
Entah apa yang sedang dibicarakan dua orang itu. Kirana sesekali tersenyum dan hal itu membuat Tristan merasa geram. Selama ini dia belum pernah melihat Kirana tersenyum semanis itu untuknya.
"Permisi!" Dia menyapa dengan suara beratnya yang terdengar lebih mirip hardikan. Tatapannya tajam tertuju pada Kirana yang terkejut bukan main melihat kedatangannya di tempat itu.
"Mau jemput putranya, Pak?" tanya Baraka dengan ramah.
"Saya mau jemput istri saya." Tristan menyahut dengan tatapan masih tertuju pada Kirana yang mematung mempertemukan iris mata mereka.
"Istri? Tapi ini tempat mengaji anak-anak. Dan Sejak tadi tidak ada yang ditunggu oleh ibunya di sini," ujar Baraka.
"Istri saya yang sejak tadi berbicara dengan Anda," sahut Tristan.
Baraka mengernyit. Lalu menatap Kirana yang masih syok dengan kehadiran Tristan.
"Maksudnya….Kirana?"
"Iya. Kenapa?" jawwb Tristan. Baraka tampak tenang meski ditatap demikian tajam olehnya.
"Anda guru mengaji di sini? Sebaiknya Anda belajar lagi. Biar tahu bagaimana hukumnya mendekati istri orang,"
"Mas!" Kirana mengingatkan Tristan yang telah berbicara kelewatan. Dia pun meminta maaf pada Baraka atas sikap suaminya yang tidak sopan.
Kirana mengajak Tristan menjauh dari tempat itu. Memastikan jika tak akan ada seorang pun yang akan mendengar pembicaraan mereka.
"Untuk apa Mas ke sini?" tanyanya setelah mereka menepi dari keramaian anak-anak dan juga jauh dari jangkauan pendengaran Baraka.
"Jemput kamu. Ayo pulang!" Tristan menarik lengan Kirana.
"Tidak bisa sekarang. Anak-anak belum dibubarkan."
Decakan kesal pun terdengar. "Memangnya guru di sini cuma kamu? Masih ada yang lain, kan? Mereka tidak bisa membubarkan anak-anak kecil ini?"
"Pelankan suaramu! Tidak baik didengar mereka. Tunggu saja kalau kamu mau. Kalau tidak, silakan pulang lebih dulu. Nanti saya pulang sama Mas …. Syifa."
Tristan menarik sudut bibirnya. "Sejak kapan yang namanya Syifa itu laki-laki?"
Kirana pun menjadi salah tingkah. Hampir saja dia keceplosan. Saat berangkat tadi dia memang membonceng Syifa. Tapi mulutnya justru mengucap kata mas. Dan Tristan, sejak kapan dia cemburu Kirana dekat dengan pria lain? Kirana hampir tak percaya jika laki-laki di depannya adalah Tristan yang selama ini dia kenal.
"Tunggu sebentar. Tidak sampai 15 menit," ujar Kirana.
__ADS_1
Tristan membiarkan Kirana kembali ke dalam rumah diikuti puluhan anak-anak yang tadi bermain di halaman. Dengan patuh mereka mengikuti arahan Kirana. Hal yang membuat Tristan kagum. Ilmu apa yang dipakai Kirana hingga semua anak itu menurut. Jangan-jangan karena ilmu itu juga sehingga dia rela mencari Kirana sampai ke pelosok desa.
Sementara di dalam ruangan, Kirana mengajarkan doa penutup majelis pada anak-anak sebelum mereka pulang. Suara anak-anak yang lantang dan berpadu terdengar hingga ke luar ruangan bahkan jalan di depan rumah itu. Satu persatu mereka pun meninggalkan tempat mengaji itu setelah bersalaman dengan Kirana dan juga guru mengaji lainnya.
"Sudah, Na. Kamu nggak usah ikut beresin. Biar yang lain aja. Nggak enak sama suamimu," kata Baraka saat Kirana hendak mengangkat meja-meja kecil untuk disusun menjadi satu ke pinggir tembok.
"Nggak papa, Mas."
Kirana dapat membaca gurat kecewa di wajah Baraka. Dia pun merasa sungkan dengan perubahan sikap yang tidak terlalu kentara namun Kirana jelas merasakan hal itu. Benar kata Syifa, Baraka terlalu lamban untuk urusan perasaan.
Kirana menghela nafas pelan. Bukankah akan lebih baik jika Baraka tidak pernah mengungkapkan apa pun tentang perasaannya. Dengan begitu, dia bisa tetap berpura-pura bodoh meski dalam hati merasa kasihan.
"Jadi benar dia suamimu?" Pertanyaan lirih itu terdengar saat Kirana sedang meletakkan meja di tepi ruangan.
Kirana menoleh sekilas pada Baraka yang tengah melakukan hal yang sama dengannya.
"Iya Kenapa, Mas?"
"Nggak. Hanya sedikit kaget. Kamu nggak pernah bilang kalau sudah menikah."
"Bukannya nggak bilang cuma belum aja." Kirana berkilah.
Senyum hambar terukir di bibir Baraka. "Semoga bahagia, Na."
"Bisa aja kamu." Baraka tertawa hambar. Lelucon Kirana sama sekali tidak terdengar lucu baginya.
