
"Masuk saja, dulu. Sandinya sudah ganti pakai tanggal kiita," ucap Tristan saat mereka tiba di rumah.
Kirana pun mengangguk. Dia masuk ke rumah lebih dulu dan membiarkan Tristan mengurus Mentari yang masih tertidur.
Beberapa bulan meninggalkan rumah itu, banyak perubahan yang terjadi. Interior rumah terlihat berbeda dari saat dia tinggalkan. Tidak terlalu banyak perabotan sehingga ruangan terlihat lebih luas. Dan meski masih warna tembok masih sama dengan semula, namun tercium bau cat yang masih begitu menyengat. Kentara sekali jika rumah itu belum lama di cat ulang.
Satu hal yang membuat Kirana terkejut. Bingkai-bingkai foto di ruang tengah yang dipenuhi gambar Elita telah menghilang. Tembok itu kini tampak bersih. Sofa dan beberapa perabot lain pun terlihat baru bagi Kirana.
Kirara masuk ke dalam kamar Mentari untuk menyala pendingin ruangan. Berbeda dengan ruangan di luar, tidak ada yang berubah dengan kamar Mentari Kirana memastikan tempat tidur kecil itu bersih sebelum Tristan menidurkan Mentari.
Anak itu sama sekali tidak terbangun meski telah berpindah tempat. Kirana mengecupnya pelan lalu menyusul Tristan keluar dari kamar itu.
"Kamu ubah interiornya, Mas?" tanya Kirana menyusul Tristan yang sedang mengambil minum di dapur.
"Hmm. Sementara ini yang bisa kulakukan. Nanti kita cari rumah yang baru."
"Untuk?"
"Untuk tempat tinggal kita," sahut Tristan setelah menandaskan isi gelasnya
Kirana mengernyit. "Memangnya kenapa dengan rumah ini?"
"Tidak ada. Hanya saja, saya ingin melangkah dengan kamu tanpa dibayangi masa lalu. Rumah ini mungkin meninggalkan kenangan buruk untuk kamu. Kita tinggal di sini untuk sementara waktu, sambil mencari rumah baru yang sesuai keinginanmu."
Kirana menipiskan bibir lalu menggeleng perlahan.
"Mas, kamu dan masa lalumu itu tidak mungkin bisa dipisahkan. Aku ingin kamu berdamai dengan masa lalumu. Percaya bahwa yang telah terjadi itu memang sudah menjadi takdir yang harus dijalani. Aku tidak akan egois memaksa kamu untuk melupakan masa lalumu. Aku hanya minta sebagian saja tempat di hatimu. Dan satu lagi. Mentari harus tetap mengenal sosok yang membuat dia ada di dunia ini. Mengenal semua kebaikan-kebaikannya untuk dijadikan panutan," tuturnya kemudian.
Tristan merengkuh bahu Kirana. Membawa istrinya itu ke dalam dekapannya. Rasa cinta yang begitu dalam dirasakan Kirana melalui sentuhan bibir yang menempel di pucuk kepalanya.
"Saya tidak tahu harus berucap apa pada Mama. Yang telah memilih kamu untuk menjadi istri saya. Wanita hebat yang begitu luas hatinya," ucap Tristan.
Trisan terperanjat saat merasakan sesuatu berkedut menyentuh bagian bawah tubuhnya.
"Dia bergerak?" Tristan mengusap istrinya. Kirana mengangguk penuh haru.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Baru saja?"
"Serius?" Rona bahagia terpancar di wajah lelaki itu.
Kirana pun tersenyum mengangguk. Seketika tubuhnya melayang. Tristan menggendongnya naik ke lantai dua menuju ke kamar mereka.
Isi ruangan itu kembali membuat Kirana terkejut. Semua telah berganti dengan perabotan yang baru. Pigura jumbo yang dulu menempel di kamar itu pun kini telah berganti. Gambar dirinya dan Tristan saat berada di pantai tempo hari. Hatinya kembali tersentuh dengan apa yang dilihatnya.
Dia tidak menyangka, Tristan telah menyiapkan banyak hal sebelum dia kembali ke rumah itu. Hatinya yang sempat meragu pun kini semakin yakin jika laki-laki yang kni tengah membaringkan tubuhnya benar-benar telah berubah.
"Mas, itu kan foto yang kemarin? Siapa yang masang disini?"
