Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
24. Patah Hati


__ADS_3

Baraka menatap cincin yang baru kematin dibelinya. Dia bahkan harus menunggu satu minggu saat memesan cincin itu. Dan ketika cincin itu sudah di tangannya, dia harus menerima kenyataan jika Kirana sudah menjadi milik orang lain. Perjuangan bahkan belum dimulai, dia harus memupus harapannya untuk meminang gadis pujaannya.


Cincin itu pun dimasukkannya kembali ke dalam box saat ibunya datang dan duduk di sampingnya.


"Jadi kapan kamu mau mengajak Umi ke rumah Kirana?" Pertanyaan ibunya seperti air garam yang disiramkan pada lukanya.


Dia tak sampa hati mengatakan hal yang sebenarnya tentang Kirana. Harapan ibunya pada Kirana mungkin jauh lebih besar daripada dirinya. Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, Kirana lah yang digadang-gadang untuk menjadi menantunya.


"Mau nunggu apa lagi? Penghasilan kamu sudah sangat cukup untuk menghidupi anak istri. Usiamu kalian juga sudah dewasa."


Baraka tersenyum miris. Meratapi nasibnya yang baru saja ditikung orang.


"Kirana sudah menikah, Mi." jawaban lirihnya tentu saja membuat sang ibu terkejut.


"Mana mungkin. Setiap pengajian umi ketemu sama ibunya Kirana. Dia nggak pernah bilang kalau Kirana sudah menikah. Lagi pula kalau dia menikah, kapan dan dengan siapa? Warga kampung sini nggak pernah ada yang tahu. Sebentar, Umi harus tanyakan ini ke ibunya Kirana." Wanita berjilbab itu pun beranjak dari samping putranya.


"Untuk apa, Mi?"


"Ya untuk mencari tahu kebenarannya. Bu Restu sendiri pernah bilang jika dia akan merestui kamu dan Kirana. Lalu kenapa dia justru menikahkan putrinya dengan orang lain?"


"Maksudnya gimana sih, Mi?"


Baraka tidak pernah tahu. Pembicaraan apa yag telah dibahas antara kedua ibu-ibu itu. Meskipun dia tahu ibumya menyukai Kirana namun tak pernah menyangka jika ternyata banyak hal yang telah dibicarakan mereka di belakangnya. Bukan hal yang tidak mungkin jika Kirana juga telah tahu tentang perasaan yang dipendamnya.


Namun Baraka kini justru memikirkan hubungan kedua keluarga yang selama ini sangat baik. Dia khawatir permasalahan hatinya akan memicu keretakan karena ibunya yang merasa dipermainkan.


"Sudahlah, Mi. Mungkin kami memang tidak berjodoh."


Umi Syarif justru mendengkus. "Umi kan sudah pernah bilang. Kalau belum siap untuk menikah, diikat dulu. Biar nggak ada laki-laki yang mendatangi Kirana. Lepas kan jadinya?"


"Astaghfirullah. Ada-ada aja Umi ini. Emang kambing aja diikat?"


"Ya kan memang begitu. Paling tidak ada pembicaraan dengan orang tua. Kirana itu cantik, dia juga perempuan mandiri. Pasti banyak laki-laki yang naksir sama dia. Coba kalau kamu nurut sama Umi."


Ucapan ibunya tak sepenuhnya benar.secara fisik, Kirana tidak terlalu menonjol. Wajahnya cantik pada umumnya. Jika dibandingkan dengan Syifa, sahabat Kirana itu jauh lebih cantik.

__ADS_1


Namun menatap wajah Kirana tidak akan pernah bosan. Senyumnya seolah menjadi candu. Tawa perempuan itu membuat siapa saja yang mendengar rindu untuk kembali mendengarnya. Kirana tak pernah terlihat bersedih. Senyum seolah tak pernah lepas dari wajahnya. Sikapnya ramah pada siapa saja. Satu hal yang membuat Baraka kagum, Kirana sangat menyukai anak-anak. Mampu membuat anak kecil yang bersamanya merasa nyaman. Sosok seperti itulah yang diharapkan Baraka untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.


Meski banyak orang mengatakan Kirana anak manja, tapi nyatanya dia sudah mampu merintis usaha sejak masih kuliah. Hal itulah yang membuat Baraka rendah diri. Dia tidak berani mendatangi orang tua Kirana selagi penghasilannya tidak lebih baik perempuan itu. Meski pada akhirnya justru berujung kecewa.


"Ya sudah, cincinnya buat Umi saja."


Baraka pun memberikan kotak yang sejak tadi ditimangnya pada ibunya.


"Pakein dong, anak Umi yang paling ganteng!"


Baraka mendesah pelan. Namun dibukanya juga kotak itu. Lalu disematkan cincin yang ukurannya sedikit sempit di jari manis ibunya.


