jangan memikirkan orang lain lagi. Di sini hanya ada kamu dan saya. Tolong pikirkan saya yang sedang sakit kepala karena rasa rindu yang ingin segera saya tuntaskan, Kirana," ungkap Tristan setelah keromantisan yang susah payah dia bangun dengan Kirana harus berantakan karena bunyi bel yang tidak henti-henti.


Meski Tristan menolak untuk bertemu, Silvia tetap bersikeras menunggu di teras rumah. Dan hal itu membuat Kirana yang membukakan pintu untuk tamu yang tidak sopan itu memaksa Tristan untuk menemuinya.


"Kamu nggak mau pahala?"


Kirana pun mencebik. Tristan mulai membawa-bawa dalil tentang hak dan kewajiban suami istri.

__ADS_1


"Kamu nggak ingat kalau sedang sakit. Setelahnya kamu harus mandi," ujar Kirana kemudian.


Tristan menipiskan bibirnya. "Tenang, saya sudah mulai belajar. Lewat internet, saya juga punya seseorang yang menjadi tempat rujukan untuk bertanya banyak hal yang selama ini tidak saya ketahui."


Kirana mengerutkan dahi. Dia bahkan tidak tahu kapan Tristan melakukan itu semua. Karena sehari-hari yang dia tahu, Tristan lebih banyak merenung di dalam kamar.


"Aku nggak pernah tahu. Kamu belajar sama siapa memangnya?" tanya Kirana penasaran dengan suaminya.


"Itu nggak penting. Ayolah! Jangan membuat kepala saya bertambah sakit," rengek Tristan.


"Jawab dulu!"


"Kalau saya jawab kamu mau?" Wajah Tristan mendadak cerah saat Kirana menjawab dengan deheman.


"Sama .... suami teman kamu."


Kirana kembali mengernyit. Mencoba menerka-nerka siapa orang yang dimaksud Tristan.


Sepanjang pernikahan mereka, Tristan hanya mengenal satu orang teman Kirana, yaitu Syifa.


"Nggak mungkin Mas Baraka, kan?" pertanyaan yang lebih mirip sebuah tebakan.


"Nggak usah pakai mas!"jawab Tristan yang tidak pernah suka dengan sebutan Mas dari Kirana untuk Baraka


"Benar kamu belajar sama dia?" Kirana meyakinkan sekali lagi.


"Hmm. Kenapa memangnya?" sahut Tristan dengan wajah kesal karena Kirana justru mengerling mata menggodanya.


Kirana terkekeh. "Cie! Udah jadi bestie, nih?" godanya mencolek pipi sang suami.


Tristan turun dari kursi rodanya bertumpu pada satu kaki lalu duduk di samping istrinya. Kirana heran, dalam kondisi berjalan saja susah suaminya masih sempat memikirkan kebutuhan batinnya.


"Come on, Baby! The stage is yours!" bisik Tristan setelah keduanya tanpa sehelai benang pun.


Dering ponsel Tristan yang meraung-raung kembali mengacaukan semuanya. Tristan meraih ponselnya di atas nakas lalu melihat sekilas nomor yang meneleponnya. Nama temannya yang terpampang di layar. Mungkin Lucky sudah ada di depan mengantar mobil pesanannya.


"Tan, gue udah di depan." Suara Lucky terdengar dari ponsel yang di loudspeaker.


"Lo masuk aja, Ky, Gue lagi bilyard, tanggung. Kalau mau minum ambil sendiri di dapur!"


"Setan, lo!"

__ADS_1


Tristan terkekeh mendengar umpatan dari Lucky.


__ADS_2