
"Sepertinya kamu begitu istimewa baginya sampai nekad mendatangimu padahal dia tahu kamu sudah bersuami," ujar Tristan dengan sinis.
"Aku tidak habis pikir denganmu. Semua yang kamu katakan tentangnya tidak ada yang buruk. Padahal Nabila saja tahu bagaimana kelakuannya. Saya harus curiga jangan-jangan kamu menyimpan hati untuknya."
Kirana mendongak mendengar tuduhan suaminya.
"Itu nggak benar."
"Lalu apa yang benar? Kenapa kamu justru memujinya kalau memang kamu tidak menyukainya? Padahal dia tidak sebaik yang kamu katakan."
Kirana terdiam. Mengingat keburukan Ravi, maka Kirana terpaksa harus memutar kembali ingatannya akan kembali ke masa beberapa tahun silam. Mungkin hari itu adalah hari paling sial sepanjang hidupnya. Saat sebuah pesan masuk yang mengatasnamakan salah seorang temannya. Meminta Kirana menunggu setelah pulang kuliah sore karena dia butuh bantuan Kirana untuk mengerjakan tugas. Dan kenaasan itu justru terjadi. Ternyata pesan itu dari Ravi. Yang menjebak Kirana agar bertahan di kampus hingga larut malam.
"Lalu?" tanya Tristan yang geram menunggu cerita dari Kirana.
"Dia….berusaha untuk berbuat tidak senonoh padaku," ungkap Kirana.
Wajah Tristan pun semakin menegang. "Terus?"
"Aku…"
"Aku apa?!" Tristan semakin geregetan karena Kirana justru terdiam sambil menunduk.
"Aku menghajarnya sampai pingsan."
Tristan tercengang mendengar penuturan Kirana. "Serius? Kamu hajar pakai apa memangnya sampai bisa pingsan?" Tristan tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Pakai tangan sama kaki. Udah ah! Malas aku ngomongin dia." Kirana beranjak dari sofa. Namun Tristan kembali menarik tangannya. Hingga dia terhempas ke pangkuan suaminya.
"Coba tunjukkan bagaimana kamu menghajarnya sampai pingsan?" tanya Tristan menggoda Kirana. Dia bahkan tidak tahu jika istrinya itu bisa bela diri. Selama hampir satu tahun hidup bersama banyak hal yang masih tersembunyi dalam diri istrinya.
"Makanya jangan macam-macam sama aku!" Kirana pura-pura menghardik lalu beranjak dari pangkuan suaminya.
__ADS_1
"Huu…takut!" Tristan pun terkekeh lalu menyusul Kirana yang naik ke atas ranjang.
"Dengarkan Papa, Sam. Jangan buat ibumu marah, bisa-bisa nanti dihajar."
Kirana berdecak sambil mendorong tubuh Tristan agar menjauh dari bayi yang baru saja terlelap itu.
"Makan dulu sana, Mas? Kamu nggak kembali ke kantor?"
Tristan pun mendesah pelan. Setiap siang jika ada waktu luang dia pasti akan menyempatkan pulang untuk melihat putranya. Meski harus menempuh jarak yang cukup jauh. Namun saat tiba di rumah dan mendapati Sam terlelap, dia enggan kembali ke kantor sebelum mengajak anaknya itu bercanda.
"Ikut ke kantor, ya?"
"Hah?! Yang benar kamu, Mas. Sam sama siapa? Bi Elis sendirian loh."
"Diajak sekalian. Masih kangen sama dia."
Kirana mencebik. "Jadi kalau pulang cuma kangen sama dia? Sama aku nggak?"
Tidak butuh meminta dengan bujuk rayu. Karena Kirana pun merasakan yang sama. Rindu akan Tristan yang selalu menyentuhnya dengan lembut diiringi pujian yang membuatnya semakin melayang.
"Kayaknya aku habis ini mau pasang KB deh, Mas. Takut tiba-tiba Sam punya adik," cetus Kirana sesaat setelah tubuh Tristan berguling ke sampingnya.
"Boleh. Nanti sore kita ke dokter. Mas nggak jadi kembali ke kantor. Udah ada Nabila."
Penyakit malas Tristan memang lebih sering kambuh akhir-akhir ini. Setelah kelahiran Samudra. Apalagi melihat bayinya sudah bisa tersenyum dan bersuara. Sepanjang hari, dia ingin menghabiskan waktu bersama putranya. Berangkat ke kantor menjadi hal terberat baginya saat ini.
Kirana beringsut turun dari ranjang untuk membersihkan diri. Kemudian menyusul Tristan yang membuntutinya. Mandi bersama memang menjadi ritual yang kerap mereka lakukan. Meski harus memakan waktu lebih lama karena terlalu banyak selingan.
"Makan dulu, Mas,' ujar Kirana melihat Tristan hendak kembali ke tempat tidur setelah mengeringkan rambutnya.
Lelaki itu pun urung naik ke atas ranjang. Dia membuntuti Kirana yang keluar dari kamar menuju ke meja makan.
__ADS_1
"Hmm….ini pasti kamu yang masak," tebak Tristan melihat tekstur dan warna masakan yang berbeda dari yang biasa dimasak Bi Elis. Meski sama-sama sayur asem, namun jika Kirana yang memasak kuahnya terlihat lebih bening.
"Nggak suka, ya?" tanya Kirana ragu.
Tristan menipiskan bibirnya. Melihat wajah Kirana yang tidak percaya diri dengan masakannya. "Apa pun yang kamu masak pasti aku makan, kok. Jangan cemberut gitu. Cantiknya makin hilang."
"Ya, ya. Aku memang nggak cantik." Kirana menutup kembali tutup tempat sayur dan nasi.
"Kok ditutup lagi? Aku mau makan, Sayang."
"Nggak usah dimakan. Masakanku nggak seenak masakan Bi Elis."
"Astaga! Kamu cemburu sama Bi Elis?" Tristan terkekeh. "Bi! Kirana cemburu sama Bibi, nih!" serunya kemudian meneriaki Bi Elis yang sedang mengangkat jemuran di belakang rumah.
Kirana pun membekap mulut suaminya seketika. "Childish!"
Tristan terbahak setelah tangan istrinya berhenti membekapnya. "Habis makan orangnya sekarang makan masakannya. Habis itu makan orangnya lagi," selorohnya sambil menyomot sepotong tempe goreng.
Kirana mencebik. Diisinya piring suaminya dengan sesendok nasi dan menambahkan sayur asem. Meski tampilannya berbeda, dia yakin rasanya tidak meragukan. Saat memasak tadi, dia meminta Bi Elis untuk mengetes rasa beberapa kali.
"Enak," kata Tristan meski tidak diminta untuk menilai masakan Kirana.
"Besok masak lagi, ya. Sayur yang dulu ibu pernah masak. Daun yang kita ambil di sawah," sambungnya.
"Kalau begitu besok kita pulang ke kampung," sahut Kirana mendengar permintaan aneh suaminya yang meminta Kirana memasak daun genjer.
"Di sini nggak ada memangnya?"
Kirana mengedikkan bahu. Karena dia memang belum pernah menemukan tumbuhan air di pasar.
"Ok, bulan depan kita ajak Mentari sana Mama juga liburan ke sana." Ucapan Tristan membuat Kirana berbinar seketika.
__ADS_1