Melihat senyum di wajah orang terkasihnya, lengkungan tipis pun terbit di bibir Baraka. Dia memang belum pernah membelikan perhiasan untuk sang ibu. Dan cincin yang sedianya untuk Kirana ternyata disukai oleh ibunya. Berkali-kali wanita itu memuji cincin di jarinya sambil tersenyum. Padahal menurut Baraka modelnya biasa saja karena saat memesannya, dia hanya menurut apa kata SPG toko emas.


"Ya sudah nggak apa kalau memang kalian belum jodoh. Sekarang temani ibu ke toko emas."


Dahi Baraka mengernyit. "Toko emas? Umi mau beli perhiasan lagi?"


"Iya. Ganti baju kamu. Pakai celana bahan sama batik yang kemarin ibu belikan."


Baraka semakin tidak mengerti maksud ibunya. Mau ke toko emas apa mau kondangan?


Namun ketukan pintu kamarnya menjadi pertanda jika ibunya sudah tidak sabar menunggu. Dia pun mengambil celana bahan dari dalam lemari dan juga baju batik panjang yang sejak beberapa hari lalu menjadi penghuni baru lemarinya.


Mengendarai mobilnya, Baraka bersama ibunya pergi ke toko kain. Cuaca sangat panas meski matahari sudah mulai condong ke barat. Baraka tidak tega jika harus mengantar ibunya dengan motor. Apalagi gamis yang dipakai Umi Syarif seperti orang mau kondangan.


"Umi ada undangan?" Baraka ingin menuntaskan rasa ingin tahu yang menggelayut di kepalanya.


"Nggak. Cuma mau ke toko emas."


Baraka tak lagi bertanya. Toko emas tujuannya sudah di depan. Dia pun mencari tempat untuk parkir.


Dengan menggandeng tangan ibunya, Baraka masuk ke toko yang sama dengan tempatnya membeli cincin. Membiarkan ibunya memilih sesuka hati perhiasan yang diinginkan. Sementara dia duduk menunggu di kursi. Ini bukan pertama kalinya dia mengantar ibunya belanja. Baraka tahu betul jika sudah memilih barang, ibunya seakan lupa waktu.


Tetapi kali ini kebiasaan itu tidak berlaku. Tidak lebih dari setengah jam, ibunya memanggil Baraka. Meminta tanggapannya mengenai perhiasan yang dipilihnya. Tidak hanya cincin, tetapi satu set perhiasan. Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi berada di toko itu, kata bagus cukup untuk membuat ibunya tersenyum puas atas pilihannya. Lalu meminta Baraka untuk membayar perhiasan itu.

__ADS_1


Ibunya kembali bersikap aneh dengan meminta Baraka mengantar ke toko kue. Padahal kue-kue yang diambil, ibunya sudah pasti bisa membuatnya sendiri. Rasanya pun tidak kalah enak.


"Umi beli kue sebanyak ini untuk apa? Kita cuma berdua loh."


"Mau dikasihkan orang."


Bibir pria itu pun membulat. Lalu dia kembali melajukan mobil ke toko buah. Atas instruksi ibunya tentu saja. Satu parcel buah berukuran besar yang sudah jadi pun masuk kembali ke bagasi. Akhirnya Baraka bernafas lega. Tidak ada lagi tujuan ibunya berbelanja. Dia pun memutar balik arah mobilnya untuk pulang.


"Nanti pertigaan SD belok kanan, ya!" kata ibunya saat mereka tidak lama lagi akan sampai di rumah.


"Mau ke mana sih, Mi?"


"Sudah ikut saja apa kata Umi."


Baraka pun melajukan mobil mengikuti arahan ibunya. Kemudian berhenti di depan sebuah rumah berpagar besi.


"Ngapain ke sini, Mi?" tanya Baraka penasaran.


"Umi mau melamar anak gadisnya Bu Anwar," jawab Umi Syarif sembari merapikan kerudungnya.


"Untuk?"


"Ya untuk kamu. Anak laki-laki Umi kan cuma kamu." Jawaban ibunya membuat Baraka terperangah.


"Mi, jangan aneh-aneh, deh. Main lamar-lamar aja."


"Sudah nurut saja. Kamu harus move on. Jangan terkungkung dengan perasaanmu."


"Ya tapi nggak bisa buru-buru begini dong, Mi."


"Sat set! Nanti keburu dilamar orang lagi."


Baraka menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dia tahu apa yang dilakukan ibunya bermaksud baik. Tapi dia tidak siap jika harus secepat ini.


Dan anak gadis pemilik rumah itu, astaga! kenapa justru dia yang dipilih ibunya untuk dijadikan menantu?

__ADS_1


"Ayo, Raka!"


Baraka melangkah gontai mengikuti langkah ibunya mengambil bingkisan untuk tuan rumah di bagasi mobilnya.


__ADS_2