Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
52. Luluh


__ADS_3

Tristan menyodorkan ponselnya. Setelah memutar rekaman cctv dalam ruang kerjanya. Karena Kirana tidak akan mungkin percaya ucapannya tanpa ada bukti.


"Untuk apa?" Kirana menolak ponsel itu.


"Lihat dulu! Supaya kamu percaya kalau yang kamu lihat itu tidak seperti apa yang kamu duga."


"Klise!" jawab perempuan itu lalu mengambil tas nya dan beranjak dari sofa.


Namun langkahnya kalah cepat dengan tangan Tristan yang kembali menahannya. Kirana pun terjatuh ke pangkuan Tristan saat tangannya ditarik.


Dekapan lengan Tristan semakin membuatnya sulit untuk melarikan diri dari ruangan itu. Bahkan saat dia meronta meminta untuk dilepaskan, Tristan mengabaikannya.


"Terlalu sulitkah untuk kamu bisa percaya sepenuhnya pada saya, Kirana?"


Kirana membalas tatapan suaminya dengan tajam. "Saya percaya sama kamu. Bahkan kepercayaan itu sudah sepenuhnya saya letakkan. Tapi kenyataan yang ada di depan saya membuat saya kembali ragu jika kamu benar-benar memegang komitmen yang kita buat."


"Kamu terlalu cepat menyimpulkan. Tidak seperti itu kenyataannya, Sayang."


"Lalu apa? Kamu mau bilang kalau semua itu terjadi karena tidak sengaja? Drama!" balas Kirana dengan sengit.


Dia kembali menepis tangan Tristan yang hendak mengusap wajahnya. Sayangnya untuk turun dari pangkuan Suaminya, Kiran tidak diberi kesempatan. Tenaganya tentu tidak sebanding dengan Tristan untuk memberontak.


"Katakan, apa yang harus saya lakukan agar bisa membuatmu percaya. Saya berikan bukti tapi kamu nggak mau lihat dan terus menyudutkan saya," ujara Tristan kemudian.


"Lepaskan aku. Aku mau jemput Mentari."


"Nggak. Mentari biar di jemput Pak Cip. Kamu tetap di sini sampai kamu merasa tenang."


Kirana mengangkat sudut bibirnya. "Jika saya terus di sini yang ada saya semakin muak dengan kamu. Lepaskan!"


Decakan kesal pun keluar dari mulut Kirana saat Tristan tetap saja menahannya. Bahkan saat suara pintu diketuk Tristan menyuruh orang yang berada di balik pintu itu masuk tanpa menurunkannya dari pangkuan.


Untung saja yang masuk Nabila. Meskipun begitu, Kirana tetap saja merasa canggung.


"Wah! Wah! Mentang-mentang, ya?! Sampai nggak inget kalau ada meeting!" sarkas Nabila melihat mereka berdua.


"Lo aja yang datang, Bil!" sahut Tristan.


"Ya ampun, Bang. Gue baru datang udah disuruh pergi lagi. Dzolim amat jjadi bos."


"Please! Kali ini aja. Udah tanggung nih, lo pakai masuk lke sini lagi." Ucapan tristan membuat Kirana membelalakkan mata.

__ADS_1


Nabila mendengus kesal. "Astaga! Bener-bener nggak lihat tempat. Dah lah, lanjutin!"


Tristan terkekeh. "Makanya cari cowok, Bil. Biar nggak anyep!"


Sebuah pena nyaris mendarat di kepala Tristan jika saja pria itu tidak menghindar. Nabila pun kembali keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Tristan dan Kirana.


Keheningan pun kembali terjadi. Kiran tidak habis pikir dengan Tristan yang bisa bicara asal dengan Nabila. Sedekat itukah hubungan mereka hingga saling membully sudah biasa.


"Mas! Aku mau pipis!" ujar Kirana dengan wajah mengiba.


Namun Tristan tidak percaya begitu saja melepaskan Kirana. Dia menggendong istrinya itu ke dalam toilet.


"Keluar dulu, Mas. Masa ditungguin juga. Memangnya aku mau kabur lewat mana?"


Tristan pun terkekeh seraya meninggalkan Kirana di dalam ruang sempit itu.


Dia membuka bekal makanan yang dibawa istrinya. Nasi goreng kampung lagi. Setelah tadi pagi dia merengek karena Kirana menyiapkan roti untuk sarapan karena kesiangan, akhirnya dia bisa merasakan nasi goreng siang ini. Meski rasanya tidak seenak buatan ibu mertuanya, hanya beda tipis saja.


Susah payah Kirana mengantarkan makan siang untuknya, namun yang dia menyambutnya dengan memberi rasa kecewa. Penjelasannya pun tidak digubris oleh Kirana. Entahlah, bagaimana lagi dia harus membujuk istrinya yang akhir-akhir ini begitu labil emosinya. Sebentar bahagia, terkadang mendadak berapi-api jika mengalami sesuatu yang tidak disukainya. Terkadang juga menjadi lebih mudah menangis saat keinginannya tidak lekas dituruti. Meski ada kalanya Kirana tetap bisa bersabar.


