
Kirana termenung di dalam kamarnya. Makanan yang diantar Bi Elis pun belum juga disentuhnya.
Sakitnya kini lebih dari saat Tristan mengusirnya. Dia terlanjur dilambungkan setinggi-tingginya karena perubahan sikap Tristan, namun saat jatuh pun begitu sakit.
Di saat hati dan raganya sudah sepenuhnya dia serahkan pada suaminya, dan benih lelaki itu telah tumbuh dalam rahimnya, namun perpisahan itu justru terasa akan semakin dekat. Kirana tidak punya kelapangan hati untuk berbagi suami. Sudah cukup dia merasakan harus berbagi hati dengan Elita yang sudah tiada. Namun jika harus membaginya untuk wanita lain lagi, Kirana tidak yakin akan sanggup.
"Wi!" Suara ibu mertuanya memanggil diiringi ketukan pintu.
Kirana menggeser tubuhnya turun dari ranjang, lalu menyeret langkah untuk membuka pintu.
"Mama boleh masuk?"
Kitana mengangguk. "Silakan, Ma."
Kirana kembali ke ranjang. Duduk bersandar ditemani ibu mertuanya.
"Mereka ada affair, Ma," ujar Kirana setengah bergumam setelah beberapa saat diam.
Kabar itu tentu saja bukan hal yang mengejutkan bagi Bu Ratih. Karena dia pun memergoki sendiri Silvia berada di rumah Tristan. Selama ini semuanya sengaja dia simpan dengan rapat. Saka halnya dengan Mentari, dia pun tidak ingin kehilangan Kirana. Terdengar egois memang.
"Silvia hamil anak Mas Tristan," ujar Kirana lagi.
Bu Ratih kembali hanya bisa terdiam. Semua kemungkinan itu memang bisa saja terjadi. Namun jika harus mengakui anak dari hasil hubungan gelap itu dia pun tidak akan sudi.
"Lalu kalian bagaimana?" tanya Bu Ratih kemudian.
Kirana menggeleng. Saat ini dia merasakan kebimbangan yang luar biasa. Rencana gugatan cerai mungkin saja akan tetap dilanjutkan. Tapi bagaimana dengan Mentari? Jika boleh, dia akan membawa serta Mentari ke kampung halamannya. Meski itu terdengar sangat mustahil. Mengingat dia tidak punya hubungan darah dengan putri sambungnya itu.
Wajah sendu Bu Ratih semakin mengacaukan pikiran Kirana. Wanita itu, kenapa harus begitu menyayanginya sehingga harus menjadi pertimbangan bagi Kirana.
Kirana pun mengusap perutnya. Tak lebih lima bulan lagi, bayinya akan lahir. Bukan masalah baginya menjalani kehamilan dan melahirkan tanpa didampingi oleh suami. Bahkan dia pun mampu menghidupi anaknya sendiri. Namun dia membayangkan jika anaknya kelak menuntut keberadaan ayahnya, tentu hal itu akan semakin menyayat hatinya.
"Mama minta maaf, karena tidak bisa mendidik anak Mama dengan benar. Hingga berkali-kali membuat kamu kecewa."
"Ma, ini bukan salah Mama." Kirana menjadi tidak tega melihat raut penyesalan di wajah ibu mertuanya.
"Jujur saja, Mama berat jika Mentari akhirnya harus kehilangan kamu. Tapi Mama tidak punya hak untuk melarang kamu menentukan pilihan."
Titik bening yang sejak tadi ditahan oleh Kirana pun meluncur bebas tanpa bisa dikendalikan lagi.
Bu Ratih merengkuh menantunya. Membiarkan Kirana menumpahkan beban hidupnya melalui deraian air mata.
"Mama tahu, cintamu sudah begitu besar untuk Tristan. Tapi hal itu ternyata tidak mampu membuat Tristan berubah menjadi suami yang baik. Mama benar-benar minta maaf," ucap wanita itu. Tangis Kirana pun semakin pecah.
__ADS_1
Rasa itu, kenapa harus tumbuh begitu cepat bahkan Tristan sendiri yang memupuknya. Namun lelaki itu juga yang tiba-tiba memupusnya.
"Mama hanya minta, tinggalah di sini sampai anak kalian lahir. Mama yang akan bertanggung jawab menggantikan suamimu. Jika kamu sudah tidak sudi melihat wajahnya, Mama akan menjamin jika Tristan tidak bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi," ucap Bu Ratih dengan tegas
Kini Kirana tahu, dari siapa watak Tristan menurun. Semua watak ibu mertuanya terduplikasi dalam diri sang putra. Keras kepala, tegas, namun bisa juga lembut pada tempatnya. Hanya saja sifat kerasnya menurun lebih banyak sehingga lebih mendominasi.
***
Plak!
Tristan membanting amplop coklat itu ke meja di depan Silvia yang tengah duduk di sofa. Pria itu bahkan masuk tanpa permisi ke apartemen yang dihuni Silvia.
"Apa maksudnya ini?!" tanyanya dengan tatapan tajam pada Silvia.
