Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
86. Samudra


__ADS_3

Tristan tersentak saat mendengar suara lenguhan. Dia yang baru keluar dari kamar mandi bergegas mendekat ke arah bed. Rasa haru tidak mampu dibendungnya. Melihat bibir Kirana yang bergerak dan kembali melenguh. Tristan sampai tidak bisa berkata-kata karena terlalu bahagia melihat tanda-tanda istrinya bangun dari tidur panjangnya.


"Sayang? Kamu bangun?" Berulang-ulang bibir itu mendarat di pipi Kirana.


"Alhamdulillah!" Seketika pria itu luruh ke lantai. Sujud syukur atas keajaiban yang dialami istrinya. Memohon ampun karena telah berburuk sangka mendahului takdir. Rasa trauma memang belum sepenuhnya dia lupakan.


Ternyata prasangka buruk yang menggelayuti pikirannya sejak kemarin tidak terjadi. Istrinya perlahan membuka mata.


"Anak kita?" tanya Kirana lirih setelah kesadarannya benar-benar pulih.


"Dia baik-baik saja." Tristan mengusap sudut mata yang berembun.


"Maaf," bisik Kirana lagi.


Tristan menggeleng sembari menahan air mata. "Mas yang salah. Mas minta maaf karena tidak menjaga kalian dengan baik." Tristan menangkup wajah pucat istrinya. Lalu kembali mengecup seluruh wajah Kirana.


"Kenapa menangis?"


Tristan tertawa pelan di sela genangan air mata yang mulai tumpah. "Aku bahagia. Terlalu bahagia."


"Mana Samudra? Aku mau ketemu dia?"


Bersamaan dengan itu, seorang dokter didampingi seorang perawat wanita yang akan mengecek kondisi Kirana masuk ke dalam ruangan. Mereka tersenyum ramah melihat pasien yang sudah sadar.


Tristan membiarkan dua orang itu melakukan tugas mereka. Mengecek perkembangan kesehatan Kirana. Dia patut bersyukur, Kirana wanita kuat yang mampu melampaui masa kritis yang bagi Tristan begitu menegangkan. Dua orang itu pun kembali keluar dari ruangan setelah mengecek dan juga menanyakan keluhan Kirana.


Tristan mengambil bayinya dari dalam box, lalu mendekatkannya pada Kirana. Wanita itu pun tidak mampu menahan haru. Melihat bayi tampan yang tampak tenang.


"Letakkan sini, Mas!" Kirana menunjuk atas dadanya.


"Tapi kamu masih lemah."

__ADS_1


"Nggak papa. Aku ingin memeluknya."


Tristan pun menurut. Meletakkan bayinya di dada sang istri. Pipi tembem itu seketika basah oleh lelehan air mata bahagia dan haru. Kirana melingkarkan lengannya mendekap putranya.


"Tolong buka kancing bajuku, Mas!"


"Hah?!" sahut Tristan tercengang.


"Dia harus belajar menyusu."


Tristan pun membuatkan bibirnya. Dia membuka beberapa dua kancing teratas piyama istrinya. Kemudian membantu anaknya menemukan sumber kehidupannya.


Kirana meringis saat merasakan hisapan pertama yang terasa sakit karena lidah bayi yang masih tajam.


"Sakit?" tanya Tristan ikut-ikutan meringis. Kirana pun mengangguk pelan.


"Udahan dulu, ya?" ujar Tristan merasa tidak tega karena istrinya masih begitu lemah namun keukeuh ingin mencoba menyusui anaknya.


"Ayah dan Ibu sudah dikabari, Mas?"


Tristan tertegun. Terlalu sibuk dengan pikirannya, dia sampai lupa mengabarkan persalinan Kirana pada mertuanya. Pria itu pun mengambil gawai di meja.


Wajah-wajah penuh bahagia terlihat di layar saat Tristan melakukan panggilan video call untuk memberitahu kelahiran cucu pertama mereka. Tak berlangsung lama, karena dua orang itu meminta Tristan menutup telepon. Mereka tidak sabar untuk datang menjenguk anak dan cucu pertama mereka.


Tristan mengambil makanan diet dari rumah sakit setelah meletakkan gawainya kembali di meja.


"Aku boleh makan nasi padang nggak ya, Mas?" Pertanyaan itu membuat Tristan mendesah pelan.


"Nanti Mas tanyakan ke dokter, ya. Sekarang makan yang dianjurkan saja dulu."


Kirana mencebik. Makanan rumah sakit yang terasa hambar baginya itu pun masuk ke dalam mulutnya. Perlahan dikunyahnya dan memaksakan diri untuk menelannya.

__ADS_1


"Lagi, ya?" bujuk Tristan melihat istrinya enggan makan makanan yang ada ditangannya.


"Kamu harus makan makan banyak kalau mau cepat pulih, Sayang. Samudra pasti rindu untuk selalu di gendong mamanya."


Mendengar ucapan suaminya, Kirana pun membuka mulut kembali. Apa pun demi putranya harus dia lakukan. Setelah beberapa lama terkurung dalam kegelapan, dia tidak ingin melewatkan kesempatan sedetik pun untuk bersama putranya.


Tirta bening kembali menitik. Tristan yang melihat itu segera mengusap dengan ibu jarinya. Dengan senyum tipis untuk menguatkan istrinya.


Mereka menoleh hampir bersamaan saat mendengar bunyi pintu dibuka. Bu Ratih terlihat masuk ke dalam ruangan bersama Mentari. Disusul oleh dua orang, laki-laki dan perempuan hamil.


Wanita itu baru subuh tadi pulang ke rumah, nanti pagi menjelang siang ini sudah kembali ke rumah sakit. Dia bergegas meletakkan tasnya begitu melihat Kirana sedang makan di suapi oleh Tristan.


"Alhamdulillah." Hanya kata itu yang terucap. Wanita itu pun mendekap menantunya dengan penuh haru.


"Bunda!" Mentari pun ikut naik ke atas ranjang untuk memeluk Kirana. Sejak semalam dia menangis terus karena mengkhawatirkan keadaan Kirana. Dan pagi tadi saat omanya pulang, dia memaksa untuk diantar ke rumah sakit.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf ya, Bunda nggak jadi bikin kuenya," ucap Kirana mendekap putri sambungnya.


"Mentari nggak mau kue. Mentari mau Bunda sembuh dan pulang ke rumah," sahut anak itu membuat Kirana kagum dengan kebesaran hatinya.


Kirana pun menyambut dekapan Silvia yang datang bersama Lucky yang tengah mengucapkan selamat pada Tristan.


"Kok bisa tahu kita di sini?" tanya Tristan.


"Tadi rencana kita mau ceck up. Ketemu Tante Ratih di depan katanya Kirana sudah melahirkan. Kita mampir ke sini aja sekalian." terang Lucky.


"Siapa namanya, jagoan lo ini?" Lucky mendekatkan wajah ke dalam box.


Tristan pun menatap Kirana. Mereka sudah berencana mengumumkan nama anak mereka saat aqiqah nanti. Namun karena Mentari pun ikut-ikutan mendesak ingin tahu, Kirana pun mengangguk pelan.


"Namanya Samudra Trisna Pratama,"

__ADS_1


Lucky pun tersenyum sambil menggeleng heran. Setelah Mentari Cinta El Pratama, kini anak kedua Tristan pun namanya tidak jauh dari bau-bau kebucinan bapaknya.


__ADS_2