
Tristan tak mengira, jika perempuan yang dinikahi adalah wanita yang luar biasa. Dia pikir Kirana seorang wanita sederhana seperti penampilannya. Namun di balik itu semua, Kirana adalah wanita hebat yang memiliki banyak kemampuan. Patah sudah dugaannya jika Kirana mau menikah dengannya bukan hanya karena Mentari semata. Karena ternyata, Kirana tidak hanya mampu menghidupi dirinya sendiri. Ratusan karyawan bahkan tergantung pada bisnisnya.
Penampilan Kirana paling banter hanya memakai celana kulot dan blouse panjang. Dilengkapi dengan kerudung yang selalu menutup kepalanya. Itu semua pun bukan merk-merk mahal. Tetapi produknya sendiri. Nyaris tak ada barang mewah yang mencitrakan jika dia seorang pengusaha. Meski usahanya seperti tidak terlihat nyata, namun menggurita di pasar online.
Kirana terlalu rendah hati, dia bahkan tidak mau membagi informasi saat Tristan mencoba mengorek berapa omset dari usahanya. Alhamdulillah, bisa membantu orang meski tidak banyak, selalu itu jawaban Kirana. Dan Tristan pun tidak mendesak untuk ingin tahu. Karena baginya, berapa pun pendapatan Kirana, dia tetap seorang suami yang harus mencukupi kebutuhan istrinya.
Hanya saja rasa takut terkadang menyelinap. Takut jika Kirana tidak lagi membutuhkannya. Takut jika Kirana masih mendendam atas perlakuannya meski dia mampu melihat ketulusan istrinya yang tidak berubah. Dia takut jika Kirana tidak mau lagi pulang ke rumahnya.
Lengan pria itu pun tiba-tiba melingkar mendekap Kirana yang tengah memakai krim. Menatap pantulan bayangan mereka berdua di kaca.
"Mas kenapa?"
"Tidak ada. Hanya ingin memeluk kamu." Tristan mendekap Kirana lebih erat.
Kirana pun membiarkan sikap aneh Tristan yang akhir-akhir ini sering dilakukan suaminya.
"Pulang ke rumah, ya?" pinta Tristan tepat di telinga Kirana.
Hampir satu minggu berada di kampung dia beberapa kali dihubungi oleh Silvia karena meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Dia pergi begitu saja dengan pekerjaan yang menumpuk. Perkiraannya hanya akan butuh waktu sehari dua hari untuk menjemput Kirana. Namun ternyata dia betah dan saat ini pun sebenarnya masih enggan pulang.
Mendemgar permintaan suaminya, Kirana pun tidak memberi jawaban. Dia terlanjur membuat beberapa proyek dengan Syifa terkait bisnisnya. Tak pernah terlintas Tristan tidak akan mencarinya. Apalagi memintanya kembali ke rumah suaminya itu.
"Mas!"
"Ya?"
"Saya minta satu hal. Apa kamu mau mengabulkannya?"
"Selagi permintaanmu masuk akal, akan saya penuhi."
Kirana mendesah pelan. Menatap wajah suaminya yang juga tengah menatapnya. Wajah dingin yang dulu hampir setiap saat diperlihatkan oleh Tristan kini tak lagi tampak. Kebimbangan sempat menyelinap. Namun Kirana meyakinkan diri bahwa permintaannya adalah hal paling yang tepat.
__ADS_1
"Jatuhkan talak untuk saya!"
Tristan seperti dihantam palu mendengar permintaan Kirana yang di luar nalar. Rasa takut itu kini benar-benar membayanginya.
"Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kirana!" Wajah dingin itu kembali terlihat. Merah padam menahan amarah. Kemudian lambat laun berubah pilu. Semua terpantul jelas dari kaca cermin.
Kirana memejam, menghirup nafas sedalam-dalamnya. Mencoba mengusir sesak yang mendera. Keputusan yang diambilnya memang berat. Namun Kirana harus menempuhnya. Dia tidak mau terjebak dalam ketidakpastian yamg tidak beujung.
Tristan sulit ditebak. Bersikap seolah-seolah sudah menerima Kirana dengan baik. Memperlakukan Kirana selayaknya seorang istri. Kirana pikir hal itu sebuah kemajuan dalam pernikahan mereka.
Tetapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Dia bukan tidak tahu apa yang dilakukan Tristan setiap malam. Saat suaminya itu mungkin mengira jika dia telah terlelap. Bukan sekali dua kali Kirana mendapati Tristan mengigau memanggil nama Elita. Jika terjaga, Tristan akan menghabiskan sisa malamnya dengan menatap foto Elita yang tersimpan dalam galeri ponselnya. Bisa berjam-jam lelaki itu menggulir layar ponselnya. Semua yang tersimpan adalah kenangan tentang Elita.
