Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
39. Pengganggu


__ADS_3

Kirana mengambil map warna hijau yang terselip di antara deretan map-map di meja kerjanya. Mengambil berkas-berkas yang tersusun di dalamnya lalu merobeknya menjadi beberapa bagian. Serpihan kertas itu berakhir di tempat sampah.


Keinginannya untuk mengurus perceraian setelah melahirkan telah dia pupus. Anaknya harus tumbuh dalam keluarga yang utuh. Terlalu egois rasanya jkka dia tetap bersikeras untuk berpisah dari Tristan.


Nasihat kedua orang tuanya, harapan yang begitu besar dari ibu mertuanya, dan Tristan yang telah berubah menjadi seorang suami yang lebih baik. Juga hatinya yang masih sepenuhnya untuk suaminya. Dia tidak punya alasan lagi untuk melanjutkan niatnya untuk mengajukan gugatan perceraian.


Kirana hanya berharap perubahan sikap Tristan kali ini benar-benar tulus. Bukan sekedar sandiwara seperti waktu-waktu sebelumnya. Jika sampai hal itu terjadi, pintu maafnya akan tertutup selamanya untuk Tristan.


Ponsel Tristan yang tergeletak di meja rias yang berdering. ******* kasar pun lolos dari organ nafas Kirana. Silvia lagi? Untuk urusan apa dia masih gencar menghubungi Tristan mengingat dia bukan lagi sekretaris suaminya.


Kirana menyambar benda kotak itu lalu menggeser tombol hijau. Menunggu si penelepon berbicara tanpa berniat menyapa terlebih dulu.


"Kamu di mana, Mas? Aku ke rumah tapi kamu nggak ada." Suara Silvia terdengar di seberang telepon. Kirana sengaja tidak membuka suara sampai Silvia memanggil nama Tristan berulang kali.


"Hallo! Ini Mas Tristan, kan?" panggilnya lagi.


"Saya istrinya. Ada urusan apa kamu menelepon suami saya?" sahut Kirana dengan tegas.


Terdengar tawa mengejek di ujung sana. Sejak awal perempuan itu sengaja ingin mengibarkan bendera perseteruan dengan Kirana. Karenanya Kirana tidak pernah bisa untuk bersikap baik pada Silvia


Mudah baginya untuk menyingkirkan Silvia dan membuat perempuan itu menjadi gelandangan. Sekali membuka mulut, maka ibu mertuanya yang akan mengutus orang untuk mendepak Silvia dari perusahaan.


Namun tidak akan secepat itu. Baru dimutasi menjadi staf biasa saja dia sudah panik. Entah berapa kali dalam sehari ini menghubungi Tristan. Meminta tolong untuk dipindahkan ke posisinya semula. Kirana merasa harus mencari tahu, kenapa ibu mertuanya sampai turun tangan memutasi Silvia.


"Saya mau bicara dengan Mas Tristan. Berikan hpnya pada dia!" Suara Silvia terdengar lagi dengan nada memerintah.


Hal itu tentu saja membuat Kirana merasa geram. Sekalipun dia tidak ada hubungan apa pun dengan urusan di perusahaan keluarga suaminya, namun sikap Silvia jauh dari kata sopan pada Kirana yang notabene adalah suami bosnya.


Klik! Kirana justru menutup panggilan dengan sadis. Perempuan seperti Silvia memang tidak pantas dikasih hati.


Kirana berusaha membuka kunci ponsel Tristan. Meski berkali-kali gagal. Dan terakhir dia mencoba memasukkan kode tanggal pernikahannya. Dan kunci ponsel itu pun terbuka. Kirana membuka aplikasi media sosial milik suaminya. Sekali ketukan jari, Silvia tidak akan bisa menghubungi Tristan lagi.


"Nana?"


Kirana menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dia tidak merasa terkejut apalagi gugup sekalipun kepergok oleh Tristan tengah memegang ponsel milik suaminya itu.

__ADS_1


"Oh, ini Silvia baru saja telepon. Saya angkat. Boleh, kan?" ujarnya diiringi senyum singkat.


Tristan mengangguk. "Ada apa dia telpon?"


"Katanya mau bicara sama kamu. Mungkin nanti dia akan telepon kamu lagi. Tapi sayang, nomornya sudah saya blok!"


Kirana dapat melihat wajah Tristan yang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut mendengar penuturannya.


"Kenapa diblok?" tanya pria itu.


