Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
57. Jalan Pulang


__ADS_3

"Congratulation!" Kirana mengucapkan selamat pada Syifa melalui panggilan video call.


Pemandangan yang membuat Kirana iri saat Baraka menyuapkan potongan buah ke mulut syifa. Kirana menepis andai-andai yang mendadak melintas dalam benaknya. Syifa memang beruntung, mendapat suami seorang laki-laki yang baik.


"Kamu lagi di mana, Na?"


"Di rumah sakit."


"Ngapain?"


"Biasa. Check up. Ini lagi nunggu dokternya," dusta Kirana. Karena tidak ingin membuat panik keluarga di kampungnya jika tahu suaminya mengalami kecelakaan.


"Na, Syifa aku minta off dari kerjaannya gimana?" Baraka menyela pembicaraan Kirana dan Syifa.


"Jangan dong, Mas," jawab Kirana dengan wajah memelas. Satu hal yang ditakutkan Kirana mungkin saja akan terjadi. Syifa akan melepas pekerjaannya karena tuntutan dari suaminya. Kirana belum bisa membayangkan andai saja itu akan secepatnya terjadi. Mungkinkah dia akan memilih kembali saja ke kampung halamannya. Meninggalkan semua peliknya kehidupan di kota.


Memikirkan hal itu, Kirana memijit kepalanya. Dia menyudahi panggilannya pada Syifa. Meski masih enggan, dia menyeret langkah meninggalkan kafe untuk kembali ke ruang rawat.


Masuk ke ruangan serba putih itu, Kirana menemukan parcel buah dan box makanan di meja tamu.


"Kiriman dari Diana buat kamu. Tadi dia di sini lumayan lama," teranh Tristan tanpa di minta.


Kirana pun hanya membulatkan bibir. Lebihbdari dua jam dia menyendiri di kafe. Dan baru ekmabli saat waktu makan siang tiba.


"Sudah makan?" tanya Kirana meski melihat makanan Tristan masih utuh di mejanya.


"Belum."


Kirana mengambil kursi untuk tempat duduknya di samping bed pasien. Dia membuka makanan dari rumah sakit lalu mulai menyuapi suaminya.


"Kirana …."


"Makan dulu, Mas. Ngobrolnya nanti," potong Kirana acuh.


Namun hanya dua suapan yang masuk ke dalam perut Tristan. Selebihnya pria itu menolak suapan Kirana.


Beberapa obat pun disiapkan Kirana berikut air putihnya. Tanpa bersuara, Kirana memberikan butiran obat itu lalu gelas air putih. Menunggu hingga semua obat tertelan, dia mengambil kembali gelas di tangan Tristan untuk dikembalikan di meja.


"Na …"


"Saya sholat dulu ya, Mas," Kirana masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil aor wudhu.


Dihamparkannya sajadah di dekat bednya. Kirana pernah mendengar dalam sebuah kajian, jika ingin memperbaiki hidupmu maka perbaiki hubunganmu dengan Tuhan. Dia harus mengakui jika selama ini hidupnya seperti benang kusut. Masalah seolah tanpa henti menerpanya.

__ADS_1


Di atas hamparan sajadah, Kirana bersimpuh mengadukan permasalahan hidup yang tak kunjung usai. Menangis sejadinya, memohon ampun agar ditunjukkan jalan penyelesaian.


Kirana harus mengakui, selama ini dia lebih banyak lalai. Seolah mengabaikan Sang Maha Segalanya. Rentetan masalah yang merundungnya adalah bentuk kasih agar Kirana kembali mendekatkan diri.


Kirana mengusap sisa lelehan air mata di kedua pipinya. Ada kelegaan setelah mengadu pada tempat yang tepat. Dia melipat mukena dan sajadahnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.


Di sana, di tempat tidur pasien Tristan tengah menatapnya. Kirana tak lagi berapi-api melihat sosok suaminya. Nasibnya ke depan telah dia pasrahkan sepenuhnya, apa pun keputusan terbaiknya.


"Mau sholat, Mas?" tanya Kirana.


Tristan mengangguk. "Bantu saya ke kamar mandi."


Kirana mengambil kursi roda di sudut ruangan. Membantu Tristan turun karena suaminya hanya bisa bertumpu pada satu kaki.


"Sebentar ya, Mas. Aku tanya Syifa dulu cara wudhunya orang sakit."


