Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
65. Ke Makam Elita


__ADS_3

"Lega banget senyumnya "


"Hah?! Siapa yang senyum?" sahut Kirana yang tidak menyadari jika sejak tadi bibirnya melengkung meski dia fokus pada jalan.


Kirana memang tengah merasakan sedikit lega setelah perempuan yang selama ini selalu berusaha memporak porandakan rumah tangganya akhirnya menikah. Meski wajah Silvia terkesan terpaksa, begitu juga dengan Lucky yang menikah karena tuntutan tanggung jawab.


"Mas. Menurutmu bagaimana hubungan Silvia sama Lucky selanjutnya?"


Tristan mengangkat bahunya. "Mas bukan peramal. Apa pun bisa terjadi ke depannya tanpa kita tahu. Doakan yang baik-baik saja."


Kirana pun mengangguk pelan dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Mas kayaknya nggak ikhlas banget ya Silvia nikah sama Lucky.,"


"Jangan mulai deh, Na. Dia mau nikah sama siapa pun Mas nggak peduli."


"Halah! Buktinya tadi titip pesan sama Lucky buat jagain Silvia. Berarti Mas masih peduli dengan dia, kan?" Kirana menyanggah ucapan suaminya.


"Astaga, Na! Kamu kalau cemburu jangan berlebihan bisa nggak, sih?"


"Nggak. Porsi cemburuku memang segitu. Nggak bisa dikurangi. Kalau bertambah bisa."


"Jangan berlebihan, Na. Sedikit-sedikit cemburu. Sebentar-sebentar marah. Jangan bikin Mas jedag-jedug karena marahmu menakutkan. Kamu diam, acuh sama aku. Aku nggak bisa kalau kamu begitu, Na. Nggak kuat. Sumpah!"

__ADS_1


Kirana terkekeh. "Kamu ngeselin, sih!"


"Kan tinggal bilang. Aku nggak suka kamu begitu. Aku maunya kamu begini."


"Memangnya kamu akan selalu menurut setiap aku komplain tentang sikap kamu yang nggak aku suka?"


"Diusahakan. Tapi nggak janji bisa berubah secepat yang kamu mau."


Kirana mengangguk-anggukkan kepala sembari mengulas senyum. Merasa cukup dengan jawaban Tristan.


Dia mengambil arah berbeda dari jalan menuju ke rumah atas permintaan Tristan Yang minta diantar ke suatu tempat tanpa mengatakan secara detail.


Kirana pun menginjak pedal gas, sesuai arah yang ditunjuk oleh Tristan. Hingga suaminya itu memintanya berhenti di sebuah parkiran tempat pemakaman umum.


"Kok ke sini, Mas?" tanya Kirana heran.


"Sebentar saja, ya? Temani Mas ke makam Elita.


Kirana pun mengangguk. Menyejajari langkah suaminya menyusuri pemakaman itu.


Mereka berhenti di sebuah makam. Dengan batu nisan bertuliskan nama Elita. Makam yang sejak beberapa bulan terakhir tidak dikunjungi oleh Tristan.


Dulu, paling lama satu minggu Tristan selalu mengunjungi makam Elita. Terkadang bersama Mentari, tapi lebih sering sendiri.

__ADS_1


Meski jarang dikunjungi, makam itu terawat dengan baik. Di sampingnya lahan kosong. Tristan bahkan sudah memesan makam untuknya sendiri di sebelah makam Elita.


Tidak jauh dari makam Elita adalah makam papanya. Dengan lahan kosong di sebelahnya yang dipersiapkan untuk mamanya.


Lelaki itu pun berjongkok di samping makam Elita, istri pertamanya. Mengirim doa untuk ketenangan Elita. Sementara Kirana, duduk bersimpuh di samping Tristan.


"Aku datang, El. Tapi hari aku nggak datang sendirian. Juga bukan sama Mentari. Aku datang sama Kirana, El. Dia istriku sekarang. Bundanya Mentari." Sejenak Tristan menjeda ucapannya sembari mengusap batu nisan.


"Dulu kamu sering becanda minta aku untuk nikah lagi kan, El. Karena kamu khawatir tidak ada yang memperhatikan makanku saat kamu sedang banyak pekerjaan. Candaanmu benar terjadi sekarang, El. Aku sudah menikah dengan Kirana. Dia sangat baik sama seperti kamu."


"Kamu tahu, El, Mentari sayang banget sama dia. Bahkan aku seperti nggak kebagian tempat. Aku cemburu sama dia. Dia nakal, El. Nggak hanya ngambil perhatian Mentari dari aku, tapi diam-diam mengambil hatiku juga."


Tristan terkekeh saat Kirana mencubit pinggangnya.


"Tuh kan, El. Dia nyubit aku." Tristan kembali tertawa.


"Oh ya, sebentar lagi Mentari mau punya adik. Aku berharap nanti adik Mentari cowok. Sumpah, El. Aku pusing kalau mereka berdua lagi ngambek. Kalau adiknya Mentari cewek lagi, aku makin pusing kalau tiga-tiganya ngambek."


Kirana masih terdiam. Membiarkan Tristan yang mencurahkan isi hatinya pada gundukan tanah di depannya. Sampai langit terlihat memerah, mereka pun beranjak meninggal dari makam Elita.


Sepanjang perjalanan pulang, Kirana masih enggan membuka mulutnya. Begitu juga dengan Tristan yang diam semenjak meninggalkan makam.


Tanpa meminta persetujuan suaminya Kirana menghentikan mobilnya di dekat seorang pedagang makanan keliling di taman kota.

__ADS_1


"Na, kamu marah?" tanya Tristan hati-hati.


Kirana mendesah kasar. "Aku takut. Kalau nanti ternyata anak kita perempuan. Kamu nggak menghendakinya, kan?" ujar Kirana sedih.


__ADS_2