Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
33. Pernikahan Syifa


__ADS_3

Kirana memeluk Syifa yang duduk di tepi ranjang yang sudah dihias dengan rangkaian bunga sambil sesekali menyusut air matanya. Malam ini adalah malam terakhir bagi Syifa menyandang status lajang. Atau disebut malam midodareni. Karena besok pagi, acara akad nikah akan digelar.


Entah apa yang membuat Syifa menitikkan air mata sejak tadi. Seharusnya Syifa bahagia seperti saat dia mempersiapkan acara pernikahannya. Bukan bersedih seolah menanggung sebuah beban pikiran.


Sesekali Kirana membantu mengusap air mata Syifa dengan tisu. Kendari rasa ingin tahu menggelitiknya, dia membiarkan Syifa kembali menumpahkan air matanya.


"Aku nggak bisa bahagia sendiri, Na. Kalau aku bahagia, kamu pun juga harus merasakan hal yang sama."


"Maksud kamu apa sih, Fa? Tentu saja aku bahagia lihat kamu akan menikah."


Syifa menggeleng. "Ketika nanti sudah menikah, aku pasti tidak memiliki banyak waktu lagi untuk kita. Kamu akan sendirian dan pasti kesepian."


Kirana tertawa renyah. Ternyata begitu besar rasa sayang Syifa padanya. Bahkan sampai berpikiran konyol seperti itu.


Waktu pasti akan terus berputar. Masa akan berganti. Hal itu adalah sebuah kepastian. Akan ada masanya semua yang pernah mereka jalani akan menjadi sebuah kenangan manis. Mereka harus disibukkan dengan urusan pribadi yang pasti akan mengurangi intensitas kebersamaan dengan sahabat sedekat apa pun pertemanan yang mereka jalin.


"Kok kamu ketawa, Na? Kamu nggak sedih?"


"Nggak. Aku bahagia karena kamu akan jatuh ke laki-laki yang tepat."


Syifa tersipu. Dia ingat betul bagaimana sering menggoda Kirana dulu. Menjodoh-jodohkan Kirana dan Baraka. Siapa yang tahu pada akhirnya dirinya lah yang akan menjadi pendamping hidup Baraka.


"Udah jangan nangis lagi. Nggak lucu kalau besok matanya bengkak."


Malam ini, Syifa meminta Kirana untuk tidur bersamanya. Karena besok-besok mungkin mereka tidak bisa melakukannya lagi. Dan ranjang pengantin itu bukan sang pengantin yang pertama menempati. Tetapi mereka berdua.


"Kenapa senyum-senyum, Na?"


"Ah! Nggak. Lagi ngebayangin kamu sama Baraka besok malam …."

__ADS_1


"Nana! Pikiran kamu kenapa jadi ke mana-mana, sih!" pekik Syifa seraya memukulkan guling pada Kirana.


Kirana pun tertawa lepas. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Mereka harus tidur secepatnya karena besok sebelum subuh sudah harus bangun dan bersiap-siap.


****


Syifa tampak cantik dalam balutan dress warna putih. Dan jilbab menutup dada berhias sebuah tiara di kepalanya. Make up yang terlihat natural membuat kesan elegan.


Sejak tadi dia tampak gugup. Bahkan tangannya terasa begitu dingin digenggam oleh Kirana.


Keduanya tak dapat menahan rasa haru saat Baraka mengucap ijab qabul dengan lantang diiringi sahutan kata sah para saksi. Semua prosesi akad nikah mereka saksikan dari dalam kamar melalui layar kaca.


Syifa pun tampak menyeka sudut matanya. Rasa haru bercampur dengan bahagia menjadi satu. Sebuah pelukan tulus dari sahabat membuat dia semakin sesenggukan. Titik bening itu pun tak mampu dibendungnya


Tak berselang lama, pintu kamar dibuka. Baraka dengan beskap putih tampak gagah mendatangi Syifa. Memanjatkan doa dengan tangan yang diletakkan di atas kepala wanita yang baru saja dinikahinya. Dilanjutkan dengan Syifa yang mencium punggung tangannya.


Seseorang menepuk bahunya. Menyadarkan Kirana dari lamunan. Kirana menoleh dan mendapati Umi Syarif tersenyum padanya. Wanita berbadan berisi itu serta merta memeluknya dengan erat. Entah bermakna apa. Hanya saja Kirana merasakan sebuah kasih yang mengalirkan energi dan membuatnya kembali tegar.


