
"Siapa Ravi?"
Kirana terkejut ditodong pertanyaan dengan wajah tidak menyenangkan oleh Tristan saat mereka tiba di rumah.
"Dia kakak tingkat aku sama Nabila, Mas. Memangnya kenapa, sih?"
"Selain kakak tingkat?"
Dahi Kirana berkerut. Dia tidak mengerti arah pembicaraan suaminya bertanya lebih jauh tentang tunangan Nabila.
"Selain kakak tingkat kamu, apalagi?" ulang Tristan yang membuat Kirana berdecak kesal karena merasa didesak.
"Dia anak fakultas teknik."
"Lalu?"
"Dia lulusan terbaik di angkatannya."
"Terus apalagi?"
"Dia banyak diidolakan cewek-cewek karena Mas tahu sendiri bagaimana rupanya."
Tristan menarik sudut bibirnya. "Tahu banyak kamu tentang dia. Masa lalumu?"
Kirana tertegun menatap Tristan yang melayangkan tuduhan tanpa dasar.
"Kamu tuh ngarang banget ya, Mas," balasnya lalu berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terlalu lelah jika harus menuruti perdebatan dengan Tristan.
Namun suaminya yang belum puas dengan jawaban yang diberikannya menahan dengan mencekal tangannya. "Saya tahu dari caranya menatap kamu. Hubungan kalian bukan hanya sekedar adik dan kakak tingkat sewajarnya," ujar Tristan kemudian.
__ADS_1
Kirana membuang nafas kasar. "Mau kamu apa sih, Mas?!"
"Aku cuma mau kamu jujur. Banyak hal yang tidak kuketahui tentang kamu."
Kirana kembali mendesah kasar, "Oke, kalau memang bisa bikin kamu puas, aku buat resumenya." sahut Kirana menahan kesal.
"Kak Ravi itu kakak tingkat aku. Anak fakultas teknik …."
"Nggak usah diulang!" potong Tristan.
Kirana sepertinya harus banyak menahan sabar kala menghadapi Tristan yang tengah cemburu. Dia menatap Tristan sekilas. Suaminya itu pun tengah menatapnya sambil melipat tangan menunggu jawaban darinya.
"Dia….dulu suka sama aku…."
"Sampai sekarang pun masih," potong Tristan lagi.
"Hmm. Lalu?"
"Dia pernah…. bilang suka sama aku. Tapi aku tolak."
"Kenapa?" tanya Tristan datar.
"Ya karena aku memang mau fokus kuliah. Nggak mau nyambi pacaran. Terus dia bilang mau nunggu aku sampai selesai kuliah. Tapi kami tidak pernah bertemu dan baru bertemu lagi hari ini."
"Berarti kamu masih ngarep dia?" tuding Tristan.
"Astaghfirullah. Kamu dari tadi fitnah aku terus loh, Mas. Udah lah. Aku capek mau istirahat." Kirana pun menyeret langkahnya ke kamar mandi.
Sementara Tristan terdiam di tempatnya mengingat kembali semua penuturan Kirana. Ravi, pria good looking dengan wajah oriental ala Oppa Korea yang banyak digandrungi kaum hawa jaman sekarang. Terdengar tidak masuk akal jika Kirana bisa menolaknya. Apalagi dia termasuk salah satu penggemar drama Korea. Tristan seringkali melihat istrinya itu menghabiskan waktu untuk menontonnya. Dan sudah bisa dipastikan seleranya tidak jauh-jauh dari para tokoh pemain film yang ditontonnya.
__ADS_1
Tidak hanya fisiknya yang memukau. Tapi mendengar semua pemaparan Kirana tadi, Ravi adalah paket lengkap. Selain tampan, dia juga pintar. Dan Tante Tiara yang perfeksionis tentu akan menjodohkan putrinya dengan pria yang benar-benar mapan.
Tristan pun mendesah kasar. Dia keluar dari kamar untuk mencari mamanya
"Ma! Ma!" panggilnya pada sang mama yang akan baru pulang dari acara Nabila dengan membawa tas-tas besar. Tristan sudah bisa menebak jika isi tas plastik itu adalah makanan sisa acara. Kebiasaan mamanya yang selalu membungkus makanan sisa jika ada acara di rumah tantenya.
"Ma, suruh Tante Tiara batalin pertunangan Nabila!" ujar Tristan mendekati mamanya yang sedang meletakkan bawaannya di meja makan.
Bu Ratih mengerutkan dahi. "Kamu ngomong kok seenak udelmu. Memang apa urusannya sama kamu kamu?"
"Ma, masih banyak laki-laki yang lebih baik untuk Nabila, Ma," bujuk Tristan.
"Kamu nggak tahu bagaimana susah payahnya Tante Tiara dan mamanya Ravi membujuk mereka berdua supaya mau memulai hubungan. Lalu sekarang harus menuruti maumu? Demi teman kamu itu? Atau....Kamu takut Ravi mendekati Kirana lagi?"
Tristan tertegun sejenak. "Kok Mama tahu tentang Kirana dan dia?"
Bu Ratih tertawa mengejek. "Tentu saja tahu. Tadi Mama ngobrol banyak sama mamanya Ravi."
Tristan kembali terdiam. Mamanya Ravi tahu tentang Kirana? Sejauh apa hubungan Kirana dan Ravi sampai mamanya mengenal Kirana? Pertanyaan-pertanyaan semacamnya muncul dalam benak Tristan. Benar-benar mengacaukan pikiran.
"Kamu harus tahu, Kirana itu wanita yang baik. Pasti banyak yang menginginkan dia menjadi menantu. Karena seorang ibu pasti menginginkan wanita yang baik untuk mendampingi anak laki-laki mereka. Cantik itu relatif. Setiap wanita akan terlihat cantik di mata orang yang tepat. Jadi, jaga istrimu baik-baik, karena di luar sana banyak yang menginginkan dia tanpa sepengetahuanmu," tutur Bu Ratih mengingatkan putranya.
Tristan masih saja terdiam. Meresapi ucapan mamanya. Rasa penyesalan kembali muncul karena pernah tidak menghargai kehadiran Kirana dalam hidupnya.
"Wi, tadi dapat salam dari mamanya Ravi. Tadi dia mau ngobrol sama kamu. Tapi kamu sudah pulang duluan." Ucapan mamanya membuyarkan lamunan Tristan. Kirana telah berdiri tidak jauh darinya dan sedang mengambil air minum.
"Ya, Ma. Tadi Mas Tris buru-buru ngajak pulang. Mentari juga sudah ngantuk," sahut Kirana.
Dia pun membawa gelas berisi air putih itu ke kamar. Melewati Tristan seraya menjulurkan lidah menggoda suaminya yang memasang wajah masam.
__ADS_1