
Anggukan kepala Kirana menjadi akses bagi Tristan. Wanita itu memejam, membiarkan suaminya menyusuri setiap inchi wajahnya. Nyaris tak ada bagian yang terlewat. Hingga sentuhan kenyal itu bermuara di bibir tipis nan merah miliknya. Saling ******* saling melepas rasa rindu yang tidak pernah terucap namun begitu kentara mereka rasakan.
Tristan menarik tengkuk istrinya sementara tangan yang lain menarik tali piyama dan kain tipis berwarna merah itu pun menyembul. Perjalanan panjangnya di padang gersang telah berakhir saat menemukan oase tempatnya menuntaskan dahaga selama tiga tahun terakhir. Untaian kalimat pemujaan mengalir membuat Kirana bagai di awang-,awang.
Suara melenguh pun terdengar saat titik sensitif Kirana dibangkitkan. Seolah sebuah isyarat bagi Tristan untuk segera singgah.
"Katakan kalau kamu merasa kesakitan. Saya akan berhenti. Tapi hanya sebentar."
Kirana mengangguk dengan gugup. Meski Tristan berulang kali mengatakan untuk rileks. Kuku-kukunya mencengkeram saat merasakan bagian tubuhnya terkoyak.Kirana meringis sesaat. Karena yang tersisa setelahnya adalah kenikmatan.
Hentakan dan ******* saling bersahutan bagaikan sebuah simfoni yang begitu indah. Hingga keduanya terhempas ke dalam kahyangan.
Erangan terdengar dari bibir sang penguasa permainan diiringi sebuah nama yang terucap dari bibirnya.Kirana harus kembali tersayat saat Tristan justru menyebut nama istri pertamanya saat pelepasan. Sekuat hati dia menahan air yang bersumber dari netranya merangsek ingin tumpah. Ternyata dirinya memang tidak pernah ada dalam hati laki-laki yang kini rebah di atasnya. Satu sisi pun tak pernah tersisa untuk Kirana. Elita masih memenuhi setiap sudut hati Tristan. Lalu apa artinya kalimat pemujaan yang seolah terdengar jika Tristan begitu mengagumi Kirana? Hanya untuk menyenangkan hati Kitrana agar wanita itu takluk padanya?
"I love you!"
Ucapan itu terdengar menyakitkan meski disertai sebuah kecupan singkat di dahi Kirana sebelum Tristan menggulingkan tubuhnya ke samping.
Kirana tak menanggapi ucapan suaminya. Tidak hanya tubuhnya yang remuk namun juga hatinya yang luluh lantak. Keindahan yang dia pikir akan membekas selamanya, ternyata hanya semu.Tristan justru kembali menorehkan luka. Dirinya memang tak pernah benar-benar diinginkan. Namun Kirana tak menyesal. Setidaknya tugasnya sebagai seorang istri telah tunai.
Kirana membungkus tubuhnya dengan selimut lalu menyeret langkahnya ke kamar mandi. Tertatih-tatih seraya menahan ngilu di bagian bawah tubuhnya.
Duduk bersimpuh di bawah shower, Kirana membiarkan air mengguyur tubuhnya menyatu dengan air mata dan luruh ke lantai. Berharap peristiwa baru saja akan terlepas dari ingatannya bersama dengan mengalirnya air ke pelimbahan.
Entah berapa kali putaran jarum jam Kirana. berdiam diri di bawah guyuran air. Dia beranjak dari lantai kemudian membersihkan diri. Mengenyahkan duka yang menderanya.
Kirana membalut dirinya dengan bathrobe lalu menyeret langkah keluar dari kamar mandi. Dengkuran halus terdengar dari ranjang. Tristan telah di balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Meski kecewa, nyatanya Kirana tak bisa mengubah cintanya menjadi benci. Langkahnya mendekat, merapikan selimut hingga menutup bagian dada.
Kirana menatap lekat wajah polos dan tanpa rasa penyesalan itu. Ingin menumpahkan kecewa namun tak pernah mampu.. Benarkah rasa cintanya terlalu besar untuk pria yang sudah berulang kali membuatnya kecewa?
****
Sorot cahaya mentari perlahan menyelinap dari celah-celah dinding kamar. Merangsek masuk memberi penerangan menyadarkan sang empunya kamar jika malam telah beranjak.
Kirana meregangkan tubuhnya yang masih terasa ngilu. Dia menajamkan penglihatannya saat melihat jarum jam yang menunjuk angka 5 dan 8. Berharap jika dia tidak terlalu kesiangan. Namun penglihatannya tidak salah. Hampir setengah sembilan. Sesiang itu dia baru bangun. Hal yang tak pernah terjadi dalam hidupnya.
