
"Mau ketemu Pak Ustadz. Di sini benar rumahnya Pak ustadz?" tanya Lucky setelah berpikir sejenak.
"Ustadz siapa yang dimaksud, Om? Di komplek ini ada dua ustadz. Ini rumah Ustadz Alfian, selisih dua rumah di sebelah sana Ustadz Zain," sahut remaja lelaki yang berdiri di belakang pagar.
Lucky merutuk dalam hati. Memaki Daniel yang tidak jelas memberi petunjuk untuknya dia pun menoleh rumah yang berada tepat berseberangan dengan rumah itu. Rumah tempat dia sering nongkrong bersama dia temannya jika sedang malas ke luar.
"Ustadz depan rumahnya Daniel. Ini, kan?"
"Oh, temannya Om Daniel, ya? Mau ketemu Abah? Ada perlu apa, Om? Sudah ada janji belum?
Ya salam! Lucky harus menghela nafas panjang mendengar pertanyaan anak remaja di depannya. Sesibuk itukah ustadz tetangganya Daniel sampai harus membuat janji sebelum bertemu? Pria berkumis itu pun menjawab jika dia belum ada janji ustadz pemilik rumah itu.
"Oh, sayang sekali, Om. Abah sedang mengisi kajian."
"Ngajar ngaji maksudnya? Pulangnya jam berapa?" tanya Lucky dengan kesabaran yang mati-matian ditahannya.
"Mungkin habis ashar sudah di rumah."
Lucky melihat jam yang melingkar di lengannya. "Habis ashar ya? Ashar jam berapa memangnya?"
Remaja itu tampak mengulum senyum. Lucky justru merasa diremehkan. Dia memang tidak pernah mengenal waktu sholat. Boro-boro tahu waktu ashar jam berapa.
Lucky memilih menunggu di mobil daripada menerima tawaran untuk menunggu di dalam rumah itu. Rasanya terlalu canggung harus duduk di ruang tamu sementara dia belum mengenal tuan rumah. Satu hal yang dia hindari, remaja tanggung itu terlalu banyak bertanya.
Melihat Silvia mulai merasa tidak nyaman, Lucky melongok jok belakang mobilnya. Tampilan pria itu memang macho tapi lihatlah yang dia bawa ke mana-mana di mobilnya. Kantong plastik berisi aneka snack sama halnya dengan Mentari.
"Mau ngemil, Sil?" Lucky menyodorkan bungkus keripik kentang yang isinya lebih banyak udara dari pada snacknya.
"Nggak!" jawab Silbia ketus.
"Kenapa? Takut gendut? Sebentar lagi kamu juga bakalan melar, Sil." Lucky berkata sambil membuka bungkus snack itu. Lalu memakannya.
Sesekali dia melongok jam yang seolah berputar sangat lambat. Decakan pun beberapa kali terdengar diiringi gerutuan.
"Astaga!" Lelaki itu menepuk dahinya. "Nikah kan butuh saksi butuh mahar. Kenapa gue lupa?" Lucky menggumam sendiri.
"Sil, kamu mau minta mahar apa? Jangan yang susah-susah, ya. Waktunya mepet," tanya Lucky dengan wajah memelas.
"Terserah kamu!"
"Kok terserah? Kamu niat nikah nggak, sih? Jangan bilang nggak? Kita udah di sini."
"Iya, iya. Berisik banget sih kamu!" bentak Silvia kesal.
__ADS_1
"Makanya kalau ditanya jawab yang jelas. Jangan terserah!"
"Lah kamu bilang waktunya mepet. Jangan susah-susah. Terserah itu artinya kamu boleh cari yang paling mudah, Lucky!' balas Silvia semakin kesal.
Lucky menghentikan perdebatan. Sepertinya dia harus belajar menahan sabar. Ya, suami yang baik memang harus memiliki kesabaran yang luar biasa. Mungkin dia juga harus belajar bagaimana bisa menjadi budak cinta seperti Tristan. Tapi bicara soal cinta, dia dan Silvia akan menikah karena sebuah pertanggungjawaban. Bukan atas dasar cinta. Entah bagaimana akan menjalani kehidupannya dengan Silvia nantinya. Lucky merasa harus mencontek banyak dari kehidupan Tristan. Bukankah temannya itu dulu bahkan sangat membenci wanita yang dinikahinya? Masih lebih mending dirinya, yang akan menikah hanya tanpa cinta. Tidak ada rasa benci antara dia dan Silvia.
Bunyi ketukan jendela terdengar. Lucky menoleh ke samping kiri. Wajah Daniel terlihat di balik kaca. Lucky pun mendorong pintu mobilnya.
"Ngapain di sini?" tanya Daniel.
"Nungguin lo!" sahut Lucky sekenanya. "Pak Ustadnya lagi ngajar ngaji. Gue nunggu di sini," ujarnya kemudian.
"Lo udah telpon Tristan suruh ke sini?"
"Belum. Emang harus datengin dia? Dia kan nggak ada hubungan darah sama Sisil?"
"Buat saksi nikahan lo, Lucky! Panggil dia sekarang!"
