Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
37. Cemburu Lagi


__ADS_3

Bukannya semakin kesal, Tristan justru tersenyum geli melihat ekspresi wajah Kirana. Istrinya itu lebih all out mengungkapkan rasa cemburunya.


Memori otak Kirana berputar kembali ke masa lalunya saat bersama Tristan. Seolah dia mempunyai ruang untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Dan hala itu justru membuat Tristan tidak berhenti tersenyum karena ekspresi wajah dan nada bicara Kirana yang justru terlihat lucu.


Lelaki itu membiarkan istrinya berceloteh semaunya. Menjadikan dirinya tempat sampah untuk membuang kekesalan Kitana. Sedangkan rasa kesalnya entah telah tergerus ocehan Kirana.


"Sudah selesai? Kalau sudah, makan dulu. Ngomel kan butuh energi. Nanti kalau sudah makan lanjut lagi," ujar Tristan saat Kirana berhenti berbicara.


"Apaan, sih?!" sahut Kirana kesal.


Tristan tertawa lebar melihat Kirana bersungut-sungut.


"Kamu kalau marah ternyata lucu, ya. Nggak kalah sama Mentari. Umur kamu berapa, sih?"


Kirana mendesah pelan. Begitu tidak pedulinya Tristan sampai usianya saja dia tidak tahu. Entahlah, laki-laki macam apa yang menikahinya.


Kirana mengabaikan pertanyaan Tristan. Dia kembali fokus pada layar di depannya saat Tristan melihat layar ponsel yang baru saja diambil dari saku celananya.


Tampak lelaki itu meletakkan ponselnya di meja, Bunyi getaran benda pun terdengar sapi ke telinga Kirana. Membuat perempuan itu melirik sekilas. Dari durasi getaran yang cukup lama, sudah pasti ada panggilan masuk. Tapi Tristan mengabaikannya.


"Kenapa tidak diangkat, Mas?" tanya Kirana tanap mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Bukan hal yang penting," sahut Tristan.


"Orang melakukan panggilan berulang kali itu pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan." Kirana mencoba menebak jika panggilan itu dari Silvia.


Suara ponsel bergetar tidak terdengar lagi. Hanya saja benda itu menyala cukup lama di atas meja. Kirana beranjak dari kursi dan iseng melongok layar ponsel Tristan.


"Itu dari sekretarismu. Pasti penting. Siapa tahu ada hal tentang pekerjaan yang ingin dia bicarakan."


Dengan rasa enggan, Tristan mengambil ponselnya. Melirik Kirana yang masih terus menatapnya seolah sedang mengintimidasi.

__ADS_1


"Pakai pengeras suara! Kamu sudah janji tidak ada dusta di antara kita."


Tristan menggulir tombol hijau lalu menekan pengeras suara.


"Mas Tristan di mana? Kenapa nggak bilang kalau nggak masuk kerja? Panggilanku nggak dijawab pesanku juga kenapa cuma dibaca? Aku lagi butuh kamu, Mas. Masa aku harus jadi asistennya Bu Keke? Apa kata orang satu kantor? Aku nggak mau, Mas." Silvia memberondong Tristam dengan curahan hatinya


Tristan mendesah kasar. Menatap Kirana pun dia tak bernyali. Karena tanpa harus melihatnya, hawa dingin telah menerpanya membuat bulu kuduknya merinding.


"Mas? Mas masih di situ?" tanya wanita di seberang telepon.


"Ya. Saya sedang ada urusan pribadi. Nanti kita bicarakan kalau saya sudah kembali," jawab Tristan.


"Tapi berapa lama? Aku nggak tahan melihat mereka seperti meremehkan aku," rengek Silvia.


"Lakukan saja job kamu yang sekarang, Sil. Jangan terlalu dengar kata orang," jawab Tristan pelan.


"Atau jangan-jangan ini juga keinginan Mas Tristan untuk mutasi aku? Mas ingin ganti sekretaris baru?"


"Urusan kantor kita bicarakan nanti kalau saya sudah kembali ke Jakarta. Sementara jangan hubungi saya dulu." Tristan mengakhiri panggilan dari Silvia. Tidak peduli dengan Silvia yang pasti kesal karena panggilannya diputus sepihak.


Tristan menyandarkan punggungnya. Kembali menoleh pada Kirana yang masih terdiam. Namun sorot mata Kirana masih menyiratkan rasa marah kesal dan seperti sedang menunggu penjelasan darinya.


"Dia itu sebenarnya sekretaris atau istri kamu? Atau sekretaris rasa istri? Sampai tidak punya batasan merengek seperti itu?!"