Syifa, orang yang sering dijadikan Kirana untuk belajar jika ada sesuatu hal yang belum dipahami.


Dengan arahan Syifa, Kirana menuntun Tristan untuk wudhu hingga selesai.


"Fa, jangan bilang Ayah sama Ibu, ya. Nanti mereka khawatir. Maklum, mantu semata pete."


Terdengar tawa renyah Syifa dari seberang. "Beres," sahut Syifa masih dengan tertawa.


.


"Takut kamunya ember. Udahan ya, Fa. Makasih bumil, sehat-sehat ya,"


Perbincangan Kirana dan Syifa terdengar oleh Tristan. Lelaki itu masih menunggu Kirana di kursi rodanya.


"Sholatnya di kursi roda aja, Mas. Bisa, kan?"


"B-bisa."


"Bisa apa nggak? Kalau nggak belajar dulu." tanya Kirana karena jawaban Tristan yang tidak meyakinkan. Dia pun mengajarkan tata cara sholat sambil duduk. Setelah Tristan paham, Kirana membiarkan Tristan sholat.


Dia membuka kotak makanan kiriman dari Diana. Dia tidak tahu seberapa baik hubungan Diana dengan suaminya. Namun Diana sempat mengatakan jika dia bersahabat cukup lama dengan Elita.


Menu nasi gudeg dengan sambal goreng kerupuk kulit dan ayam membuat lidah Irana bergoyang. Entah kapan terakhir kali dia makan menu yang berasa manis itu.


Kirana terkekeh sendiri. Hampir semua menu makanan seolah tidak ada yang tidak baginya. Perutnya tidak pernah menolak semua jenis makanan.


"Diana bawa apa?" Suara Tristan mengalihkan perhatian Kirana dari box nasi.

__ADS_1


"Gudeg. Mau?"


Tristan menggeleng. Dia mendekat ke meja kaca itu lalu meminta Kirana membuka parcel buah. Dipetiknya satu biji buah berwarna hijau seukuran jempol lalu melahapnya.


"Dicuci dulu!" ujar Kirana sembari mengambil anggur hijau itu.


"Nggak usah. Nanti kumannya mati sendiri." sahut Tristan sekenanya.


Kirana membawa setangkai buah itu untuk dicuci di wastafel. Lalu menyiapkannya dalam kotak makan yang sudah kosong.


"Besok saya mau pulang," cetus Tristan sambil memetik satu buah lagi.


"Nanti kita konsultasikan ke dokter dulu," jawab Kirana.


"Minta saja. Nggak usah pakai konsultasi."


Kirana mendesah pelan. Sifat keras kepala Tristan mulai kambuh. Dia pun kembali sibuk dengan makanannya alih-alih menanggapi lebih lanjut ucapan suaminya. Percuma saja mendebatkan hal yang tidak tahu ujungnya.


****


Dan keesokan harinya, Tristan benar-benar bersikeras meminta untuk pulang. Meskipun sebetulnya dia masih harus menjalani perawatan di rumah sakit.


Kirana pun tidak berbuat apa-apa karena enggan berdebat. Setelah melalui perbincangan yang cukup lama antara Tristan dan dokternya, akhirnya mereka diperbolehkan untuk pulang.


Kirana membereskan semua barang-barang pribadi. Sementara Tristan menelepon Pak Cip untuk menjemput mereka.


Beberapa makanan kering yang dikirim ibu mertuanya bahkan belum dibukanya. Kirana memberikan satu tas plastik makanan kering kepada perawat yang jaga. Koper dan barang lainnya sudah membuatnya kerepotan. Belum lagi harus mendorong kursi roda Tristan.


Menunggu tiga puluh menit, sopir mereka datang. Pak Cip membawa barang-barang bawaan mereka, sedang Kirana mendorong kursi roda suaminya.


Mereka menunggu di lobi sampai mobil sedan hitam yang dikemudikan Pak Cip berhenti di depan. Kirana mendorong kembali kursi roda mendekat ke mobil. Membiarkan Pak Cip membantu Tristan masuk ke dalam mobil.


"Mau pulang ke mana, Mas?" tanya sang soir sebelum melaju.


Tristan da Kirana tanpa sengaja beradu pandang.


"Ke rumah Mama saja, Pak."


"Kok ke sana?" protes Kirana.


"Ya kan kamu di sana."


Kirana pun mendengus. Rencananya mencari perawat untuk merawat suaminya pun gagal.

__ADS_1


__ADS_2