
"Mi, Tante Anita itu cuma mau manfaatin aku. Kenapa dia nggak jujur aja kalau anaknya itu sudah punya pacar, coba?" kilah Nabila saat mamanya mengatakan jika keinginan itu murni karena Nabila memang tidak mau menikah dengan Ravi.
"Nggak mungkin. Kamu jangan jadi menjelekkan Tante Anita. Mami mengenal Tante Anita dengan sanhat baik."
"Terserah. Kalau nggak percaya tuh tanya sama Abang. Dia juga lihat Ravi jalan sama cewek lain. Lagian Mami kenapa maksa banget Bila nikah sama dia, sih? Kayak nggak ada orang lain aja," gerutu Nabila.
"Orang lain siapa? Temannya abangmu itu?"
"Mi, Daniel punya nama."
Mama Nabila mendesah kasar. Dalam hati dia begitu menyayangkan perbedaan itu kenapa harus ada di antara mereka. Yang menjulang begitu tinggi sehingga tidak mungkin untuk dilampaui.
"Tristan, benar kamu melihat Ravi jalan sama perempuan lain." Setelah Nabila ngotot, mamanya akhirnya mau mengkonfirmasi kebenarannya pada keponakannya.
Dan Tristan yang dipanggil namanya itu tampak sedang fokus pada layar ponselnya. Lalu menempelkan pada telinganya.
"Maaf, Pak. Bu Kirana jatuh di kamar mandi."
"Apa?!"
Prak! Tristan mengambil kunci mobil di laci setelah terdengar bunyi benda membentur lantai. Pria itu bergegas meninggalkan ruang kerjanya tanpa mempedulikan pertanyaan dari tantenya.
Kabar mengejutkan yang didengar dari Nining membuatnya mengabaikan sekelilingnya. Pikirannya hanya terpenuhi oleh kekhawatirannya akan keselamatan Kirana dan bayinya.
"Bil, susul abangmu! Cepetan!" Mama Nabila mendadak ikut panik melihat Tristan keluar dengan terburu-buru. Bahkan handphone seolah bukan barang penting hingga dilempar begitu saja setelah menerima telepon.
__ADS_1
Nabila pun beranjak dari sofa yang ada di ruang kerja sepupunya. Berlari menyusul Triatan yang hampir mencapai pintu lift.
"Bang! Tunggu!"
Tristan berdecak kesal. Sepersekian detik waktu saat ini sangatlah berarti. Bayangan Kirana terkulai di kamar mandi dan berdarah-darah terus saja membayanginya.
Laju lift seolah begitu lama untuk sampai ke lantai dasar. Tristan tampak gelisah di dalam kotak besi itu. Nabila bahkan tidak berani meski hanya sekedar untuk bertanya apa yang terjadi.
Begitu pintu lift, Tristan berlari ke tempat parkir mobilnya. Untung saja Nabila perempuan yang cekatan. Dia tak kalah gesit berlari menyusul Tristan.
"Biar gue yang bawa, Bang!" Nabila memaksa masuk melalui pintu kiri.
"Gue buru-buru, Bil!"
Tristan meletakkan kunci mobil ke tangan Nabila. Pikiran sedang kacau. Tawaran Nabila sudah sangat tepat.
Meski perempuan, Nabila menguasai jalanan dengan baik. Terlihat tenang meski laju mobil dalam kecepatan tinggi.
"Ke mana, Bang?" tanya Nabila yang memang tidak tahu tujuan Tristan.
"Ke…." Tristan merogih semua kantongnya. Mencari benda yang sekarang sudah menjadi rongsokan.
Karena terlalu panik, dia sampai lupa menanyakan keberadaan Kirana saat ini lada Nining.
"Pinjem handphone lo, Bil!"
__ADS_1
Nabila merogoh saku blazernya. Mengambil ponsel lalu menyerahkannya pada Tristan.
Nomor ponsel Nabila terhubung dengan cepat dengan nomor Bu Ratih. Tristan menanyakan di mana istrinya itu saat ini. Dan sebuah rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari rumah utama menjadi tujuan mereka. Nabila melajukan mobil lebih kencang. Mendahului kendaraan lain untuk sampai lebih cepat.
Tidak ada percakapan di antara mereka. Tak dipungkiri jika Nabila pun ikut merasa panik dengan kondisi Kirana. Apalagi melihat pria di sampingnya terlihat begitu gusar.
"Harusnya gue tadi nggak kembali ke kantor." Suara Tristan terdengar parau penuh penyesalan.
Nabila diam saja. Dia mampu merasakan apa yang tengah dirasakan kakak sepupunya. Laju kendaraan pun dia pelankan saat rumah sakit tujuan mereka sudah di depan mata.
Tristan meminta turun di lobi karena ingin secepatnya masuk ke dalam rumah sakit untuk mengetahui kondisi Kirana. Tidak peduli lalu lalang orang, Tristan berlari menuju ke ruang operasi. Meski berkali-kali bahunya harus membentur sesama pengguna lorong rumah sakit. Dan kata maaf pun tidak terpikir untuk diucapkan.
"Ma!" Bibir Tristan bergetar saat dia tiba di depan kamar operasi.
"Kamu tenang, ya. Kirana sedang ditangani oleh dokter," ujar Bu Ratih menenangkan putranya meski wajahnya pun terlihat sendu.
Tristan tak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tubuhnya seperti lemah tak bertulang. Lidahnya kelu dan pikirannya teramat kacau. Membayangkan Kirana berbaring di meja operasi, berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan anak mereka.
Rasa bersalah menyelimutinya. Dia menjadi merasa menjadi suami paling tidak berguna yang tidak mampu menjaga istrinya. Tristan pun menyeka titik bening yang luruh ke pipi. Tangisan yang sama saat dia harus kehilangan istri pertamanya.
"Ampuni Tristan, Ma." Entah, kata itu meluncur begitu saja bersamaan dengan meluruhnya tubuh Tristan ke lantai.
Bu Ratih mengangguk dengan sesak yang mendera rongga dadanya melihat putranya terlihat begitu rapuh.
"Bangun! Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita doakan Kirana sama-sama," sahut wanita itu pilu.
__ADS_1