
Assalamu'alaikum. Selamat pagi bumil cantik!" Suara dari arah pintu membuat Kirana menoleh.
"Wa'alaikumsalam. Selamat pagi, manten baru. Udah nyampe sini, aja?" sahut Kirana heran.
"Bosan aku di rumah. Tahu kerjaanku ngapain aja di rumah mertua sepulang dari Bali? Seharian cuma guling sana guling sini di kasur. Semua kerjaan rumah udah dipegang Mbak Tinah. Mau masak udah kalah skill duluan sama Umi. Makanya pagi-pagi aku minta anterin ke sini." Syifa meletakkan dua paper bag berlogo toko souvenir dari Pulau Dewata.
"Kamu tuh dikasih enak nggak mau. Orang banyak ngeluh di rumah mertua nggak enak. Nah kamu malah ngeluh bosan nggak ngapa-ngapain. Heran deh sama kamu, Fa."
"Ya gimana? Mungkin udah biasa sibuk. Untungnya Mas Baraka masih ngijinin aku kerja."
"Alhamdulillah. Andaikan kamu tahu, Fa. Aku selama kamu nggak ada kepikiran terus. Kalau Mas Baraka nggak ngijinin kamu letja lagi, aku nggak tahu harus gimana? Mas Tris udah ngajakin aku pulang ke rumahnya. Nggak mungkin lah aku tinggalin pabrik ini gitu aja. Tapi kayaknya aku mau ikut saran dia untuk nyari asisten. Buat kamu nantinya. Kerjaan kamu ternyata bikin puyeng. Tiap hari harus dipijitin sama Mas Tris. Untungnya ada dia juga yang bantu-bantu ngecek laporan."
Syifa terkekeh. Dia sangat tahu jika Kirana tidak telaten mengecek laporan. Setiap kali dia mengirim laporan lewat email. Kirana akan menjawab ok padahal dia tidak mengecek sama sekali.
"Kamu passionnya emang jadi ratu di rumah. Udahlah. Sini aku yang kerja."
"Hah? Seriusan? Kamu batu cuti dua minggu loh, Fa."
Kirana heran karena Syifa menolak cuti satu bulan yang diberikan untuknya. Sahabatnya itu memaksa untuk masuk kerja hari ini. Bisa apa Kirana selain bersorak dalam hati. Karena sejujurnya dia memang dibuat pusing oleh pekerjaan Syifa yang bejibun. Itu pun sudah dibantu suaminya. Jika sendirian, tentu saja dia mungkin tidak akan sanggup.
Saran dari Tristan pun dia terima tanpa pikir panjang. Kirana membuat informasi lowongan pekerjaan untuk beberapa posisi. Menambah tenaga jahit dan packing. Dan juga seorang asisten untuk Syifa.
Namun Syifa meminta untuk lowongan asisten tidak perlu dipublikasikan. Karena dia sudah punya kandidat yang akan dijadikan calon asistennya.
"Jihan, yang dulu pernah magang di sini. Masih sepupunya Mas Baraka. Fresh gaduate, anaknya cekatan. Soal skill, aku yakin dia akan mampu menyesuaikan diri dengan cepat. Sebenarnya dia sudah melamar ke tempat kain sih. Tapi ibunya nggak rela kalau dia kerja jauh-jauh. Maklum anak semata wayang."
"Ya udah gimana baiknya. Aku pusing banget hari ini, Fa. Semalam nggak bisa tidur." Kirana memijit kepalanya yang sejak tadi berdenyut namun dia tahan.
Sepanjang malam tadi, dia nyaris tidak mampu memejamkan mata. Pikirannya terganggu oleh banyak hal. Pekerjaan, permintaan Mentari untuk segera pulang, dan juga tentang suaminya yang terkadang bersikap aneh seolah menyembunyikan sesuatu hal. Namun Kirana tetap berusaha berpikir positif bahwa apa yang terlintas dalam pikirannya hanyalah sebuah ketakutan. Perasaan yang berlebihan karena mungkin dia terlalu takut jika Tristan tidak sepenuhnya berubah. Entahlah, kecurigaan itu terkadang muncul begitu saja.
__ADS_1
"Na, kamu kalau sakit mending rebahan di kamar, deh. Atau kamu telepon Pak Tris buat buat jemput kamu."
Kirana menggeleng. Mana mungkin dia meninggalkan Syifa begitu saja. Hari di mana dia seharusnya masih libur namun justru memilih untuk masuk kerja dengan alasan bosan di rumah.
Kirana pun enggan menghubungi Tristan. Suaminya itu entah di mana sekarang. Sejak pagi riweh minta bubur ayam. Padahal mendengar jenis makanan itu disebut saja sudah membuat Kirana mual. Dan perdebatan pagi ini terjadi hanya karena perkara bubur ayam.
