
Setelah kepulangan Tristan dari rumah sakit, setiap pagi Kirana harus melewati hari segudang aktivitas yang berbeda dari hari biasanya. Selain mengurus persiapan Mentari ke sekolah, dia juga harus mengurus bayi besarnya. Membantu Tristan mandi dan juga mengganti bajunya. Bahkan Kirana harus menyuapi saat Tristan makan.
Suaminya bahkan menjadi sangat manja dengan sedikit-sedikit memanggilnya untuk meminta bantuan ini itu yang kadang bisa dilakukan oleh Tristan sendiri. Sekedar mengisi daya baterai ponsel pun Tristan akan memanggil Kirana.
Perut Kirana yang sudah membesar tentu saja membatasi geraknya. Sedangkan ayah dan anak itu hanya mau dibantu oleh Kirana. Seolah bersaing untuk mendapatkan perhatiannya.
"Nanti visit dokter jam sepuluh ya Mas. Hari ini aku dari sekolah langsung ke rumah sakit untuk cek kandungan." Kirana menyiapkan obat-obat yang akan diminum Tristan.
"Saya temani, ya. Sekalian kontrol biar dokternya nggak usah ke sini."
"Nggak usah. Nanti kalau capek karena dokter kandungan biasanya ngantri panjang," tolak Kirana karena dia akan semakin repot jika mengajak Tristan dengan kursi rodanya.
"Oh iya. Secepatnya aku mau beli kendaraan untuk mobilitas aku. Kasihan Pak Cip kalau aku sedang ada perlu dan harus berbenturan dengan Mama yang mungkin ada acara juga. Kalau hari ini cukup waktunya pulang dari rumah sakit aku mau ke showroom."
"Harus?" tanya Tristan setengah tidak rela jika Kirana harus bepergian membawa kendaraan sendiri. Sedangkan dirinya saat ini pun hanya bisa berdiam diri di rumah.
"Iya. Kamu kan selalu melarang kalau aku bawa motor."
Tristan terdiam. Kirana sedang tidak bisa diajak bercanda. Sejak kemarin pulang dari rumah sakit, nada bicara dan sikap istrinya itu pun selalu datar.
"Nggak usah ke showroom. Kamu pilih saja mobilnya nanti biar diantar Lucky ke sini," ujarnya kemudian.
"Lucky siapa?" tanya Kirana sambil mengulurkan obat untuk diminum suaminya.
"Teman Mas yang punya showroom mobil," sahut Tristan sebelum menelan obatnya.
"Ya boleh. Kamu saja yang pilih. Aku nggak ngerti mobil. Harganya yang di bawah 500. Biar nggak over budget," jelas Kirana.
Suara Mentari melengking memanggil Kirana dari luar kamar. Perempuan itu pun bergegas membereskan sisa obat-obat lalu memasukkan ke dalam laci.
"Bunda, ayo berangkat!" Teriakan Mentari terdengar lagi.
"Iya. Salim sama Papa dulu, Nak," sahut Kirana dari dalam kamar.
__ADS_1
Kepala anak kecil itu pun menyembul di sela pintu. Lalu dia masuk ke dalam kamar berpamitan dengan ayahnya.
Kirana menyuruh mentari untuk menunggu di mobil. Karena dia harus membereskan bekas makan Tristan yang hari ini minta sarapan di kamar karena sedang perang dingin dengan sang Mama.
"Aku berangkat ya, Mas." Kirana meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangan itu.
"Na!" panggil Tristan saat Kirana hendak keluar meninggalkan kamar.
Kirana menoleh. "Ada lagi yang harus aku bantu, Mas?"
"Aku … mau peluk kamu!"
Kirana terdiam sejenak. "Aku buru-buru, Mas. Mentari sudah menunggu," sahutnya kemudian berlalu keluar dari kamar.
Tristan mengacak rambutnya kesal. Kirana masih peduli dengannya. Mengajaknya berbicara bahkan mengurus semua keperluannya tanpa mengeluh. Namun Tristan merasa jika istrinya perlahan tengah merentangkan jarak dengannya.
Kirana lebih memilih tidur terpisah kamar. Dengan alasan tidurnya lasak dan takut mengganggu Tristan yang sedang sakit.
Setiap hari Tristan dapat melihat Kirana, namun untuk sekedar memeluk istrinya, hal itu tidak bisa dilakukan. Kirana akan menghindar dengan banyak alasan. Dan sikap istrinya saat ini lebih membuatnya tersiksa daripada saat dia berjauhan dengan Kirana.
