
"Lucky…. Dia sibuk!"
Mendengar jawaban Silvia, Tristan pun hanya diam. Dia tahu seberapa sibuk apa temannya itu. Di antara mereka bertiga, Lucky yang selalu paling banyak memiliki waktu luang. Seharusnya dia mempunyai banyak waktu untuk mengantar Silvia jika hanya sekedar mengantar ke dokter.
"Lucky punya bisnis baru?" tanya Tristan setelah beberapa saat diam.
"Ya…. Begitulah." Jawaban Silvia yang terdengar ragu kembali membuat Tristan terdiam.
"Aku masuk dulu, ya!" Silvia beranjak saat mendengar namanya dipanggil.
Kirana dan Tristan pun mengangguk.
Keduanya saling pandang saat Silvia menghilang di balik pintu ruang praktek dokter.
"Silvia kayak lagi sedih nggak sih, Mas?" Pertanyaan Kirana dibalas dengan usapan pada lengannya oleh Tristan.
Tanpa diungkapkan, Tristan tentu memahami hal yang sama. Dia jauh lebih mengenal Silvia daripada Kirana. Silvia akan mudah mengekspresikan suasana hatinya. Wajah Silvia yang kelihatan lebih tirus dan sedikit pucat. Kelopak mata yang terlihat cekung. Cukup menggambarkan jika Silvia tidak dalam keadaan baik.
"Mas, menurutmu Silvia bahagia nggak sama Lucky?" Kirana bukan sedang bertanya tapi dia menebak tentang kehidupan rumah tangga Silvia dan Lucky.
"Mas nggak tahu. Sejak mereka menikah, Mas nggak pernah ketemu Lucky."
Lucky memang seolah menghindari Tristan. Awalnya dia pikir karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk hang out dengan teman-temannya. Namun setelah Tristan sembuh 2 minggu yang lalu pun Lucky tidak pernah terdengar kabarnya. Daniel yang kerap menjenguknya pun tidak pernah menyinggung tentang Lucky.
Dia pun mengambil ponsel di sakunya. Mencoba menghubungi Lucky namun beberapa kali panggilannya diabaikan. Tristan pun mengantongi kembali benda itu. Sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Mengingat Lucky selalu fast respon jika Tristan menghubunginya.
"Mas, Kirana, aku duluan ya!"
Kirana dan Tristan menoleh ke arah Silvia yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Keduanya kembali mengangguk kemudian menatap Silvia yang berjalan semakin menjauh.
__ADS_1
Panggilan dari perawat membuat mereka terkesiap. Kirana dan Tristan beranjak dari kursi tunggu.
Kirana merebahkan diri di bed pemeriksaan. Setelah diolesi gel, Kirana merasakan sebuah alat bergerak-gerak di atas kulit perutnya. Bunyi degupan jantung bayi yang ada di dalam perutnya selalu membuatnya terharu. Meski sudah ke sekian kalinya melakukan pemeriksaan, Kirana tetap saja berkaca-kaca melihat rekaman janinnya di layar.
"Dok, saya mau lihat gendernya," ujar Kirana yang sontak membuat Tristan terkejut.
Detak jantung jantung Kirana serasa berpacu lebih cepat saat dokter wanita itu mengiyakan permintaan Kirana. Begitu juga dengan Tristan yang terlihat begitu serius menatap ke layar. Kirana merasakan genggaman tangan suaminya yang semakin erat.
"Jenis kelaminnya.…laki-laki."
"Yes!" Seruan Tristan membuat dokter yang tengah memeriksa Kirana menoleh dan terkekeh.
"Papanya senang sekali dapat teman," gurau sang dokter.
"Iya dong, Dok. Kan yang pertama sudah cewek," sahut Tristan menanggapi dokter yang dulu memeriksa kehamilan istri pertamanya.
Meski sedang duduk di ruang tunggu apotek dan ada beberapa orang yang sedang menunggu obat, Tristan tidak canggung mengusap dan mencium perut Kirana. Tanpa disadari jika beberapa bar di belakang mereka ada Silvia mengamati semua perlakuan Tristan pada Kirana.
Sampai nama Silvia dipanggil keduanya baru mengetahui jika Silvia pun tengah mengantri obat. Tristan melihat banyak perubahan yang terjadi pada Silvia, lebih pendiam, seolah menutup diri. Wanita itu bahkan hanya mengangguk dari kejauhan saat urusannya dengan petugas apotek selesai. Dan dia meninggalkan ruangan pengambilan obat.
Namun saat Tristan dan Kirana hendak keluar dari gedung itu, mereka justru mendapati Silvia duduk di lobi. Wajahnya pucat dan tampak lesu.
Kirana yang mendadak iba bergegas mendekat.
"Sil, kamu ok?" tanyanya.
Silvia mengangguk. "Aku nggak apa-apa."
"Tapi muka kamu pucat, lho."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," sahut Silvia diiringi senyum hambar.
"Tadi kata dokter kondisimu bagaimana, Sil?" Kali ini Tristan yang bertanya.
"Nggak apa-apa, Mas. Semua baik. Aku….hanya sedikit lelah."
Tristan sangat yakin, Silvia menyembunyikan sesuatu agar terlihat baik-baik saja.
"Kamu ke sini bawa mobil sendiri?" tanya Tristan lagi.
"Naik taksi."
"Kalau begitu aku telpon suamimu."
"Nggak usah, Mas!" jawab Silvia seketika.
Tristan pun menatap Silvia yang menunduk mencegahnya untuk menghubungi Lucky. Wanita itu terlihat begitu gugup dan wajahnya semakin pucat.
"Kenapa?"
Silvia terdiam dan masih menunduk.
"Ada apa kamu sama Lucky?" cecar Tristan.
Silvia justru kini berkaca- kaca. Lalu tangisnya pun pecah. Kirana yang duduk di samping Silvia merengkuh bahu orang yang pernah sangat dibencinya karena beberapa kali berusaha merusak hubungannya dengan Tristan.
Silvia hanya bisa tersedu dalam dekapan Kirana. Seolah ada beban yang sedang ditumpahkan.
Hal itu pun membuat Kirana kelu. Entah apa yang sedang dirasakan Silvia, dia hanya ingin memberikan sandaran untuk wanita yang sedang terlihat sangat rapuh.
__ADS_1