"Ada lah," jawab Tristan seraya merebahkan diri di samping Kirana
Seolah mendapat mainan baru, dia mengusap-usap perut Kirana. Pergerakan bayi di dalam sana seolah menjadi candu yang ingin dia rasakan kembali.
"Kok dia nggak gerak lagi?" protesnya saat sang bayi hanya diam saja.
Kirana heran, ini bukan pengalaman pertama bagi Tristan akan mempunyai seorang bayi. Namun suaminya itu begitu antusiasnya. Bahkan sikap kekanakannya mulai terlihat. Usia Tristan bahkan 7 tahun lebih tua dari Kirana. Tetapi dia menggerutu seperti anak kecil kehilangan mainan saat bayi dalam perut Kirana tak kunjung bergerak.
"Dia ngambek, Pa. Minta makan nggak diturutin!"
Tristan menaikkan alisnya. " Mamanya atau dia yang minta makan?"
"Ya dua-duanya. Mamanya makan kan buat dia juga." sahut Kirana kesal.
Sejak di rumah ibu mertuanya tadi dia sudah mencium aroma masakan Bi Elis dari dapur. Tapi Tristan malah mengajaknya pulang. Akhirnya dia hanya bisa menelan saliva membayangkan sop ikan buatan Bi Elis.
Saat di perjalanan menuju rumah pun Kirana meminta untuk membeli makan dan jawabannya sungguh mengecewakan. Tidak sadarkah dia jika sepanjang perjalanan tadi Kirana memang menolak untuk makan berat karena takut mual.
"Ya sudah, mau makan apa? Pean saja!" Tristan mengulurkan gawainya.
"Mau ke rumah Mama lagi. Tadi Bi Elis masak sop ikan."
__ADS_1
"Astaga! Yang jual sop ikan itu banyak nggak harus ke rumah Mama."
"Nggak mau. Aku maunya yang dimasak Bi Elis. Kamu sih tadi buru-buru ngajak pulang."
Tristag mendesah pelan. "Masa harus ke sana lagi? Jauh, Sayang."
Kirana membalik badan memunggungi Tristan. Apa salah menginap barang satu malam atau pulang lebih larut menunggu makan malam di sana?
"Kita beli saja, ya?" bujuk Tristan sambil mengusap rambut panjang Kirana.
Kirana tak menyahut. Bahkan hingga beberapa kali Tristan membujuknya.
"Harus yang dimasak Bi Elis?" tanyanya setelah tidak berhasil membujuk Kirana.
Kirana mengangguk. Lalu membalik badan menatap wajah suaminya yang justubyerlihat sangat lucu baginya. Wajah pasrah saat terpaksa melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki.
"Mas kenapa tadi tiba-tiba ngajak pulang? Ada masalah sama Mama? todong Kirana yang membuat wajah Tristan berubah panik
Jangan lupa jika Kirana dapat membaca pikiran manusia melalui perilakunya meski sedang berusaha disembunyikan. Sejauh apapun Tristan mencoba menghindar tatapan mata Kirana.
"Mas?" Kirana menatap Tristan penuh selidik.
"Tidak ada."
Hembusan kasar pun terdengar. "Baiklah kalau kamu enggan berterus terang. Tapi harus diingat, ya. Sebuah hubungan itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya jika masih ada yang disembunyikan. Teruslah berbohong dan hidupmu akan selalu dihantui rasa bersalah. Dengan catatan, itu akan terjadi jika kamu benar-benar mencintai pasanganmu. Tapi kalau cinta itu hanya keluar dari mulutmu, tentu saja berbohong tidak akan menjadi masalah. Karena cinta yang kamu ucapkan itu semu. Dan sikap baikmu pun tentu saja juga semu," papar Kirana panjang lebar dengan tegas.
"Kok jadi ke mana-mana hanya karena perkara sop ikan? Kita ke rumah Mama sekarang kalau kau ingin makan malam di sana," putus Tristan kemudian.
"Sudah nggak mood!" tegas Kirana lau dia beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
"Ambilkan kopernya, saya mau mandi," ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi.
Namun daun pintu terhalang oleh kaki yang mengganjal. Pintu terdorong dan kembali terbuka. Lengan Kirana ditarik hingga dia keluar dari bilik kecil itu dan terhempas membentur dada bidang suaminya.
"Tolong jangan marah, saya akan jelaskan semuanya."
__ADS_1