Kirana beranjak lalu kembali ke meja kerja Syifa setelah Tristan hanya diam saja seperti tidak berniat menanggapi ucapannya.


Mencoba untuk melanjutkan pekerjaannya meski konsentrasinya telah buyar. Mengumpulkan kembali mood bekerja pun sia-sia. Kirana berdecak kesal pada dirinya sendiri karena gagal mengontrol emosinya.


Rasa kepemilikannya pada Tristan tidak rela jika ada yang mengusiknya. Setelah melalui perjalanan yang tidak mudah baginya. Bahkan dia nyaris membunuh perasaannya sendiri andai saja suaminya tidak berubah secepat itu.


Kirana melihat Tristan dari ekor matanya yang kini justru memfokuskan diri pada laptopnya. Merasa diabaikan, Kirana meninggalkan tempat duduknya. Mencoba merefresh pikiran dengan mengunjungi bagian produksi. Mengecek random hasil jahitan tiap bagian meski dia tidak benar-benar mengecek. Hanya membuang rasa sebal pada suaminya. Terkurung dalam satu ruangan namun hanya saling mendiamkan membuatnya kesal. Atau memang seperti itu watak suaminya? Tidak peka dengan suasana hati istri. Kirana sepertinya memang belum benar-,benar mengenal siapa dan bagaimana Tristan.

__ADS_1


Cukup lama Kirana berkeliling di tempat produksi. Berbincang dengan penanggung jawab bagian bagian produksi dan mendengarkan keluh kesah tentang kurangnya karyawan karena mereka sering keteteran mengejar target sampai harus lembur. Aspirasi itu pun dicatat Kirana baik-baik. Mungkin sudah saatnya membuka lowongan pekerjaan. Menggantikan beberapa orang yang terpaksa resign karena harus mengurus anak yang masih bayi. Dia pun kembali dilema. Memikirkan bagaimana nasib usahanya jika tiba-tiba Syifa meminta resign. Besar kemungkinan jika Baraka akan melarang Syifa untuk bekerja. Lelaki itu sudah cukup mapan secara finansial. Tanpa harus bekerja, Syifa oun akan tercukupi. Kepala Kirana mendadak semakin penat. Sehingga dia memutuskan untuk kembali ke ruangan Syifa.


Kirana tidak melihat Tristan di dalam ruangan itu. Laptop pria itu masih terbuka. Namun pemiliknya entah ke mana. Di dalam kamar mandi pun tidak terdengar ada tanda-tanda kehidupan. Rasa kehilangan membuatnya mencari ke seluruh penjuru rumah produksi itu. Namun, batang hidung suaminya tidak juga terlihat. Bahkan motor yang tadi mereka pakai pun tidak terlihat di tempat parkir. Kirana menimang-nimang ponselnya. Rasa ingin menghubungi suaminya pun tertimbun oleh egonya. Kirana kembali masuk mengabaikan perasaan cemasnya. Apa pula yang harus dicemaskan? Tristan lelaki dewasa yang tidak mungkin tersesat meski berada di tempat yang masih asing.


Kegelisahannya berakhir saat melihat Tristan masuk membawa sebuah kantong belanja berlogo nama sebuah minimarket waralaba. Kantong plastik berukuran besar yang terlihat penuh.


"Mau es krim?" Tristan mengeluarkan satu box es krim dan satu cup dengan varian rasa berbeda.


Mana mungkin Kirana menolak. Es krim adalah salah satu mood booster baginya. Tapi dari mana Tristan tahu? Bahkan varian rasa yang sedang menjadi favoritnya pun tahu. Atau mungkin hanya kebetulan.


Kirana menunggu Tristan membukakan es krim untuknya. Tiga rasa buah berjajar membuatnya tidak sabar jika hanya menggunakan sendok es krim kecil. Dia mengambil sendok dari tas kotak bekal yang dibawakan ibunya.


"Mas nggak mau?" tanya Kirana karena Tristan hanya melihatnya makan meski dia sudah menyiapkan dua sendok.


"Mau. Mau coba rasa kopi."


Kirana dengan senyum lebar mengangkat box es krim. Yang isinya sepenuhnya akan dihabiskan sendiri.


"Mas!"


"Hmm."


"Saya boleh minta satu hal?"


Tristan terdiam. Kemudian menggeleng pelan.


"Kamu tidak perlu meminta. Saya yang akan mencari tahu sendiri apa yang kamu mau dan saya akan memenuhinya tanpa kamu harus meminta. Karena satu hal yang pernah kamu minta membuat saya sakit kepala."


Kirana menautkan alisnya. "Apa itu?"


"Perpisahan. Saya takut kamu akan memintanya lagi."

__ADS_1


__ADS_2