"Karena saya tidak suka. Saya merasa terganggu dengan sikapnya ke kamu. Dia bukan lagi sekertaris, bukan? Jadi tidak ada lagi urusan penting tentang pekerjaan yang akan dijadikan alasan untuk menghubungi kamu.."


"Ya tapi jangan main blok begitu. Nanti kalau dia ada perlu yang lain bagaimana?"


"Urusan apa? Urusan Mentari. Saya tidak pernah melihat dia dekat dengan Mentari. Bahkan cenderung tidak peduli. Atau kamu ada urusan pribadi yang lain sama dia?" Kirana menatap Tristan penuh selidik. Diulurkannya ponsel itu pada Tristan.


"Kalau kamu keberatan, silakan buka lagi. Tapi kamu yang akan saya blok selamanya dari kehidupan saya," ucap Kirana dengan santai namun mampu membuat Tristan ciut.


Tristan menerima ponsel yang diulurkan Kirana lalu meletakkan begitu saja di atas kasur.


"Kok mukanya nggak ikhlas?" protes Kirana.


Tristan pun menghela nafas pelan. "Ikhlas."


"Kalau ikhlas kenapa mukanya asem begitu?"cecar Kirana.


"Ya ampun! Terus harus seperti apa maunya?"


"Senyum, dong! Yang tulus!" tuntut Kirana.


Tristan menarik nafas, lalu membuangnya kasar.


"Iya, Sayang.mas ikhlas kamu blokir siapa pun nomor yang membuat kamu merasa tidak nyaman. Asal jangan kamu blok Mas dari hatimu," sahutnya lalu mencubit pipi Kirana yang semakin mengembang seperti bakpau.


Kebiasaan baru Tristan yang sekarang suka sekali menarik-narik pipinya karena gemas. Kenyal seperti mainan Mentari, katanya.

__ADS_1


Kirana mengaduh meski tidak benar-benar merasa sakit. Dia mengusap-usap pipinya yang putih bersih dan tampak memerah karena cubitan. Tristan justru terkekeh melihat Kirana menggerutu.


"Ayo ganti baju! Katanya mau jalan," ujar Tristan setelah mengenakan bajunya.


"Nggak jadi. Capek," jawab Kirana.


"Makanya pakai asisten. Kalau nggak kuat bayar, nanti Mas yang bayar." balas Tristan lalu mengangkat tubuh Kirana ke tengah ranjang. Lalu meluruskan kaki istrinya.


"Iya, iya. Yang paling banyak uang," sahut Kirana dengan kesal karena merasa diejek oleh suaminya.


Perlahan dia merasakan pijatan di bagian bahunya. Pelan namun membuatnya meringis kesakitan. Berlama-lama duduk di depan komputer membuat otot-ototnya kaku.


Kirana membuka piyamanya agar suaminya lebih leluasa memijat punggungnya. Dia tak menyangka suaminya begitu pandai memijat. Seolah tahu di mana letak otot-otot yang tegang.


"Mas!"


Tristan berdehem sambil terus memijat punggung Kirana.


"Setelah sekretarismu di mutasi, nanti siapa sekretarismu yang baru?"


Kirana merasakan gerakan tangan Tristan berhenti. Tak lebih dari dua detik, dan tangan itu kembali memijat bahunya.


"Kalau boleh saran, yang laki-laki saja," imbuh Kirana.


Tristan pun mengiyakan meski terdengar berat. Kirana tidak tahu nasibnya sedang di ujung tanduk. Menunggu keputusan sang mama akan kedudukannya saat ini. Mamanya tidak main-main dengan ucapannya. Dia diberhentikan meski untuk sementara waktu. Dan selanjutnya, Tristan belum tahu akan nasibnya. Sehingga saat ini dia sedang fokus dengan bisnis percetakan yang selama ini dikelola orang kepercayaannya.


Mamanya pun sepertinya juga masih punya hati tidak begitu saja memecat Silvia. Namun jika Silvia masih bertingkah, bukan tidak mungkin dia akan benar-benar diberhentikan dari pekerjaannya.


"Mas?"


Tristan terkesiap dan lekas menyahut panggilan Kirana.


"Kok berhenti mijatnya? Kalau capek stop aja."


"Sebentar. Mas ambil minyak dulu biar lebih enak mijatnya."

__ADS_1


Kirana menolak. Dia sedang sensitif dengan bau-bauan dari minyak aroma terapi yang justru membuatnya merasa mual. Dia pun mengenakan kembali piyamanya meski tubuhnya belum benar-benar lega. Namun sikap Tristan yang mendadak aneh membuat dia memilih untuk menyudahinya lalu keluar dari kamar.


__ADS_2