
"Suamimu nggak berniat untuk jemput kamu?"
"Belum, Bu. Nana minta waktu lebih lama untuk di sini." Tentu saja Kirana sedang berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan Tristan mengusirnya. Bisa-bisa ibunya meminta dia untuk segera mendaftarkan perceraian di Pengadilan Agama. Bahkan Kirana pun tak mengerti alasan ibunya merahasiakan berita pernikahannya dari tetangga mereka. Karena Baraka tidak mungkin berani menggodanya jika tahu dia sudah bersuami.
Kirana menyingkir dari dapur usai menghabiskan sepoting kue. Berlama-lama dengan ibunya bukanlah hal yang tepat untuk saat ini. Ujung pembicaraannya akan selalu tertuju pada perkembangan hubungannya dengan Tristan. Sedangkan Kirana sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan suaminya. Mimpi jika sampai Tristan menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya atau pun kabarnya.Kirana pun enggan untuk mengawalinya. Hubungan mereka semakin tidak jelas arahnya.
Berdiam diri di rumah selama dua hari ini membuat Kirana bosan. Semakin sendirian, semakin Kirana harus menekan rasa rindunya pada Mentari. Dan masalah yang dihadapi semakin mengganggu pikirannya. Kirana mengambil sepeda listrik ibunya yang ada di garasi. Mengunjungi tempat produksi pakaian yang sudah empat tahun ini menjadi bisnisnya mungkin bisa mengalihkan pikirannya barang sejenak.
Kirana menyusuri jalan kampung untuk menuju ke tempat para karyawannya bekerja. Rumah lama peninggalan kakek neneknya yang disulap menjadi tempat usaha. Tidak terlalu jauh dari rumah tinggalnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit mengendarai motor.
Kirana membunyikan klakson saat melewati kebun sayur milik Baraka. Menyapa pemilik kebun yang baru saja menghentikan motornya.
"Mau ke mana?" tanya Baraka. Kirana pun menghentikan sepedanya.
"Ke pabrik, Mas."
Pandangan Kirana menyapu area kebun milik Baraka. Lebih luas dari saat terakhir dia lewat jalan itu. Bukti jika usaha Baraka semakin berkembang.
"Nggak mau mampir dulu?"
Tawaran Baraka tentu saja disambut Kirana dengan senang. Puluhan kali melewati tempat itu, dia sangat penasaran dengan isi di dalam kebun yang diselubungi jaring-jaring. Kirana memarkir sepedanya lalu mengikuti Baraka masuk ke kebun.
"MasyaAllah! Luas banget ya, Mas. Bisa ini dibuat tempat wisata."
"Alhamdulillah. Sedang dalam wacana."
Hamparan tanaman sayuran hijau yang terlihat segar begitu memanjakan mata. Ingin rasanya Kirana memetik setiap jenis sayur dan membawanya pulang.
Seolah bisa menebak isi kepala Kirana, Baraka mengulurkan keranjang dan mempersilahkan Kirana mengambil sayuran sesukanya.
"Beneran ini, Mas? Aku mau ambil banyak loh kalau boleh." Kirana mengambil keranjang yang diulurkan oleh Baraka.
"Ambil aja. Sama kebun-kebunnya juga boleh," sahut pria itu.
"Sama sertifikatnya juga, dong."
__ADS_1
"Nggak sama yang punya sekalian?"
"Wah, berat! Kalau sama yang punya harus ngasih makan juga. Nanti dimarahin Bu Syarif lagi." gurau Kirana.
Baraka tertawa renyah. Kirana bukan tidak paham maksud ucapan pria itu. Demi apa Baraka sekarang jadi tukang gombalin perempuan. Laki-laki itu pun telah berubah. Bukan lagi Baraka yang pendiam. Baraka yang ditemui sekarang lebih banyak bicara dan sesekali berani melempar candaan.
Disuguhkan dengan aneka macam sayuran membuat Kirana kalap. Semua masih segar dan hanya tinggal mencabutnya. Sawi hijau, kangkung, bayam dan masih banyak lagi yang berjajar rapi dalam pipa. Semua menarik karena Kirana memang penggemar sayuran. Tidak pernah makan tanpa sayur. Pola itu juga yang mulai diterapkan pada Mentari. Ah, Mentari tiba-tiba melintas dalam pikirannya. Hingga panggilan Baraka mengejutkan.
"Kamu nggak suka sayur, Na?"
"Kata siapa? Aku cuma lagi bingung mau ambil banyak tapi bawanya pakai apa?"
"Gampang. Nanti diantar pakai mobil bak."
"Terus besok aku gelar di pasar pagi?" balas Kirana.
Baraka terkekeh. Dia membantu Kirana mengambil sayuran apa saja yang ada di sana. Satu keranjang pun telah penuh.Kirana bingung harus membawa pulang memakai apa. Sementara dia masih punya tujuan lain ke pabrik.