Bunyi langkah kaki pun tidak mampu mengalihkan perhatian Tristan dari makanan di depannya. Bahkan saat Kirana kembali duduk di sampingnya. Pria itu tetap menikmati bekal yang dibawa istrinya.


"Enak?" tanya Kirana. Melihat suaminya begitu menikmati bekal yang dibawanya tak dipungkiri membuat hatinya membuncah.


Kirana menjulingkan mata karena masih menyimpan kesal. Dibersihkannya kotak bekal itu kemudian kembali memasukkan ke dalam tas. Dia beranjak kembali mengambilkan air putih untuk suaminya.


Tristan nyaris tak percaya jika Kirana bisa berubah secepat itu. Setelah dia meneguk isi gelasnya, Kirana menyandarkan kepala di bahunya.


"Mas!"


"Ya?"


"Aku boleh minta sesuatu?"


Entah kenapa setiap kali mendengar Kirana mengucapkan kalimat itu, perasaan Tristan menjadi tidak tenang. Ucapan yang mengandung makna misterius. Tristan akan lebih suka jika Kirana mengucapkan permintaannya tanpa meminta persetujuan lebih dulu.


"Kenapa diam?" tanya Kirana karena Tristan tidak juga menyahut.


Hembusan nafas kasar mempermainkan ujung kerudung Kirana. "Apa pun itu akan saya kabulkan selain perpisahan."


Kirana terkekeh. Setakut itu Tristan akan berpisah dengannya. Tetapi Kirana masih juga tidak terlalu yakin.

__ADS_1


"Saya mau …. Silvia tidak ada lagi di kantor ini."


"Itu sudah kulakukan, Sayang!" sahut Tristan mencubit hidung Kirana dengan gemas.


"Benar?"


"Iya. Kamu bisa cek ke HRD. Mungkin hari ini sedang diproses."


"Alasannya?"


"Indisipliner."


Kirana mengerutkan dahi. "Hanya itu? Tidak ada toleransi? Bukankah selama ini kamu terkesan begitu melindungi dia?"


"Alasan lain, karena saya sayang sama keluarga kita. Kamu, Mentari dan calon anak kita," jawab Tristan mengusap perut Kirana.


Kirana pun seketika melambung. Bahkan wajahnya pun merona. Tristan semakin hari semakin manis.


"Tapi saya mau, di luar kantor kamu juga menjauhi dia. Ini mungkin sangat egois. Tapi saya tetap mau kamu tidak berhubungan lagi dengan dia."


"Tidak masalah. Apa pun untuk kamu. Asalkan kamu jangan pernah pergi dari hidup saya."


Wajah Kirana kembali merona. Ternyata dia selemah itu. Begitu mudah luluh oleh rayuan suaminya. Kirana ingin tidak begitu saja. Namun ucapan Tristan sangat tulus terpancar dari sorot matanya.


Detak jarum jam menyadarkan Kirana, bahwa dia masih punya tanggung jawab lain. Waktunya untuk menjemput Mentari di sekolah. Pagi tadi dia sudah berjanji akan menjemput putri sambungnya itu setelah beberapa hari dijemput oleh Pak Cip.


Kirana menolak saat Tristan akan mengantarnya. Karena Nabila mengingatkan sekali lagi jika ada jadwal meeting dengan klien sesaat lagi. Toh dia pun datang ke kantor itu diantar oleh Pak Cip. Dan sopir keluarga mereka masih menunggunya untuk menjemput Mentari.


Jarak yang cukup jauh dari kantor Tristan hingga ke sekolah Mentari membuat jenuh di jalan apalagi jalanan cukup padat. Itulah kenapa Kirana lebih suka mengendarai motor daripada harus memakai mobil. Karena dia bukan orang yang tahan berlama-lama di tengah kemacetan.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mereka tiba di sekolah. Ini pertama kalinya dia datang kembali ke sekolah itu setelah memutuskan untuk resign. Dia bertegur sapa sejenak dengan beberapa guru yang ditemuinya untuk melepas rindu. Sebelum akhirnya berpamitan untuk menuju ke kelas Mentari.


Seorang wanita muda seumuran dengannya menyambutnya.


"Oh, Bundanya Mentari," ujarnya setelah Kirana memperkenalkan diri.


"Tadi Mentari sudah dijemput tantenya," sambung guru itu.


"Tante?" Dahi Kirana berkerut.


"Iya. Tante Sisil kata Mentari."

__ADS_1


Kirana tertegun. Silvia memang mempunyai akses untuk menjemput Mentari. Dia memegang kartu pengenal dari sekolah yang diberikan untuk keluarga atau kerabat yang diperbolehkan untuk menjemput siswa di sekolah itu.


Dengan perasaan tidak karuan, Kirana pamit pada guru Mentari. Dia mengambil gawainya untuk menghubungi Tristan. Kekhawatiran pun mendadak menyelimutinya.


__ADS_2