Selesai Baraka mengintrogasinya, datang Syifa dengan tujuan yang sama. Menanyakan siapa laki-laki yang duduk di atas motor dan tak melepas tatapan ke dalam bangunan itu. Syifa menjerit histeris kala Kirana memberitahu jika lakil-laki itulah yang bernama Tristan.
"Astaghfirullah. Banyak-banyak nunduk deh kalau lagi main ke rumah kamu."
Kirana mencebik. Kendati Syifa tahu tentang pernikahannya dengan Tristan, namun dia tidak pernah berbagi cerita tentang perangai suaminya yang lebih mirip seperti musuh.
"Ganteng banget, Na!" bisik gadis itu.
Kirana justru mendengus saat mendengar pujian dari Syifa untuk suaminya. Mungkin Tristan orang pertama yang dipuji oleh Syifa. Karena perempuan itu selama ini sebelas dua belas dengan Baraka. Acuh dengan lawan jenis.
Setelah memastikan semua anak pulang, Kirana pamit pada Baraka. Pria itu memang selalu pulang paling akhir dan harus mengunci pintu. Karena ternyata mencari anak-anak yang bisa mengajar baca tulis qur'an tidak semudah yang mereka bayangkan. Sehingga Kirana, Baraka dan Syifa harus turun tangan mengelola TPQ itu sampai ada yang bersedia membantu mereka.
Kirana mendatang Tristan dengan gugup setelah tadi sempat jengkel dengan sikap arogan Tristan.
__ADS_1
"Sudah selesai?" Suara Tristan terdengar lebih lembut. Wajahnya pun sudah tidak semasam tadi. Karena lengkungan bibir tipis yang terlihat sangat manis.
Kirana pun mengangguk. Dia naik ke jok belakang begitu Tristan menyalakan mesin motor. Jantungnya berdegup lebih kencang saat Tristan meraih tangannya dan meminta Kirana berpegangan pada pinggang suaminya itu. Tristan sedang kemasukan, begitu pikirnya. Jika dalam keadaan sadar, mana mungkin hal itu terjadi.
Saking gugupnya, Kirana bahkan tidak membalas saat dua temannya membunyikan klakson saat mereka melaju lebih dulu. Syifa tersenyum simpul sambil kembali membunyikan klakson dengan kencang. Sejak kapan Syifa jadi suka menggoda seperti itu? Kirana pun menjadi keki.
"Ayo jalan, Mas!" pinta Kirana saat Tristan tak juga menarik gas.
"Saya lupa, arah rumah kamu ke kanan atau ke kiri?" Kegugupan sepertinya juga mendera Tristan. Hingga daya navigasinya mendadak lemah.
"Kanan!" sahut Kirana.
Tristan melajukan motor mengikuti jalan yang dilewatinya tadi. Melewati jalanan dengan hamparan sawah bak permadani hijau. Tristan sengaja melaju dengan pelan karena dia tidak mau melewatkan pemandangan yang sangat jarang ditemuinya. Terakhir kali mungkin saat KKN puluhan tahun yang lalu.
"Mas! Stop!" seru Kirana saat barisan bebek yang baru naik dari parit membelah jalanan. Tristan spontan menarik rem. Menunggu barisan bebek yang belum juga kelihatan ujungnya.
"Ini tidak bisa disela sebentar?" gerutu Tristan.
"Mana bisa."
Tristan mendesah kasar. Dia turun dari motor menghampiri seorang laki-laki yang mengenakan caping dan membawa sebatang ranting. Laki-laki itu tengah menghalau bebek-bebek agar naik dari sungai.
"Mas!" Tristan berteriak memanggil laki-laki itu.
"Ini bisa distop sebentar tidak? Saya mau lewat!" serunya lagi.
"Mas! Jangan membuat keributan." Kirana menarik lengan Tristan untuk kembali ke motor. Lagi, dia harus meminta maaf pada pria pemilik penggembala bebek itu atas sikap Tristan.
"Tunggu saja di sini!" kata Kirana kesal.
Astaga! Dia harus menunggu ribuan hewan itu sampai barisan terakhir? Mengantri es krim kesukaan Mentari bahkan tidak sampai selama iitu. Mau tak mau Tristan pun menunggu di atas motor hingga bebek terakhir lewat di depannya.
Akses jalan pun kembali terbuka setelah barisan bebek itu selesai. Perjalanan mereka pun kembali berlanjut.
Sampai di rumah, Kirana meninggalkan Tristan di garasi. Masuk ke dalam rumah melalui pintu penghubung garasii dan dapur.
Kirana melihat ibunya yang masih berkutat di dapur dengan bahan masakan. Diletakkannya tas di meja makan kemudian mendekati ibunya yang sedang memotong sayuran.
"Sudah, biar Ibu saja. Kamu temani suamimu. Kasihan dia, sejak datang tadi nungguin kamu."
__ADS_1
Kirana mengerutkan dahi. Dia nyaris tak percaya dengan ucapan ibunya. Bukankah dari kemarin ibunya begitu tidak menyukai Tristan. Bahkan berkali-kali menanyakan perkembangan hubungannya dengan sang suami. Berharap agar keinginannya memiliki menantu Baraka terkabul.
Lalu sore ini, apa yang terjadi dengan Ibunya. Jangan-.jangan Tristan telah melakukan sesuatu sehingga ibunya begitu mudah luluh dan berubah pikiran mendukung hubungannya dengan Tristan akan membaik.