Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
91. Thank You So Much


__ADS_3

"Jangan dibuka dulu, Bil. Kamu cantik sekali pakai baju itu." Daniel menolak saat Nabila memintanya membuka kancing-kancing kebayanya.


"Gerah, Dan." rengek Nabila yang sudah tidak tahan dengan pakaian yang membuatnya tersiksa. Karena setiap hari Nabila selalu berpakaian longgar. Lebih sering hanya mengenakan t-shirt dan celana jins.


Harus dipaksa memakai kebaya dan kain tentu saja membuatnya tidak betah. Apalagi dia memakainya nyaris setengah hari. Sejak di pelaminan tadi dia beberapa kali menggerutu.


"Dan, bantuin! Susah aku bukanya."


Daniel pun mau tak mau membantu membuka kancing yang berderet di punggung Nabila. Sedikit ribet karena kancingnya terlalu banyak.


Daniel pun harus menahan nafas saat melihat punggung Nabila terekspos. Kulit putih tanpa cela terpampang di depannya.


Cup!


Nabila pun menggelinjang. Reflek dia menarik rambut suaminya.


"Sakit, Bila!"


"Usil!" sahut Nabila kesal.


"Sayang kalau dilewatkan," balas Daniel lalu dia kembali mengusili Nabila dengan menelusupkan tangannya ke pinggang Nabila.

__ADS_1


"Ya tapi gue lagi mens, Daniel!" Nabila mendengus kesal. "Buruan bukain semua. Nanti robek kalau dipaksa."


Daniel kembali tertawa lalu melepas semua kancing baju Nabila. Hingga semuanya terlepas. ******* kasar terdengar saat Nabila dengan percaya dirinya melepas semua bajunya di depan Daniel. Sungguh penyiksaan batin yang paling menyakitkan. Kepala Daniel berdenyit melihat bentuk tubuh yang ternyata begitu sempurna.


"Sabar ya, Sayangku. Semoga hari ini hari terakhirku mens," goda Nabila membuat Daniel kembali menghela nafas.


Dia pun menghempaskan dirinya di tempat tidur yang bertabur bunga. Entah apa fungsinya. Nyatanya malam pengantinnya dia harus menahan konak sendiri. Nabila sedang tidak bisa disentuhnya. Setelah bertahun-tahun menunggu dan akhirnya sah, ternyata mendapatkan Nabila seutuhnya tidak semudah itu. Sepertinya dia salah memilih hari. Seharusnya dia bertanya dulu kapan tanggal datang bulan istrinya.


Tenang, hal itu yang kini dirasakan saat Nabila merebahkan kepalanya di pangkuan Daniel. Sejak lama keintiman itu dirindukan.


"Bil!"


"Kamu nggak nyesel menerima aku dengan kondisiku sekarang?" tanya Daniel. Nabila menggeleng tanpa bersuara.


"Meski mungkin kebersamaan itu hanya akan sementara?"


"Kok kamu ngomongnya gitu?" sambar Nabila tak suka. "Bukannya kamu sudah janji, kamu bakal nurut untuk terapi?"


"Kan hasilnya kita nggak tahu," sahut Daniel sembari memainkan rambut Nabila yang kini sudah berganti warna coklat.


"Dan, kita baru nikah lho. Masa kamu nggak optimis bisa sembuh. Kamu lupa kalau kamu ingin menua bersamaku?"

__ADS_1


Bibir pria itu menipis. Dikecupnya dahi sang istri. "Thank you so much for loving me," bisiknya.


Untuk pertama kalinya, Daniel memberanikan diri menyentuh bibir Nabila. Nabila menyambut sentuhan yang lambat laun berganti ******* lembut.


Senyum canggung terukir di bibir keduanya saat Nabila melepaskan diri. Kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk mereka bertindak lebih jauh.


"Keluar yuk, Dan!"


"Mau ngapain? Tamunya kan sudah pulang," sahut Daniel yang masih enggan melewatkan kebersamaan itu.


"Mami Catherine sama Papi Rudy masih di depan. Lupa? Kita kan tadi masuk kamar cuma buat ganti baju doang."


Sedianya mereka ke kamar hanya untuk berganti baju karena acara sudah selesai dan Nabila mengeluh sudah tidak nyaman dengan pakaiannya. Namun hingga jarum pendek jam bergeser satu angka, mereka baru keluar dari kamar.


Selain kedua orang tua Daniel, keluarga Tristan pun masih belum pulang karena mamanya Nabila yang melarang Sam agar tidak cepat-cepat pulang.


"Buatin dua sekalian, Dan. Biar anak gue nggak disandera mulu sama Tante Tiara," gurau Tristan yang dibalas Nabila dengan mencebikkan bibimya.


"Kirana hamil satu aja udah ngeri lihat perutnya. Nggak kebayang kalau gue harus hamil kembar," sahutnya.


"Gimana mau bikin. Jalan lagi diblokir, cuy!" timpal Daniel yang mengundang gelak tawa seisi ruang keluarga.

__ADS_1


__ADS_2