"Yaelah, mau nikah ribet banget, sih?!" Lucky menggerutu.
"Lo taunya kawin melulu, sih!" balas Daniel.
Sementara Lucky kembali menghubungi Tristan untuk segera datang ke tempat itu. Di seberang telpon, terdengar Tristan meracau kesal karena dia memaksa datang secepatnya.
Dengan bantuan penyangga, Tristan masuk rumah halaman rumah Daniel yang pintu pagarnya terbuka. Diiringi oleh Kirana yang berjalan di sebelahnya.
Sesampai di ruang Lucky tengah duduk bersama Silvia dan Daniel. Kirana hanya menatap sekilas wajah Silvia yang tampak sangat canggung saat melihat kedatangannya bersama Tristan.
"Di sini?" tanya Tristan sambil menyandarkan penyangganya. Jika bukan karena teman dari jaman orok, dia enggan bersusah payah harus datang dengan kondisinya saat ini.
"Nunggu ustadznya belum pulang," sahut Lucky berbarengan dengan suara pintu diketuk.
Remaja yang ternyata anak dari ustadz yang ditunggu oleh mereka memberi tahu jika ayahnya sudah tiba di rumah.
"Ini yang saksi gue sama siapa, Ky? Saksi nikah tuh harus dua," tanya Tristan lagi.
"Daniel."
"Eh, si bego. Lo emang begonya permanen, ya?!"
Keyakinan Daniel yang berbeda tentu saja tidak sah untuk menjadi saksi pernikahan mereka.
Dengan ketidakpastian, mereka pun menuju rumah yang berseberangan dengan rumah Daniel.
__ADS_1
Pernikahan Silvia dan Lucky pun disaksikan oleh Tristan dan salah satu anak Pak Ustadz. Dengan mahar cincin berlian yang tadi dipesan Lucky pada Daniel.
Setelah semua prosesi selesai, mereka kembali singgah di rumah Daniel. Dengan status Lucky dan Silvia yang telah berubah menjadi suami istri.
Tristan yang baru saja duduk di sofa, terperanjat saat tiba-tiba Silvia bersimpuh di depannya. Perempuan yang mengenakan kebaya itu terisak memegang kaki Tristan.
"Maafin aku, Mas!" ucapnya di sela isakannya. Tristan yang sejkantadi sengaja mengabaikan Silvia mengangkat bahu perempuan itu untuk memintanya berdiri.
Namun Silvia semakin erat memegang kaki Tristan.
"Bangun, Sil!"
Silvia menolak. "Kesalahanku terlalu banyak sama kamu, Mas. Sampai kamu sulit untuk memberikan maaf."
Semua penghuni ruang tamu itu memusat pada Silvia dan Tristan. Tak terkecuali Kirana yang kelu melihat adegan itu.
"Saya akan memaafkanmu, asalkan kamu merubah sikapmu, Sil. Jadilah istri yang baik. Dan ibu yang baik untuk calon anakmu."
Silvia mengangguk sambil terisak. Dia berdiri setelah Tristan kembali meminta berdiri.
Melewati Kirana tanpa mengucapkan sepatah kata, Silvia duduk bersisian dengan Lucky. Sepertinya dia masih enggan bertegur sapa dengan Kirana.
Kirana pun tidak mempermasalahkan hal itu. Karena yang terpenting baginya, Silvia tidak akan pernah mengganggu kehidupannya bersama Tristan lagi.
Suara ketukan sepatu yang cukup kencang mengalihkan perhatian semua yang ada di ruang tamu rumah Daniel.
"Sampai kapan gue harus nunggu di mobil Daniel?! Sampai lumutan gue nunggu lo!" Suara kesal Nabila terdengar di depan pintu. Sudah bukan rahasia jika Nabila paling enggan jika harus bertatap muka dengan Silvia.
"Eh, Bila! Lo ngapain keluyuran di sini? Bukannya di kantor," sahut Tristan.
"Salahin Daniel, tuh! Bilangnya ngajak makan. Taunya di bawa ke sini!" Jawab Nabila ketus.
"Bawa sana mobil Abang, nanti pulangnya ke sini, Abang antar kamu pulang," ujar Daniel pada Nabila.
"Dih, Abang! Sejak kapan lo nikah sama kakak gue?" sahut Nabila ketus lalu dia bergegas pergi begitu saja.
Sebesar apa pun kekaguman Daniel pada Nabila, tembok diantara mereka terlalu tinggi. Terlalu sulit untuk bersatu, bahkan mustahil karena masing-masing teguh pada keyakinan mereka. Meskipun Daniel berusaha menghibur diri dengan menjalin hubungan dengan perempuan lain, namun sikapnya pada kekagumannya tetap pada Nabila.
"Masa iya adik gue dua-duanya harus jadi sama temen-temen gue," sarkas Tristan melihat Daniel yang masih menatap ke arah pintu.
Setelah menangkap sinyal dari istrinya Tristan pun pamit pulang. Kirana sudah tidak nyaman berada di ruangan itu.
"Titip Sisil, Bro!" Tristan menepuk bahu Lucky sebelum meninggalkan rumah Daniel.
__ADS_1