
"Kalau mereka berantem di sini gimana, Mas?" tanya Kirana cemas.
"Biarin aja."
Kirana mendengus. "Kalau sampai Lucky kasar kan kasihan Silvia."
Kirana semakin gelisah karena mendengar perdebatan dibawah yang belum juga redam. Saling memaki saling mengumpat. Seolah tidak peduli jika mereka sedang berada di rumah orang lain.
"Gue mau mati aja."
"Mati aja sana. Tapi jangan bawa anak gue."
"Oh, lo masih ngaku ini anak lo? Maba tanggung jawab lo sebagai bapaknya? Lo nggak tahu seberapa berat gue hamil anak lo. Tapi lo semuanya sendiri. Lo nggak mikirin perasaan gue. Lo senang-senang booking ***** buat muasin lo. Lo mikir nggak sih kalau udah punya istri dan sebentar lagi bakal jadi bapak?!" cerocos Silvia mengungkapkan kekesalannya.
"Gue nyari cewek lain itu semua juga karena lo!"
"Heh, brengsek! Lo pikir gue nggak sakit tiap kali lo main kasar? Lo mikir nggak di dalam ada anak lo. Mana bukti lo sayang sama ana? Bullshit!"
Lucky terdiam. Selama ini Silvia memang tidak pernah mengeluh. Dia akan menahan rasa sakit dengan berdiam di dalam kamar mandi. Dan janin di dalam perutnya ternyata anak yang mungkin sudah ditakdirkan kuat sejak dalam kandungan.
Usai memaki-maki suaminya, Silvia menghempaskan punggung di sandaran sofa. Lelah, jika harus terus bertengkar. Jika punya pilihan, dia ingin mengakhiri saja pernikahan tanpa rasa cinta itu. Namun, kakinya terlalu rapuh untuk menopang dirinya sendiri. Hingga dia terpaksa mengalah demi bisa menumpang hidup pada suaminya.
"Ayo pulang!" ajak Lucky dengan nada yang terdengar lebih tenang.
Silvia tak menyahut. Tubuhnya terasa semakin lemah. Sekelilingnya perlahan terlihat kabur. Dan dia tidak bisa melihat apa-apa lagi selain kegelapan.
"Sil!" Lucky menepuk pipi Silvia.
__ADS_1
"Sisil!" panggilnya lagi. Namun Silvia tumbang ke samping jika saja Lucky tidak segera menangkapnya.
"Sil! Jangan bercanda, Sil!" Lucky mendadak diselimuti kepanikan.
Dia berteriak memanggil Tristan yang ada di lantai Dia masih menepuk-nepuk pipi Silvia agar segera bangun sambil menanggil nama istrinya itu.Otaknya serasa buntu melihat Silvia terkulai lemas.
Hingga terdengar suara Tristan yang menyuruhnya untuk segera membawa Silvia ke rumah sakit. Lucky pun bergegas membopong istrinya menuju ke mobil.
"Lo duluan! Nanti gue nyusul!" ujar Tristan yang di balas anggukan.
Sepanjang mengenal Lucky, mungkin ini pertama kalinya Tristan melihat temannya itu begitu ketakutan.
"Hati-hati. Lo bawa nyawa anak istri lo!" Tristan menepuk bahu Lucky sebelum pria itu masuk ke mobil.
Lucky pun kembali mengangguk. Nyata sekali jika dia memang sangat panik. Mobil SUV hitam itu pun melesat meninggalkan rumah Tristan.
Tristan hanya menggelengkan kepala melihat temannya melajukan mobil kencang. Kendati dia pun merasa khawatir akan keadaan Silvia namun wajahnya tetap terlihat datar.
"Nanti saja."
"Tapi nanti Silvia bagaimana?"
"Sayang, kamu nggak usah ikut panik. Silvia sudah sama suaminya."
"Ya tapi kan mereka habis bertengkar. Nanti kalau Lucky…."
"Mereka akan baik-baik saja. Biar saja Lucky mengatasi sendiri masalahnya. Dia harus belajar bertanggung jawab pada keluarganya." Tristan meuakinkan Kirana agar tidak terlalu panik dengan kondisi Silvia.
__ADS_1
Kirana pun terdiam. Dia menurut saat Tristan kembali mengajaknya masuk. Meskl dia sudah bersiap menyusul ke rumah sakit dengan tas di tangannya.
Membayangkan kembali pertengkaran mereka berdua, Kirana tidak yakin jika Lucky akan memperlakukan Silvia dengan baik. Tapi mengapa suaminya justru terlihat tenang membereskan kekacauan yang dibuat oleh Silvia fan Lucky. Kaleng dan botol minuman yang berserakan di lantai. Juga tumpahan minuman yang berceceran. Entah apa yang dibuat sepasang suami istri itu. Sampai membuat ruang keluarga rumah Tristan seperti kapal pecah.
"Mereka kalau bertengkar ngeri juga, ya? Sampai berantakan begini," gumam Kirana sambil mengelap cairan yang tumpah di sofa dengan tisu.
"Ke kamar lagi, yuk!"
Kirana pikir suaminya sudah lupa tentang apa yang tengah mereka lakukan sebelum Lucky berteriak memanggilnya tadi. Namun ternyata dia salah. Tristan menarik tangannya menuju ke kamar mereka. Melanjutkan keromantisan yang tertunda.
Kirana tidak habis pikir dengan suaminya, di saat terjadi pertengkaran hebat di rumah itu, Tristan justru bermain-main dengan lekukan tubuhnya.
Klek!
Pintu kamar pun terkunci. Tristan melucuti semua pakaian istrinya. Menikmati setiap inchi tubuh yang terlihat begitu indah baginya.
Kirana tidak tahan untuk tidak mengeluarkan *******. Tristan terlalu nakal.menyentuh titik-titik sensitifnya. Hingga dia merasakan kakinya tak mampu menapak lagi ke lantai kamar.
"Sekarang?" Tristan menatap Kirana dengan wajah menggoda. Kirana pun mengangguk.
"Pelan, ya?" ucap Kirana di tengah hasratnya yang telah membumbung.
"Ok, Baby! Ash your wish!"
Dan tubuh berisi Kirana pun kini melayang kemudian mendarat ke atas ranjang. Namun suara dering ponsel mengacaukan pikiran Kirana. Meski tidak demikian dengan Tristan.
"Angkat dulu, Mas!"
__ADS_1
"Sssst!" Tristan menempelkan jari telunjuk ke bibir Kirana. "Tutup mata dan telingamu dari dunia, Sayang. Ikutlah bersamaku ke khayangan."
Kirana pun mengangguk. Lalu maya bulat itu pun memejam. Merasakan dirinya dihujam oleh kenikmatan. Suara dering ponsel seolah sebuah instrumen yang mengiringi mereka terbang ke awang-awang.