
Setelah lelah karena perjalanan pulang pergi ke surga buatan Tristan tadi, Kirana merengek lapar. Dia meminta Tristan mencari kedai bakso yang mangkal di pinggir jalan.
Kirana menyesap air jeruk dari dalam.gelasnya sambil menunggu bakso yang sedang diracik oleh penjualnya. Tak lama dua mangkok bakso pun siap di depan mereka. Aroma kuah bakso yang tercium begitu menggoda. Kirana tidak sabar untuk menyendok kuah bakso yang masih mengepulkan asap.
Namun tiba-tiba Kirana menepuk dahinya. Dia melupakan satu hal. Janji mentraktir makan siang Nabila yang sudah terlewat.
"Aduh, Mas! Gimana kalau Nabila nunggu?"
"Nggak. Tadi Daniel ngajak dia makan siang."
"Benar?" Kirana memastikan sekali lagi. "Kok Mas tahu?"
"Kan ijin dulu sama bos kalau mau bawa anak buahnya."
Kirana mencebik. Namun melihat beberapa kali Nabila bersama Daniel, dia menjadi penasaran akan hubungan keduanya.
"Daniel sama Nabila ada hubungan ya, Mas?" tanyanya pada sang suami.
Tristan mengangguk sambil mengunyah baksonya.
"Hubungan seperti benang kusut yang tidak akan pernah bisa terurai," sahutnya kemudian.
Kirana pun terdiam. Dia mengerti maksud Tristan. Perasaan yang tidak mungkin menyatu karena perbedaan.
__ADS_1
"Terus gimana?" tanya Kirana mendadak ingin tahu lebih banyak tentang asmara Daniel dan Nabila.
"Gimana apanya?"
"Ya hubungan mereka berdua?"
"Nggak jelas. Berteman mungkin," jawa Tristan yang membuat Kirana makin penasaran.
Dia ingin bertanya lebih banyak lagi, namun Tristan menyuruhnya segera menghabiskan baksonya. Karena kalau terlanjur dingin, Kirana sudah pasi enggan memakannya. Mereka juga sudah berencana ke rumah sakit untuk melihat keadaan Silvia.
Dua mangkok itu telah kosong. Kirana membayar pesanan mereka karena kebiasaan Tristan jarang membawa uang cash. Sehingga menyusahkan kalau diajak jajan di pinggir jalan.
Setelah membayar pesanan, mereka melaju ke rumah sakit. Hari ini mereka harus dua kali bolak-balik ke rumah sakit yang sama.
"Gimana keadaanmu, Sil?" tanya Tristan.
"Kata dokter aku kekurangan cairan, tensiku juga drop," sahut Silvia lemah.
Tristan pun mendesah pelan. Dia menatap Lucky yang masih terdiam di samping bed dengan tangan tak lepas menggenggam tangan Silvia.
Lelaki itu baru beranjak saat Tristan menyingkir dari samping ranjang dan keluar dari ruangan itu. Lucky mengikuti Tristan yang melangkah menjauh dari kamar rawat Silvia. Dan berhenti di kantin rumah sakit.
Dua lelaki itu pun duduk berhadapan. Wajah Lucky tampak kacau tidak terdefinisikan. Kemeja yang dikenakannya pun selaras dengan wajah dan rambutnya. Lucky yang selalu tampil stylish untuk memikat perempuan mendadak amburadul.
__ADS_1
"Sisil nggak mau bicara sama gue," gumamnya frustasi.
Tristan menarik sudut bibirnya. "Berapa cewek yang sudah lo tiduri? Ngertiin satu cewek aja lo nggak bisa," sarkasnya.
"Cewek-cewek gue nggak butuh dingertiin. Mereka yang ngerti apa maunya gue."
"Kalau lo mau nerapin itu ke istri lo, ya….say goodbye! "
"Lo kenapa jadi nakutin gue, sih Tan? Gue nggak akan melepas Sisil. Cukup gue yang hidup dalam keluarga yang berantakan. Gue nggak mau anak gue ngerasain hal yang sama."
"Itu nggak akan terjadi kalau lo tetap egois. Gue sendiri yang akan bantu Sisil buat lepas dari lo kalau lo masih tetap brengsek!" tegas Tristan.
Lucky menatap Tristan seketika.
"Jangan gila lo, Tan. Lo mau misahin gue sama anak gue?!" sahutnya tak terima.
Tristan tersenyum miring. "Nggak ada bekas anak atau bekas ayah. Lo masih bisa jadi ayah buat anak lo meskipun kalian berpisah. Itu lebih baik daripada Sisil tersiksa hidup sama lo."
"Terus anak gue harus hidup dalam keluarga yang nggak utuh seperti gue. Lo lebih brengsek dari gue kalau sampai misahin gue sama anak istri gue," bantah Lucky.
Tristan mengangkat bahunya. "Terserah. Gue rasa Sisil akan lebih nurut apa kata gue," sahutnya kemudian.
Lucky pun menatap Tristan dengan penuh selidik "Lo bukan lagi ngarep Sisil pisah sama gue terus mau lo kawinin, kan?"
__ADS_1
"Otak lo emang udah berkarat!" Tristan menoyor kepala Lucky sambil beranjak dari tempat duduknya.