
"Mas, kok aku baru ngeh ya kalau penjualan beberapa bulan terakhir turun." Kirana mengusap dahinya saat mengecek laporan yang baru sempat dibacanya.
"Kamu kapan terakhir kali membuat model baru?"
Selama kembali ke kota, Kirana nyaris tidak pernah memikirkan lagi membuat design baru. Waktunya habis untuk membenahi rumah tangganya berkali-kali terancam berantakan. Begitu juga untuk sekedar mengecek laporan, Bahkan tiga bulan terakhir baru dibacanya.
"Sudah waktunya kamu mendelegasikan pekerjaan yang tidak mampu kamu handle ke orang lain. Kamu nggak bisa selamanya mengatasi semuanya sendiri. Semakin usahamu bertumbuh, maka kamu akan semakin banyak membutuhkan partner untuk mengelolanya."
Kirana terdiam mendengar ucapan Tristan. Kalau sedang seperti ini, dia serasa punya mentor pribadi.
"Jadi gimana, Mas? Tadi Mas ngobrolin apa sama Mas Baraka?"
"Nggak usah pakai Mas!"
Kirana menghela nafas. Setelah selesai urusan cemburunya dengan Ravi, kini panggilan mas untuk Baraka kembali dipermasalahkan.
"Maknanya kan beda. Aku cuma wujud respect sama dia. Masa iya harus memanggil nama saja. Kan nggak sopan." sahut Kirana. Namun Tristan tetap saja tidak mau mengerti.
"Iya, udah. Tadi Mas ngomong apa sama suaminya Syifa?"
"Nah, gitu kan enak di telinga."
Kirana masih menunggu jawaban suaminya. Mengenai pembicaraannya dengan Baraka yang memakan waktu berjam-jam di ruang kerja. Entah apa yang mereka bicarakan sampai begitu lama.
"Syifa sudah benar-benar nggak bisa kerja. Dia tiap hari muntah dan nggak sulit makan. Itu kenapa suaminya meminta dia berhenti kerja. Tentu saja kamu nggak bisa maksa dia. Dan tadi Mas meeting dadakan sama tim kamu. Sementara tugas Syifa akan di handle oleh Jihan. Dia sudah tahu banyak tentang semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kesimpulannya, Jihan sudah mumpuni untuk diandalkan. Lalu Mas juga minta penambahan karyawan baru untuk beberapa posisi. Kamu terlalu dzolim menyuruh karyawanmu merangkap pekerjaan bahkan sampai harus kerja melebihi jam."
__ADS_1
Kirana membelalak atas tuduhan suaminya. "Aku nggak tahu, Mas. Semua Syifa yang atur. Lagi pula kalau mereka dibayar lebih perjamnya untuk overtime."
"Tapi tidak semua orang suka kerja melebihi jam kerja wajib. Sehingga beberapa dari karyawan memilih untuk keluar karena dilema terutama bagi yang ibu-ibu."
Kirana mengangguk paham. "Terus Mas mau nambah karyawan untuk bagian mana saja?" tanya Kirana. "Anggaran untuk gaji karyawan yang baru juga harus dipertimbangkan loh, Mas."
"Sudah diperhitungkan. Perusahaan justru akan lebih untung jika menambah karyawan daripada harus membayar upah lembur dikalikan sekian jumlah karyawan yang lembur. Belum lagi kalau lembur sabtu minggu. Pengeluarannya akan semakin membengkak," jelas Tristan.
"Untuk job vacancy nanti kamu tanya Jihan lagi. Aku lupa. Yang pasti untuk bagian designer untuk mengganti kamu. Dan mulai sekarang, Mas yang bantu monitor dari sini. Kamu nggak usah mikirin masalah pekerjaan. Kamu juga nggak usah khawatir, Mas nggak butuh dibayar pakai uang. Bayar pakai cinta kamu selamanya untuk Mas," lanjutnya.
Kirana mencebik "Nggak usah diminta sudah aku kasih, Mas," sahutnya. "Tapi beneran nggak ganggu pekerjaan kamu? Nanti Mas jadi tambah sibuk, loh. Nggak ada waktu buat aku," imbuhnya.
"Semuanya bisa Mas lakukan untuk kamu."
"Sun!" Tristan menyodorkan pipinya.
"Receh amat cuma minta sun." Kirana pun mendaratkan bibirnya di pipi kanan suaminya.
"Mas sudah mendapatkan dirimu yang paling berharga, Sayang." Tristan mencubit pipi Kirana dengan gemas.
Kirana tersenyum lega setelah masalah yang membuatnya susah tidur akhirnya terurai tanpa dia harus capek-capek memikirkan keruwetannya. Ada Tristan yang selalu siap diandalkan. Mungkin ke depan, dia memang harus fokus mengurus keluarganya Mengurus bayinya dan juga Mentari yang akhir-akhir ini dia sadari jika porsi perhatian untuk putri sambungnya itu telah berkurang.
"Mas hari ini ada acara nggak?"
"Nggak ada. Kenapa?"
__ADS_1
"Mau ngajak Mentari jalan. Kasihan dia sudah lama kita nggak ngajak dia main."
"Iya juga. Tapi kamu masih sanggup jalan?" tanya Tritan mencemaskan keadaan Kirana jika harus pergi ke mall.
"Masih. Belum ada tanda-tanda, kok."
Tristan pun mengangguk setuju. Tanpa disadarinya, dia merasakan kedekatannya dengan sang putri pun merenggang.
Kirana pun keluar dari kamar. Memanggil Mentari yang tengah sibuk dengan tontonannya. Anak Itu tentu saja bersorak saat mendengar ajakan Kirana. Hal yang sudah sekian lama dinantikannya.
Sampai di pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari rumahnya, Mentari tak lagi meminta untuk bermain. Dia ingin berjalan keliling mall membeli koleksi mainan baru. Meskipun yang dibeli sudah ada di rumah.
"Bunda, Mentari beli untuk Adek, ya?" Mentari menunjukan mainan gantung pada Kirana.
"Boleh," sahut Kirana mengangguk.
Tahu jika calon adiknya laki-laki, Mentari mengambil mobil-mobilan dan robot. Kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah tidak ada lagi yang ingin dipilih, Kirana membayarnya di kasir.
Keluar dari toko mainan, Mentari meminta untuk dibelikan es krim. Gerai es krim itu mengingatkan Kirana saat pertama kali makan es krim bertiga dengan Mentari dan Tristan.
"Bunda mau yang rasa, apa?" Pertanyaan itu kembali terngiang dan bibir Kirana melengkung tipis.
"Ditanya malah senyum."
Kirana pun terkesiap. Rupanya yang didengarnya tadi benar-benar nyata suara Tristan yang sedang bertanya padanya.
__ADS_1