Tristan hanya mengantarnya sampai ke tempat kerja, lalu meninggalkan Kirana untuk mencari bubur ayam. Kirana sungguh heran dengan suaminya. Dia yang hamil namun Tristan yang lebih sering ngidam. Yang membuat Kirana kesal, makanan-makanan itu justru yang sedang tidak disukai olehnya.
Karena tidak tahan dengan rasa pusing di kepalanya, Kirana masuk ke dalam salah satu kamar. Kamar masa kecilnya sebelum orang tuanya memiliki rumah. Mereka tinggal satu atap dengan orang tua ayahnya.
Kirana merebahkan diri di tempat tidur kayu berukuran kecil beralas kasur yang terbuat dari kapuk. Kasur klasik peninggalan nemeknya yang masih terawat dengan baik.
Baru saja hendak memejamkan mata, tangannya disentuh seseorang. Kirana kembali membuka mata. Wajah Tristan yang menyapanya.
"Pulang, ya. Tidur di rumah."
"Iya, maaf. Besok-besok janji nggak akan makan bubur ayam lagi," kata pria itu lagi.
"Nggak cuma bubur ayam."
"Iya, janji nggak makan bubur ayam, opor gulai dan semua makanan yang berkuah kental," ucap Tristan meyakinkan. Dia tak habis pikir soal makanan bisa membuat Kirana begitu kesal padanya.
"Mau minum es kelapa, Mas," cetus Kirana tiba,-tiba.
"Mas belikan, ya. Di pertigaan depan ada yang jualan."
"Bukan yang di situ." Kirana kembali melipat wajahnya.
"Terus yang di mana?" tanya Tristan kemudian.
__ADS_1
"Di pantai."
"Bilang minta ke pantai. Modus!" Tristan mencubit gemas pipi Kirana. Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Kirana berdiri.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka tiba di sebuah pantai. Jalan yang berkelok dan menanjak terbayar dengan keindahan pantai yang membuat Tristan takjub karena baru pertama kali mengunjunginya. Meskipun menurut Kirana, pantai itu sudah sangat viral di media sosial, tetapi Tristan tidak pernah mengetahuinya. Waktunya habis dalam pekerjaan hingga lupa untuk merefresh pikiran.
Bentangan perbukitan sepanjang pantai dan juga hamparan pasir putih menjadi keindahan tersendiri. Di sepanjang bukit tersedia saung dan juga villa untuk menginap.
Serasa pantai pribadi. Karena di saat hari kerja, pengunjung pantai hanya beberapa gelintir orang. Mereka memilih salah satu saung yang terdekat dengan laut setelah memesan kelapa muda.
"Nunggu sore, ya. Mau lihat sunset." Ternyata Tristan lebih antusias dibandingkan Kirana yang sudah beberapa kali mengunjungi tempat itu padahal hari masih siang. Mereka harus menunggu 7 jam lagi untuk melihat matahari tenggelam.
Kirana pun hanya mengiyakan. Dia sudah cukup senang keinginannya minum air kelapa di tepi pantai terpenuhi. Selebihnya, terserah Tristan.
"Kok kamu nggak pernah bilang kalau ada pantai seindah ini di daerah asalmu?"
Kirana menjulingkan mata. Sepertinya tristan lupa bagaimana mereka menjalani hari-hari sebelumnya yang lebih mirip sepasang musuh dari pada suami istri. Jangankan bercerita panjang lebar tentang latar belakang masing-masing, berbicara dengannya pun Tristan seperti sebuah dosa yang harus dihindari oleh Tristan.Hubungan mereka baru benar-benar mencair sejak sepekan terakhir.
Beberapa menit melepas pandangan ke arah deburan ombak, Kirana sudah kehilangan sosok Tristan. Lelaki itu entah kapan perginya. Dia terlihat tengah mengambil beberapa foto di sekitar pantai. Mungkin lupa jika sudah beristri hingga sibuk berswafoto.
Namun semua itu hanya pikiran buruk Kirana.karena beberapa saat kemudian, tangannya ditarik oleh Tristan. Beberapa jepretan kamera ponsel menangkap bayangan mereka berdua. Pipi Kirana bahkan sampai memerah karena Tristan tak segan mencuri pipinya saat berfoto. Meski dalam perutnya sudah tumbuh benih suaminya tetap saja Kirana merasa canggung jika Tristan sembarang mendaratkan bibir di tempat terbuka.
"Udah, ah!" tolak Kirana.
"Sekali lagi, ya?!" bujuk Tristan.
Kirana mendesah pelan. Lalu kembali lagi ke spot foto yang dipilih Tristan. Bayangan Kirana berdiri dan Tristan berjongkok mencium perut Kirana dengan mata terpejam pun tertangkap lensa kamera ponsel yang disandarkan di tiang saung.
Foto yang mampu membuat Kirana terharu. Biarlah dia tidak merasakan bulan madu ke tempat-tempat yang indah di luar sana. Asalkan Tristan tulus bersikap manis padanya, hal itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1