Ke mana semua penghuni rumah. Hingga setega itu tidak membangunkannya. Pria yang semalam tidur di sebelahnya pun sudah tidak di tempatnya. Semua seolah membiarkannya terbuai dalam alam mimpinya.
Kirana menyingkap selimut dan beringsut ke tepi ranjang. Noda yang tertinggal di kain merah muda itu menjadi simbol bahwa Kirana menjaga diri dengan baik dan kesucian itu hanya dipersembahkan untuk orang yang berhak atas dirinya.
Kirana menggulung kain lebar itu lalu membawanya keluar dari kamar. Dia mendapati sang ibu yang berkutat di dapur dengan perabotan bekas makan.
"Kata suamimu biarkan saja. Ya sudah."
"Ya tapi kan Nana jadi kesiangan."
"Katanya kamu capek.habis buatin Ibu cucu," sahut Bu Ambar sambil mengelap tangannya yang basah. Kirana terbelalak mendengar penuturan ibunya yang tidak jelas.
"Ibu ngomong apa, sih?" gerutu Kirana.
"Tuh, bekasnya di mana-mana. Ganti baju sana! Nggak enak dilihat Ayah nanti."
Kirana meletakkan begitu saja sprei yang dibawanya ke dalam mesin cuci kemudian bergegas kembali ke kamar.
__ADS_1
Berdiri di depan kaca menatap bayangan dirinya sehingga terlihat jelas bercak berwarna merah yang memenuhi bagian tubuhnya. Leher, dada, lengan, semua tak luput dari sentuhan hingga meninggalkan jejak yang tampak jelas di kulit putih Kirana.
Untung hanya ibunya yang melihat. Dia pun berganti pakaian dan menutup kepala dengan kerudung untuk menutup seluruh tubuhnya. Kemudian kembali ke dapur. Melongok ke meja makan, menu semalam sudah berganti dengan makanan baru yang berbeda. Namun rasa lapar harus tertunda karena sprei kotor telah menantinya di dalam mesin cuci.
Dan Kirana harus berterima kasih pada ibunya saat mendengar bunyi mesin pencuci baju itu berputar. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan ibunya.
Ketika berada di rumah, dapur dan pekerjaan rumah memang menjadi hal yang seolah terlarang untuk Kirana. Ibunya tidak membiarkan Kirana memasak. Mereka mempekerjakan seorang tetangga untuk membersihkan dan membereskan pakaian kotor setiap harinya. Kirana benar-benar diratukan oleh orang tuanya. Meski begitu, bukan berarti Kirana menggantungkan diri sepenuhnya pada kedua orang tuanya. Itu kenapa dia memilih kuliah di luar kota yang jauh dari orang tuanya. Dia ingin membuktikan bahwa label anak manja tak akan selalu melekat dalam dirinya
"Kamu makan dulu sana! Tadi Syifa telpon Ibu katanya kamu ada janji."
Kirana mengernyit. Jika Syifa sudah menelepon ibunya, itu artinya dia sudah menelpon Kirana puluhan kali namun tidak ada jawaban.
Seketika Kirana menepuk dahinya karena melupakan satu hal. Hari ini ada jadwal zoom meeting dengan resellernya. Ia pun bergegas kembali ke dalam kamar, menyambar handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Niat awal hanya mencuci muka, namun rasa gerah membuatnya memutar keran dan membiarkan tubuhnya terguyur air.
"Aaa!" Teriakan itu terhenti saat orang yang tiba-tiba mendekapnya membungkam mulutnya.
"Ssss! Jangan berteriak. Nanti terdengar dari luar."
Kirana pun tahu siapa pemilik lengan yang mendekapnya dari belakang dan tangan yang lain membungkam mulutnya. Entah kapan Tristan masuk ke dalam kamar mandi itu. Kirana bahkan tidak mendengar suara pintu dibuka.
"Mas mau apa?" tanya Kirana gugup saat Tristan tak lagi membekap mulutnya. Melainkan menjelajah ke bagian-bagian tubuh yang sensitif hingga Kirana tidak tahan untuk tidak mengeluarkan *******.
"Mau lagi."
"Saya buru-buru, Mas," elak Kirana. Dia tahu bagaimana seharusnya menjadi istri yang baik, namun luka semalam masih begitu terasa. Tristam bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun meminta mengulanginya.
Penolakan Kirana pun tak berarti apa-apa, karena saat ini dia justru tunduk dan patuh saat Tristan menggendongnya ke tempat tidur.
__ADS_1