Umi Syarif mengurai pelukannya. Menangkup wajah Kirana seraya mengucap doa agar kebahagiaan selalu menyertai perempuan yang pernah diinginkan untuk menjadi menantu. Tangan wanita itu kemudian berpindah mengelus perut Kirana yang sedikit membuncit. Merapalkan doa untuk keselamatan Kirana dan calon bayinya.


Betapa beruntungnya Syifa mempunyai ibu mertua yang begitu penyayang. Ah! Terlalu banyak membandingkan membuat Kirana mengingkari nikmat yang telah dia dapatkan. Bukankah ibu mertuanya juga memperlakukan dia dengab begitu baik? Mungkin sama baiknya dengan Umi Syarif.


Kirana mengangguk saat Umi Syarif mengajaknya keluar dari kamar. Mengiring kedua pengantin untuk menuju ke pelaminan.


Raja dan Ratu sehati telah bersanding di pelaminan. Mengundang perhatian talu undangan yang hadir dalam acara akad nikah. Siapa yang tidak suka melihat pasangan yang kini duduk berdampingan. Nara Syifa yang memang berparas cantik natural bersanding dengan Baraka Al Fajri yang tampan, menantu idaman para orang tua.


Setelah acara akad nikah, maka dilanjutkan dengan acara pasrah penganten. Memasrahkan pengantin wanita kepada keluarga pengantin pria. Karena tanggung jawab anak perempuan yang sudah menikah bukan lagi ada pada ayahnya, melainkan sudah diambil alih oleh sang suami. Begitu juga seorang perempuan baktinya yang utama adalah pada suaminya.


Kirana yang duduk di deretan kursi tamu tampak berkaca-kaca saat mendengar petuah dari sesepuh tentang kehidupan berumah tangga. Sesekali dia melempar senyum tipis ke arah Syifa. Rasanya ingin iri melihat tangan Syifa yang seolah tidak ingin dilepas oleh Baraka. Ternyata bisa juga pria itu bersikap begitu manis pada Syifa.

__ADS_1


"Butuh tisu?"


Kirana menoleh pada orang yang menyodorkan selembar tisu untuknya. Laki-laki berkemeja batik seragam yang yang mengidentikkan keluarga kedua mempelai. Karena Syifa memang membuatkan semua keluarganya dan keluarga Baraka dengan dress dan kemeja batik yang sama.


"Tidak. Terima kasih," tolak Kirana dengan halus.


Kerutan di sudut mata lelaki yang memakai masker itu menandakan jika dia tidak mempermasalahkan penolakan Kirana.


Kirana kembali fokus ke sepasang pengantin di pelaminan. Dengan khusyuk mengaminkan untaian doa yang dibacakan sebagai penutup acara.


"Mau minum?" Kirana melirik botol kecil air mineral yang diulurkan oleh orang yang sama. Dia pun kembali menolak dengan halus. Dan lelaki tak dikenal itu menyimpan kembali minuman yang ditolak Kirana.


"Sepertinya sejak tadi Anda kelihatan bersedih. Apa yang sedang menikah itu mantan pacar Anda?" Pertanyaan itu membuat Kirana melirik tajam.


"Bukan," jawabnya singkat.


Lelaki itu pun mengangguk-anggukan kepala.


"Masih single?"


Kirana terkejut dengan pertanyaan pria di sampingnya.meski wajahnya terlihat datar.


"Permisi!" Kirana beranjak dari kursinya dengan perasaan kesal.


Dia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ibu dan ayahnya di antara tamu-tamu yang sedang mengambil makanan. Namun kedua orang tuanya berada jauh jangkauan pandangannya.


Kirana merasa semakin tidak nyaman karena pria itu seolah mengekornya. Bahkan saat Kirana mengambil salah satu hidangan di stand yang tidak mengantri. Jaraknya begitu dekat hingga mereka nyaris bersentuhan. Dengan perasaan jengkel, Kirana membalik badan.


"Maaf. Bisakah sedikit menjaga jarak? Sikap Anda membuat saya tidak nyaman." Kirana berkata dengan tegas tanpa menutupi perasaannya. Dia pun mengambil makanan secepatnya lalu menemui Ibunya yang terlihat sedang duduk bercengkerama dengan seorang tamu wanita.

__ADS_1


__ADS_2