
"Mas nanti kalau pulang siang belikan aku rujak, ya," pesan Kirana saat mereka tengah di meja makan pagi itu.
"Kayaknya siang nggak pulang. Tapi nanti lihat schedule dulu."
Kirana mengangguk mengerti. Pekerjaan Tristan memang sedang banyak-banyaknya.
"Rujak?!" Bu Ratih menimbrung6 pembicaraan mereka. "Ngisi lagi?" tanyanya dengan mata memicing. "Sam baru satu setengah bulan,loh. Nggak kasian kalau harus punya adik? Lagi pula kamu kan habis caesar. Nggak kasihan perut kamu? Kamu juga, Tristan. Pikirkan kesehatan istrimu. Jangan memikirkan dirimu sendiri," omelnya.
"Apaan sih, Ma? Siapa juga yang ngisi? Nyoba aja belum." jawab Tristan seolah mengungkapkan isi hatinya.
Kirana baru saja selesai nifas. Dan dia belum tega untuk menyentuh istrinya. Meski hasratnya sudah menggebu untuk dituntaskan. Dia masih bertahan untuk menundanya. Tidak tega, alasan itu yang membuatnya menahan diri.
"Kirain," jawab Bu Ratih akhirnya.
Mentari yang tidak mengerti dengan maksud pembicaraan dua orang itu hanya diam sembari menatap bergantian. Sampai Kirana menegurnya untuk segera menghabiskan sarapan.
Kirana memasukkan bekal ke dalam tas Mentari. Dan juga botol minum yang sudah diisi penuh.
"Bekalnya jangan lupa dimakan ya, Sayang." Kirana mengingatkan Mentari saat anak itu mencium punggung tangannya.
"Ya, Bunda," sahut Mnetari lalu dia masuk ek mobil mendahului ayahnya.
"Berangkat dulu ya, Sayang." Tristan mengecup kening Kirana.
"Hmm. Hati-hati, Mas."
Begitulah keseharian Kirana saat ini. Dia telah meninggalkan semua kesibukannya dengan dunia luar. Mengabdikan diri sepenuhnya pada sang suami. Menjadi seorang ibu yang selalu memilki waktu 24 jam setiap harinya untuk anak-anaknya.
Kirana merasa hidupnya saat ini begitu sempurna. Mempunyai suami yang sangat baik dan memprioritaskan keluarga. Anak yang lucu-lucu semakin melengkapi kebahagiaannya. Dia juga dikeillingi orang-orang baik yang menyayanginya. Bukan hal yang musah untuk bjsa mencapai titik itu. Tidak sedikit air mata yang telah tumpah, salah paham hingga menimbulkan pertengkaran demi pertengkaran, bahkan tidak sekali dua kali badai menerpa pernikahannya dengan Tristan yang baru sebentar. Bahkan satu tahun pun belum genap. Jalan mereka masih jauh membentang ke depan.
Dia hanya selalu ingat pesan ibunya bahwa setiap pernikahan itu pasti akan diuji. Dan setiap pasangan akan diuji dengan hal yang berbeda. Jika Kirana boleh meminta, dia ingin ujian yang telah dia lalui cukup, dan tidak ada lagi ujian selanjutnya.
Kirana bercengkerama dengan bayinya yang sudah mulai bisa diajak bercanda. Bersuara dengan mulut membuat dan menggerakkan tangan dan kakinya. Samudra benar-benar membuat Kirana jatuh hati.
Semakin bertambahnya usia, wajah Samudra seolah duplikat ayahnya. Mata hidung, bibir, bahkan betuk wajahnya menyerupai Tristan. Kirana hanya bgain ketitipan benih saja.
"Permisi, Neng!" Suara Bi Elis mengalihkan perhatian Kirana yang tengah bercengkerama dengan anaknya.
"Siapa, Bi?"
__ADS_1
"Nggak tahu, Neng. Katanya temannya Neng Kirana. Laki-laki."
Dahi Kirana berkerut. Sepanjang hidupnya Kiran jarang berteman dengan laki-laki. Satu-satunya teman laki-laki yang cukup dekat dengannya adalah Baraka. Namun tidak mungkin jika dia datang tanpa memberi kabar.
"Tamunya Mama mungkin, Bi," ujar Kirana masih belum yakin.
"Bukan, Neng. Dia mau ketemu Neng Kirana."
