
Kasak-kusuk itu kembali terdengar, saat Kirana tiba di depan lift. Kirana pun menghentikan langkah. Rupanya kabar tentangnya telah menyebar ke seluruh penghuni kantor Tristan. Yang paling menyedihkan adalah karena dia dibandingkan dengan mantan sekretaris Tristan yang berpostur tubuh tinggi dan sintal juga wajah yang cantik. Kirana yang berpenampilan terlalu sederhana tentu saja jauh jika dibandingkan dengannya. Terlebih semenjak kehamilannya semakin membesar, tubuhnya pun semakin membulat.
Pernikahan mereka yang diam-diam pun menimbulkan banyak asumsi, mulai dari dia yang seorang simpanan, terpaksa dijodohkan bahkan karena hamil duluan.
Rasa geram semakin menjadi saat mendengar langkah kaki menyusul di belakangnya. Orang yang kini dia anggap sebagai biang pergunjingannya di kantor ini. Andai pernikahan mereka dilakukan sembunyi-sembunyi, tentu dia tidak akan menerima terpaan gosip semacam itu.
Tristan yang melihat Kirana berdiam diri di depan pintu lift menghentikan langkahnya. Telinganya menangkap kasak kusuk dua wanita di depannya. Terlalu asyik bergosip, mereka tidak menyadari jika orang yang dibicarakan ada di belakang mereka.
"Kalian berdua!" Suara Tristan menggelegar membuat dua wanita di depan mereka menoleh. Wajah keduanya pun mendadak pucat pasi. Kirana masih mampu menandai jika salah satu di antara mereka adalah orang yang ngotot menahannya di lobby.
"P-Pak Tristan?!" ucap salah satu dari mereka dengan bergetar.
"Temui Bu Arini sekarang!" titah Tristan dengan tegas dan dingin.
"B-baik, Pak."
Kedua karyawan itu pun urung naik lift. Mereka menyingkir dari hadapan Tristan dan Kirana.
Pintu lift pun terbuka, Kirana bergegas masuk mendahului Tristan yang terlihat sibuk mengusap layar ponselnya.
"Urus surat PHK untuk dua orang yang menemuimu," ujar Tristan pada seseorang melalui sambungan telepon.
"Maaf, maksud Bapak siapa, ya? Belum ada seorang pun yang menemui saya." jawab orang yang dihubungi Tristan.
"Mereka akan segera menemuimu. Dua karyawan yang tidak disiplin waktu, keluyuran saat jam kerja. Pastikan jika besok mereka berdua tidak akan ada di kantor ini lagi. Ganti dengan orang baru."
"Baik, Pak."
Tristan menutup panggilannya setelah mendapat jawaban dari HRD perusahaan itu.
"Maaf, telah membuatmu tidak nyaman," ucapnya seraya merengkuh bahu Kirana.
Kirana sama sekali tidak berniat menyahut. Bahkan hingga mereka keluar dari lift dan menyusuri lorong menuju ke ruangan Tristan. Meski tangannya tak lepas dari genggaman suaminya, tak lantas membuat Kirana merasa tenang. Karena perhatian beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan tertuju kepada mereka berdua. Kirana semakin insecure. Benar kata orang, mereka seperti angka sepuluh yang sedang berjalan. Dia yang memiliki tinggi 155 cm dengan perut besar dan badan yang kini mengembang seperti adonan roti, harus bersisian dengan Tristan yang memiliki tinggi 187 cm dengan bobot tubuh yang ideal.
Tak! Kirana meletakkan cangkirnya dengan kasar. Dia berlari ke toilet yang ada di dalam ruangan itu dengan mata berkaca-kaca. Mematut diri di depan cermin mencari cela yang ada dalam dirinya. Kirana seolah merasa kepribadiannya berubah akhir-akhir ini. Perasaannya tidak mampu memilah mana yang penting untuk ditanggapi dan tidak. Semua masuk ke dalam pikirannya tanpa filter. Sehingga dia menjadi sering sakit hati karena terlalu sensitif dengan ucapan buruk orang terhadapnya.
__ADS_1
Grep! Sepasang lengan mendekapnya. Memutar tubuhnya lalu membawanya ke dalam dekapan.
"Lepaskan apa yang menjadi beban bagimu, Kirana. Saya yang akan menanggungnya."
Kaca di mata Kirana pun pecah. Tumpah ruah membasahi kemeja putih suaminya. Air mata itu akhirnya diperlihatkan di depan Tristan. Mungkin ini kali pertamanya dia menunjukkan jika setegar apa pun dirinya selama ini, Kirana hanya seorang wanita yang tetap butuh tempat untuk bersandar.
"Mereka bilang, aku bukan perempuan yang pantas untuk kamu. Aku pendek, bulet. Mereka bilang aku simpenan kamu. Memangnya aku seburuk itu?" Kirana mengadu sambil sesenggukan.
"Mereka juga bilang kamu lebih pantas dengan mantan sekretarismu itu. Bahkan terang-terangan mendukung kamu sama dia."
Tristan terkekeh pelan mendengar Kirana mengadu seperti anak kecil. Sikap yang sudah sejak lama dia tunggu. Kirana yang akan menunjukkan sifat manja dan bergantung padanya. Mengadukan semua keluh kesahnya dan tak segan menangis dalam pelukannya.