Lelaki itu mengambil gawainya. Membuka aplikasi perpesanan untuk menghubungi Lucky, teman kuliahnya. Menanyakan mobil yang ready stok dan bisa dikirim hari itu juga. Dia tidak boleh lupa jika Kirana pun punya sisi yang keras kepala seperti dirinya. Jika dia tidak mendapatkan mobil hari ini, bukan tidak mungkin Kirana akan mencarinya sendiri.
Tristan menggerakkan kursi rodanya keluar dari kamar. Dia mendapati mamanya yang tengah sibuk dengan gawainya. Sibuk mengurus bisnis toko bunganya yang tersebar di beberapa tempat.
Keberadaan Tristan diabaikan oleh sang Mama. Wanita itu bahkan tidak pernah menegur putranya semenjak bertemu di rumah sakit.
"Ma!" Panggilan itu diabaikan oleh Bu Ratih.
"Tristan minta maaf."
Bu Ratih menghentikan gerakan jarinya yang sedang mengusap ponsel.
"Tristan minta maaf telah berulang kali mengecewakan Mama," ucap Tristan lirih.
__ADS_1
"Bukan Mama. Tapi istrimu yang kamu kecewakan berulang kali. Jika bukan Kirana, tidak akan mungkin mau mengurus suami sepertimu lagi. Mama justru malu sama Kirana karena kelakuan kamu," sahut Bu Ratih dengan sengit.
Tristan tertunduk lesu. Bahkan mamanya lebih marah padanya. Sekali mau diajak bicara, suaranya terdengar pedas di telinga.
"Kalau pun nanti Kirana lebih memilih berpisah, Mama akan dukung dia. Kamu urus saja perempuan tidak tahu diri itu. Mama tidak akan pernah mengakui bayi yang ada dalam perutnya itu cucu Mama. Dia juga tidak akan Mama beri hak seperti Mentari dan calon anak Kirana. Dia tidak memiliki nasab keluarga ini," tegas wanita berkacamata itu.
"Ma, dia bukan anak Tristan. Aku dan Sil …."
"Jangan sebut namanya di depan Mama! Mama muak!" Bu Ratih beranjak dengan kesal. Meninggalkan Tristan dan pergi ke kamarnya di lantai atas.
Tristan semakin frustasi. Mamanya bahkan tidak mau mendengar penjelasan. Apa dirinya memang begitu brengsek, hingga keluarganya tidak ada yang mempercayainya lagi. Jika sikap mamanya terang-terangan membencinya, Lain halnya dengan Kirana yang masih berlaku baik namun tetap terasa menjaga jarak dengannya.
Tristan melajukan kursi rodanya ke teras belakang. Dari teras, dia melihat banyak koleksi tanaman hias mamanya yang ada di sisi kolam renang. Jika tidak mengingat kondisinya Tristan sudah pasti akan menceburkan diri ke dalam kotak berisi air jernih itu untuk mendinginkan kepalanya.
"Mas, kamu di sini?"
Tristan terkejut melihat Kirana tiba-tiba sudah muncul di pintu .Dia memutar kursi rodanya mendekati Kirana. Meraih tangan istrinya sebelum kembali menjauh. Dengan susah payah Tristan turun dari kursi roda, melipat kakinya berlutut di hadapan Kirana. Menahan rasa sakit luar biasa karena luka di kakinya.
"Katakan apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya, Kirana."
"Mas, tolong jangan seperti ini. Kaki kamu sedang sakit." Kirana mencoba mengangkat tubuh Tristan.
"Saya tidak peduli. Bahkan rasa sakit karena kamu acuhkan lebih sakit dari luka saya, Kirana. Saya tersiksa dengan sikap kamu kamu."
Lidah Kirana kelu melihat kaca di kedua mata Tristan.
"Saya salah. Tolong ampuni saya Kirana! Saya tidak sanggup jika harus kamu acuhkan."
"Mas, sudah ya. Ini kamu harus dibawa ke rumah sakit lagi kalau ada apa-apa sama tulang kamu yang patah." Kirana tidak tahan jika sudah melihat orang mengiba sedemikian rupa.
"Saya tidak akan berdiri sampai kamu mengampuni saya."
Kirana mendesah pelan. "Saya sudah memaafkan sebelum kamu memintanya," ujarnya datar.
__ADS_1
"Tapi sikap kamu tidak menunjukkan hal itu, Kirana. Saya tahu kamu benci dengan saya."
"Saya bukan orang pendendam, Mas. Ayo bangun! Dokter Ardi sudah datang!" Kirana berusaha agar tidak tersentuh dengan embun di sudut mata suaminya.