Kirana menjadi penasaran. Dia meminta Bi Elis menjaga Samudra. Karena bayinya itu pasti akan merengek jika tidak ada orang di sekelilingnya.
Dia pun menyeret langkah ke ruang tamu. Meski sebenarnya Kirana enggan menerima tamu karena merasa tidak mengenal orang yang disebutkan oleh Bi Elis. Apalagi di rumah hanya ada dirinya ditemani ART-nya. Ibu mertuanya dan Nining baru saja berangkat belanja mingguan ke pasar diantar oleh Pak Cip.
Orang yang sedang duduk di ruang tamu membuat Kirana terperanjat. Laki-laki itu, untuk apa dia ke sini? Kirana membatin.
Bibirnya menipis saat lelaki itu menyadari kedatangan Kirana.
"Hai, Kirana? Apa kabar?"
"Baik. Kamu kok bisa tahu aku tinggal di sini."
Ravi terkekeh. "Aku mencari tahu."
"Maaf, Ada perlu apa ya, Kak?"
Ravi kembali tertawa pelan. "Kamu nggak perlu gugup gitu, Na."
Sok dekat, memang seperti itu sikap Ravi pada Kirana sejak dulu. Hal itu yang membuat Kirana tidak suka. Ravi memang nyaris sempurna. Dia tampan, pintar, populer di kampus kala itu. Beberapa gadis pernah dipacarinya. Tentu saja mereka bukan gadis yang biasa-biasa saja. Pasti yang kecantikannya sangat diperhitungkan. Mungkin Kirana satu-satunya yang berwajah rata-rata yang didekati Ravi.
Kirana tidak tahu seberapa sukses Ravi saat ini. Tapi melihat tumpangan yang terparkir di halaman rumah, sepertinya menjadi simbol dari kesuksesannya dalam berkarir.
"Aku ingin mengobrol sebentar dengan kamu." Ucapan Ravi terdengar seperti sebuah pemaksaan.
"Maaf, aku tidak punya banyak waktu. Aku punya bayi."
"Oh, kamu sudah melahirkan? Selamat, ya."
"Terima kasih."
Keduanya pun terdiam. Kirana sengaja membuang wajah. Menghindari Ravi yang terus menatapnya.
__ADS_1
"Na, saya ke sini untuk minta menanyakan sesuatu ke kamu," ucap Ravi setelah beberapa saat diam.
"Tentang apa?" tanya Kirana.
Ravi berdehem pelan. "Nabila memutuskan pertunangan kami."
Kirana tertegun. Dia memang belum mendengar tentang putusnya pertunangan mereka. Meski Nabila sering datang untuk menjenguk Samudera, namun tidak pernah menyinggung soal Ravi sekali pun.
"Ini ada hubungannya dengan kamu?"
Kirana terbelalak. "Maksud kamu apa? Kamu menuduhku menjadi penyebab putusnya hubungan kalian? Atas dasar apa?" balasnya tak terima.
"Lalu apa lagi alasan Nabila jika bukan karena kamu?"
Kirana mendesah kasar. "Aku tidak pernah mengatakan apa pun tentang kamu ke Nabila!" Suara Kirana semakin meninggi.
"Ada apa ini?" Suara bariton terdengar dari depan pintu.
Tristan masuk dalam rumah dengan tatapan tidak suka yang diarahkan pada Ravi.
"Ada perlu apa Anda datang ke sini?" tanya Tristan.
"Ada hal yang harus saya selesaikan dengan Kirana."
"Saya suaminya. Jika ada masalah dengan istri saya, selesaikan dengan saya."
Namun Ravi justru menyambar kunci mobilnya yang sejak tadi tergeletak di meja.
"Lain kali saja kami selesaikan sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengan Anda."
"Lain kali saya pastikan Anda tidak akan pernah bertemu lagi dengan istri saya," jawab Tristan tegas.
Ravi pun beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan tempat itu setelah mengucapkan salam.
Tristan tak menyahut ucapan selamat siang yang hanya basa basi dari laki-laki itu. Dia melenggang masuk ke dalam meninggalkan Kirana yang sedang menutup pintu.
"Apa masalah yang belum selesai di antara kalian?" tanya Tristan pada Kirana yang baru saja menyusulnya ke dalam kamar.
Setiap kali mendengar suara Tristan yang tak terdengar begitu dingin, mengingatkan Kirana, akan Tristan yang dulu. Tristan yang sulit untuk disentuh.
__ADS_1