"Nanti aku antar aja," kata Baraka memutuskan.
Baraka memaksa mengantar, akan tetapi Kirana kekeuh untuk membawanya sendiri. Akhirnya keranjang sayur itu diikat ke atas boncengan sepeda.
"Makasih banyak ya, Mas. Kayak pulang ngeramban ini jadinya. Bisa diketawain Syifa ini pasti."
"Sama-sama. Lain kali kalau butuh sayur ke sini aja."
"Dengan senang hati, Mas.jangan kaget kalau nanti tiap hari aku minta sayur. Aku duluan ya, Mas"
"Ya. Hati-hati."
Kirana kembali memacu sepeda listriknya. Satu jam lebih dia berkutat di kebun sayur. Bahkan sebenarnya dia masih enggan meninggalkan tempat itu. Namun berlama-lama dengan Baraka di tempat itu bisa menimbulkan prasangka tidak baik. Karena banyak pekerja yang melihat mereka berdua. Meski belum sepenuhnya puas, Kirana pun melanjutkan perjalanan dengan sekeranjang sayur di belakangnya.
Benar saja, sampai di rumah produksi pakaian, Syifa yang kebetulan berada di depan mengerutkan dahi lalu terbahak.
"Asyik! Dibawain oleh-oleh dari kota."
__ADS_1
Kirana mencebik. Dia turun dari sepeda lalu menghampiri gadis berjilbab lebar yang telah lama bersahabat dengannya. Syifa lah yang mengelola bisnis Kirana. Bahkan bisa dikatakan Syifa urat nadi usaha Kirana. Karena teknisnya, Kirana hanya menerima laporan setiap bulannya.
"Dari kebunnya Mas Baraka. Tadi lewat disuruh mampir. Kalau mau ambil aja, Fa."
"Sawinya boleh, Na. Buat anak-anak kalau lagi mau bikin mi."
Kirana masuk ke dalam sebuah ruangan yang dijadikan kantor untuk Syifa. Rumah peninggalan kakek dan neneknya itu memang sangat luas. Rumah kuno dengan pendopo di bagian depan mampu menampung lima puluh orang penjahit. Sementara bagian belakang sebagai kantor dan juga gudang. Kirana tak menyangka jika usaha yang awal mulanya coba-coba saat masih kuliah bisa berlanjut sampai sekarang. Bahkan mampu menyerap tenaga kerja yang direkrut dari warga sekitar.
"Produk baru gimana, Fa?" tanya Kirana tentang produk yang baru hasil designnya.
"MasyaAllah. Kemarin sengaja aku spill di medsos. Yang penasaran banyak, Na. Keren nggak, sih?"
"Terus launching kapan rencana?"
"Secepatnya. Udah diteror sama follower. Produksi udah 75 persen dari target. Yakin banget bakal habis insyaAllah."
Kirana tidak pernah sekolah design pakaian. Namun dia memiliki kegemaran mencoret-coret model baju sejak kecil. Jauh dari yang dia bayangkan Jika akhirnya justru bisa bermanfaat untuk orang banyak.
"Na, kamu pulang bisa barengan sama Mas Baraka. Janjian?" tanya Syifa setelah mengetahui jika Baraka juga sedang di rumah.
Kirana mendesah pelan. Kisah hidup Kirana yang mana yang tidak diketahui oleh Syifa. Bahkan mereka mungkin sudah bersahabat dari dalam kandungan. Lahir di tahun dan bulan yang sama. Bahkan hanya dalam hitungan jam perbedaannya. Mungkin juga ibunya dan mamanya Syifa sering periksa kehamilan bersama dan posyandu pun bersama.karena mereka juga bersahabat. Bahkan Syifa mungkin satu-satunya orang yang tahu tentang pernikahannya dengan Tristan selain kedua orang tuanya. Sepertinya Syifa oun menutup rapat berita itu. Entah karena kemauannya sendiri atau karena tekanan dari orang tua Kirana.
"Na?"
"Iya. Kami janjian mau bahas soal TPQ yang sudah lama vakum. Mas Baraka mau ngurus buka TPQ lagi. Katanya kasihan anak-anak yang nggak pada ngaji. Orang tuanya sibuk kerja, sibuk ke sawah. Anak-anak sibuk main gadget."
"Wah, ide bagus. Berarti dia bakal stay di sini?"
"Yuhu. Mau nyalon kades katanya. Lagi nyari Bu Kadesnya, tuh." Kirana mengulang candaannya bersama Baraka saat di rumahnya tadi.
"Sayang sekali. Calon Bu Kades idaman udah taken. Telat banget sih Mas Baraka. Kelamaan mikir,"" sahut Syifa dengan wajah menyesal. Dia tak jauh beda dengan ibunya Kirana. Suporter fanatik Baraka Kirana.
"Kamu sama ibuku sama aja. Klop!"
Syifa pun terkekeh.
__ADS_1