Tristan tidak suka perempuan yang terlalu mandiri. Tidak pernah menunjukkan sifat manja sebagai seorang istri. Dan selama ini Kirana terlalu gengsi menunjukkan sifat yajg sesungguhnya. Yang kerap dilihatnya saat Kirana selai manja pada kedua orangtuanya. Bukan Kirana yang salah, tetapi dirinya yang membentangkan jarak yang terlalu sulit untuk ditempuh oleh Kirana seorang diri.
"Kamu juga menertawakanku? Ikut-ikutan mengejekku pendek, gendut?"
"Kamu nggak gendut, tapi montok!"
"Apa bedanya?"
"Jelas beda. Kamu berisi di bagian-bagian tertentu. Di sini, di sini, dan di sini." Tristan menunjuk bagian dada, perut dan juga pantat Kirana.
Sebuah ruangan dengan satu tempat tidur berukuran medium. Tubuh Kirana kini telah terbaring di atas ranjang itu.
"Istirahatlah! Kamu butuh menenangkan diri. Setelah ini saya ada meeting. Jangan ke mana-mana sampai saya kembali," ujar Tristan membelai pipi istrinya.
"Jadi aku ditahan di sini hanya untuk diabaikan? Kalau tahu begini lebih baik tadi saya pulang naik taksi dan ngemall sama Mentari. Beli es krim, main game, belanja, ke salon, membosankan sekali hidupku kalau terus-terusan seperti ini." Kirana menggerutu.
"Kamu ingin sibuk? Baiklah, setelah anak kita lahir, kita buat lagi dua tiga empat dan seterusnya sampai kamu mengeluh capek."
"Nggak, nggak. Satu aja belum lahir."
Tristan terbahak. Tawa lepas itu akhirnya terdengar di telinga Kirana. Lalu ke mana perginya Tristan yang kaku dan sok cool?"
"Mas tinggal dulu, ya," ucap pria itu setelah melihat jam yang melingkar di lengannya.
__ADS_1
Kirana terpaksa merelakan suaminya keluar dari ruangan itu. Meski dia harus merasakan kesepian. Satu sampai dua jam tentu bukan waktu yang singkat jika dilewati tanpa aktivitas. Kirana merasa dirinya seolah seorang tawanan. Dipaksa berdiam diri dalam ruangan. Bukan tanpa alasan tentunya, tetapi Tristan ingin mencegah Kirana berinteraksi dengan banyak orang. Agar mentalnya tetap terjaga.
Bosan berada di dalam kamar cukup lama, Kirana beringsut turun dari ranjang itu. Keluar dari kamar sempit itu lalu pergi ke ruang kerja suaminya. Kegabutan pun mulai melanda. Tangan Kirana iseng membuka laci-laci meja kerja suaminya. Beberapa berkas pribadi tersimpan di sana. Dan lagi semua tentang Elita. Entah kenapa kali ini Kirana tidak merasakan sakit seperti sebelumnya. Dia membuka lembaran demi lembaran album foto lama. Beberapa foto Tristan remaja dan seorang gadis berseragam SMA. Rupanya hubungan mereka terjalin sejak masih duduk di bangku sekolah. Pantas saja Tristan begitu sulit untuk melupakan. First love and forever, kalimat tertulis tangan itu membuat Kirana melengkungkan bibirnya. Bucin ternyata sudah menjadi tabiat Tristan sejak dulu.
"Sayang?" Terlalu fokus pada album foto jadul itu membuat Kirana tidak menyadari jika pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang.
"Sedang apa kamu?" tanya Tristan kemudian.
Kirana menipiskan bibirnya. "Ini, lagi lihat-lihat suamiku di masa mudanya. Kamu ternyata keren dari dulu, ya? Pasti banyak yang naksir. Berapa pacar kamu waktu sekolah?" sahutnya menggoda sang suami.
Tristan bergegas mendekat lalu mengambil album foto itu dari tangan Kirana.
"Maaf, saya belum sempat membereskan yang di sini," ujarnya dengan rasa was-was jika saja kelalaiannya akan kembali membuat Kirana marah.
"Eh kok diambil? Aku baru lihat sebagian."
"Nggak. Nggak penting. Ini akan tersimpan di memori kamu dan akan menjadi pembahasan yang tidak ada habisnya saat kamu marah sama aku."
"Enggak. Beneran, deh. Siniin, Mas!"
Tristan mengabaikan permintaan Kirana. Dia mengambil beberapa album lagi yang ada di laci mejanya. Lalu memasukkannya ke dalam lemari dan menguncinya.
"Saya minta maaf kalau mengecewakan kamu. Album foto itu tidak akan saya buang. Saya akan tetap menyimpannya untuk Mentari."
Kirana tersenyum tipis. "Aku mengerti, Mas. Nggak usah merasa bersalah begitu. Saya tahu kalau saya ini yang kedua."
Tristan melipat kakinya. Menumpukan kedua lutut di lantai. Tangannya meraih jemari lembut milik istrinya. Mengecupnya penuh rasa.
"Percayalah, kamu akan menjadi yang terakhir. Saya ingin kamu yang menemani saya menghabiskan usia."
Kirana mengulas senyum tipis seraya mengangguk pelan.
"Kita lanjutkan yang tadi?" Tristan menaikkan sebelah alisnya.
"Yang mana?" jawab Kirana tidak mengerti.
__ADS_1
"Yang ...."
Tok! Tok! Bunyi pintu diketuk membaut Tristan mengerang kesal.