"Kamu kenapa sih, Mas? Datang-datang marah?" sahut Silvia dengan sikap tenang meski melihat wajah Tristan yang sangat tidak bersahabat.
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu! Apa sebenarnya yang kamu mau dari saya?"
"Astaga, Mas. Kamu itu pintar. Masa iya nggak bisa paham kalau aku itu mau ka-mu!"
Tristan menarik sudut bibirnya. "Kamu benar-benar tidak bisa dikasih hati. Saya beri waktu kamu satu kali 24 jam untuk mengosongkan apartemen ini. Saya akan tunjukkan dari mana kamu berasal."
Silvia membelalak. "Apa-apaan kamu, Mas? Kamu sendiri yang bilang kalau aku boleh tinggal di apartemen ini sampai kapan pun. Kenapa sekarang kamu mengusirku? Aku sedang mengandung anak kamu, Mas."
"Tentu saja kamu tidak ingat, Mas. Karena kamu melakukannya dalam keadaan mabuk!'
"Cukupl! Sepertinya saya harus memberitahumu, kalau saya memasang cctv di setiap sudut rumah. Jangan coba-coba bermain dengan saya, Silvia. Kamu tahu bagaimana saya. Tidak peduli siapa pun kamu, saya akan membuatmu menderita jika masih saja berniat menghancurkan keluarga saya."
Silvia pun tertegun. Penuturan Tristan menghancurkan semua rencananya. Cctv? Dia bahkan tidak melihat benda itu di dalam kamar tamu rumah Tristan.
"Ingat. Kosongkan segera apartemen ini!" Tristan memperingatkan Silvia yang masih mematung di tempatnya.
Brak!
Suara bantingan pintu membuat Silvia berjingkat.
Tristan mengacak rambutnya kasar. Bayangan Elita terbaring di ruang ICU berputar-putar dalam pikirannya .
.
"Maaf, El! Aku nggak bisa memenuhi janji itu. Senyum Mentari lebih dari segalanya untukku." Lelaki itu menggumam.
Mobil yang dikemudikannya melaju tanpa tujuan. Rumah bukan lagi tempat yang ingin dijadikan tempat untuk pulang, namun dia juga tidak tahu akan ke mana. Hampir satu jam dia hanya berkendara menyusuri jalanan.
__ADS_1
Tangan kirinya memasang earphone. Lalu menggulir layar ponselnya mencari nomor kontak seseorang.
"Gue tunggu di tempat biasa," ujarnya pada seseorang yang dihubunginya. Kemudian menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari si penerima.
Tristan menghentikan mobil di sebuah tempat hiburan malam. Menunggu Daniel, yang tak juga kelihatan batang hidungnya. Bahkan hingga beberapa lama menunggu, temannya itu tidak juga muncul.
Dia pun menarik handle pintu dan menutupnya kembali dengan kasar hingga menimbulkan bunyi debaman yang cukup kencang.
Kehadiran Tristan di tempat itu memang selalu menjadi pusat perhatian wanita para pekerja klub. Karena dia sesekali datang dengan Daniel yang memang gemar menggoda mereka. Namun saat Tristan datang sendiri, tidak ada satu pun yang berani mendekat.
Satu sloki minuman racikan bartender hanya dipandanginya oleh Tristan. Wajah Kirana seolah menari-nari di atas cairan keemasan. Itu Dia pun meneguknya hingga tak bersisa. Satu gelas, dua gelas hingga Tristan tak mampu lagi menghitungnya. Lelaki itu bahkan tidak mampu lagi menopang kepalanya.
Hingga dia merasakan sebuah tepukan di bahunya. Tristan mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat.
"Sorry, gue baru datang!" kata Daniel.
"Ke mana aja lo, Brengsek!" sahut Tristan meracau kesal.
"Biasa. Lagi sama Bianca."
Tristan pun berusaha menegakkan punggungnya. Beranjak dari kursi bar yang dia dia duduki.
"Mau ke mana lo?" tanya Daniel melihat Tristan menjauh dengan sempoyongan.
"Pulang!"
Daniel mengekor Tristan hingga sampai ke tempat parkir.
"Gue anterin, ya?"
"Gue bisa pulang sendiri! Lo urusin aja cewek lo itu!" Tristan menjawab sambil membuka pintu mobilnya.
Brak! Pintu kembali ditutup dengan kasar sebelum Daniel kembali mencegahnya.
Membiarkan Tristan menyetir sendiri dalam keadaan mabuk bukan hal yang tepat. Namun dia kalah cepat karena Tristan telah mengunci semua pintu. Hingga dia harus menggedor-gedor pintu agar Tristan membukanya kembali.
Namun pria di dalam mobil itu justru melajukan mobilnya keluar dari klub malam. Daniel pun bergegas menuju ke mobilnya. Dia mengawal Tristan yang berkendara tanpa aturan.
"Gila!" umpatnya melihat mobil Tristan melaju dengan kencang mendahului kendaraan lain. Hingga beberapa kali terdengar suara klakson memekakkan telinga dari pengendara lain.
Ciiit! Brak! Brak!
Daniel tercekat saat melihat mobil Tristan telah berhenti menabrak pembatas jalan.
__ADS_1