Bahkan saat ritual sakral mereka pun tak jarang nama Elita yang disebut. Kirana seolah tak pernah mempermasalahkan hal itu. Bersikap abai meski hatinya tersayat-sayat.
Lalu di bagian mana Kirana diletakkan dalam kehidupan suaminya? Mungkin tidak ada lagi tempat tersisa untuknya. Semua masih terpenuhi oleh Elita.
Sikap romantis Tristan seolah hanya sebuah topeng. Entah peran apalagi yang akan dimainkan olehnya. Sudah cukup waktu Kirana mengikuti permainan suaminya. Banyak hal yang harus dia pikirkan. Termasuk bagaimana membahagiakan dirinya sendiri.
Kirana lelah. Disandingkan dan dipaksa untuk bersaing dengan orang yang raganya sudah tidak terlihat. Dia punya hati yang bisa sakit. Dan cemburu pada orang yang sudah meninggal ternyata lebih menyakitkan.
"Dengar Kirana! Apa yang sudah saya miliki, tidak akan saya lepaskan begitu saja."
"Tidak masalah, Mas. Sekalipun Mas tidak mau menjatuhkan talak. Saya akan tetap mengurus perceraian kita."
Tristan tersenyum getir. "Lalu apa artinya malam-malam yang kamu berikan untuk saya?"
"Saya menjalankan kewajiban saya sebagai istri."
"Bohong! Saya tahu kamu melayani saya dengan sepenuh hati kamu," balas Tristan menahan geram.
"Saya seorang istri. Sudah sepatutnya melayani suami saya sepenuh hati."
__ADS_1
"Tidak Kirana! Kamu mencintai saya! Katakan, Kirana!" Tristan tidak mampu lagi menahan suaranya. Meski Kirana masih tetap terlihat setenang air telaga.
"Cinta dari satu pihak tanpa dibarengi dengan feedback yang sama dari pasangan tidak akan mampu mempertahankan sebuah hubungan."
Tristan melipat kakinya. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kirana. Namun Kiran mencegahnya. Dia tidak membiarkan Tristan sampai berlutut di depannya.
"Saya tahu, terlalu banyak luka yang saya berikan. Maaf pun mungkin memang tidak pantas saya dapatkan. Tetapi tolong, beri saya kesempatan untuk menebus semua kesalahan saya."
Kirana membuang wajah. Menghalau rasa pilu karena pemandangan di depannya. Wajah Tristan yang mengiba bukan tidak mampu mencubit hatinya.
"Maaf, Mas. Tidak hanya kesempatan yang saya berikan. Pengabdian saya dan diri saya sudah saya berikan sepenuhnya padamu, tapi kamu selalu menyia-nyiakannya."
"Lalu bagaimana dengan Mentari?" Tristan mencoba menggoyahkan pendirian Kirana.
"Mentari akan baik-baik saja. Bukankah kamu sendiri pernah mengatakan demikian?"
Tristan melangkah gontai ke arah ranjang. Kedua kakinya seolah tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Hingga tubuh jangkung itu terhempas luruh terduduk di tepi ranjang.
"Argh!" Pria itu meluapkan emosinya dengam memukulkan tangannya pada benda yang didudukinya.
Tristan beranjak dan menarik koper yang ada di samping lemari Kirana.
"Kamu berhasil mempermainkan saya, Kirana! Saya pastikan benih saya akan tumbuh di rahim kamu. Dan kamu selamanya tidak akan pernah bisa terlepas dari saya." Dia mengultimatum lalu keluar dari kamar itu.
Tirta bening itu pun menitik menganak sungai di kedua pipi Kirana. Hatinya tak bisa berbohong jika keputusannya menyakiti dirinya sendiri. Setelah melewati hari-harinya bersama Tristan dengan kemanisan semu, dia tidak ingin sakit itu terus menggerogotinya.
Kirana menyusut air matanya saat mendengar derit pintu dibuka. Ibunya tampak di depan pintu menatap ke arahnya sendu.
"Kamu yakin keputusanmu ini sudah tepat?" tanya wanita itu seraya mengusap surai putrinya.
Kirana mengangguk kendati i air matanya masih saja mengalir.
__ADS_1
"Tapi kamu sakit."
"Nana masih kuat, Bu. Nana pasti sanggup."