Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
81. Ingin Putus


__ADS_3

"Bang, kayaknya gue mau putus aja sama Ravi."


Tristan sontak mendongak. Menatap wajah sepupunya yang baru saja ke ruang kerjanya dan langsung duduk di depannya.


Pertunangan Nabila dan Ravi baru berlangsung seminggu yang lalu dan itupun mendadak. Dan Nabila berkeinginan memutuskan pertunangan itu. Tentu saja Tristan tahu penyebabnya jika sepupunya yang minta putus. Tak lain dan tak bukan karena hati Nabila sudah dibawa kabur oleh Daniel hingga tak bersisa.


"Udah dipikir baik-baik?"


Nabila bersungut-sungut. "Ngapain buang waktu untuk mikirin hubungan yang nggak jelas," sahutnya.


"Nggak jelas gimana maksudnya? Kan udah jelas status kalian tunangan. Mau diperjelas lagi jadi menikah?"


Decakan kesal pun keluar dari mulut Nabila. "Kalau bisa nggak usah sampai nikah sekalian." Jawaban Nabila membuat Tristan berkerut.


Nabila terlihat menerima dengan baik saat memperkenalkan Ravi padanya. Tristan pikir, sepupunya itu sudah berniat untuk melupakan Daniel. Namun mendengar penuturannya baru saja, sepertinya Nabila menerima Ravi hanya untuk menyenangkan kedua orang tuanya, terutama mamanya.


"Kalau lo merasa nggak cocok. Kenapa lo terima?"


"Yah, gimana bisa nolak? Gue pulang kerja tiba-tiba Mami bilang nanti sore kamu lamaran," sambar Nabila terlihat sangat kesal.


"Dari awal aku tuh sama Ravi udah sama-sama menolak perjodohan ini. Tapi Mami sama mamanya dia yang ngotot pengen besanan. Karena dulunya mereka sahabatan. Ya kali gue harus nuruti ego mereka. Lagian Ravi bilang dia juga sudah punya cewek. Terus buat apa dia setuju sama perjodohan sialan ini?" ungkap Nabila selanjutnya.


Tristan pun hanya bisa menghela nafas. Ravi punya cewek? Dia masih bisa mengingat jelas bagaimana pria itu menatap Kirana. Atau itu hanya akal-akalan Ravi karena dalam hatinya masih ada Kirana. Tristan pun menggeleng, mengenyahkan pikiran buruk yang tiba-tiba masuk dalam pikirannya.


"Bang! Bantu bilangin sama Mami, dong. Lo kan tahu kalau gue yang bilang pasti bakal dimakan sama Mami."

__ADS_1


Tristan tersentak. "Nggak, nggak! Kalau gue yang bilang nanti bisa-bisa gue yang dikira bujuk lo buat balik sama Daniel. Selesaikan sendiri."


Nabila terlihat frustasi. Dia meletakkan kepalanya di meja kerja Tristan sambil mengomel tidak jelas.


"Gue mending nggak usah nikah aja kali, ya?" gumamnya. "Nggak ada yang akan maksa gue nikah kan, Bang? Selain Mami?" racaunya lagi.


Tristan terpaksa menghentikan pekerjaannya. Nabila benar-benar stres menghadapi permasalahannya kali ini. Berandai-andai pun tidak menyelesaikan masalah. Nabila hanya butuh hati yang lapang untuk menerima jika dia dan Daniel memang tidak bisa dipaksakan untuk bersatu. Sulit, dan Nabila sepertinya enggan untuk mencobanya.


Tristan menyadari, jika Nabila memaksakan hubungannya dengan Ravi pun akhirnya belum tentu seperti dia terpaksa menerima Kirana dulu. Karena Kirana yang lebih gigih memperjuangkan hubungan yang timpang. Sementara Nabila, keduanya sama-sama tidak menginginkan untuk melangkah bersama.


"Gue mau makan aja lah, Bang. Pusing." Nabila mengangkat kepalanya. Lalu beranjak dari kursi.


Tristan pun menyusul di belakangnya. Karena sudah waktunya makan siang. Dan dia tidak mungkin menunggu Kirana mengantar makanan. Karena dia sendiri yang sudah melarangnya.


Kafe dengan konsep outdoor yang membuat nyaman pengunjung. Nabila menunjuk salah satu meja yang ada di bagian dalam. Tristan pun mengiyakan. Bahkan hingga pesanan makanan pun dia samakan dengan Nabila.


"Mas, kayaknya gue mau mulai merintis usaha sendiri, deh," cetus Nabila saat mereka menunggu pesanan. Ide itu muncul begitu saja saat dia masuk ke dalam kafe.


"Gue dukung," sahut Tristan sambil membalas chat dari istrinya.


Namun Nabila kembali terdiam. Tristan bahkan harus mengulang pertanyaan tentang usaha apa yang akan digelutinya. Nabila tak menjawab. Perempuan itu masih saja bungkam dengan tatapan mengarah pada salah satu meja.


"Bang!" Nabila memanggil Tristan yang tengah mengikuti arah pandangnya.


"Itu Ravi, kan?"

__ADS_1


Tristan tak begitu yakin. Karena dia pun tidak begitu jelas mengingat wajah Ravi. Tapi melihat dari wajah yang bersih dan wajahnya yang oriental, dia pun menjawab.


"Kayaknya iya."


Nabila bergegas merogoh tasnya untuk mengambil handphone. Lalu membidik dua orang berbeda jenis yang tengah makan siang dan terlihat begitu dekat. Beberapa gambar pun tertangkap kamera ponselnya.


Kelakuan calon menantu idaman.


Caption itu diketik Nabila di bawah foto sebelum dia kirimkan pada sang mama.


Nabila meletakkan handphone di meja. Menunggu reaksi mamanya sambil menyesap lemon tea yang baru saja diantarkan oleh waitress.


"Sama siapa dia?" tanya Tristan


Nabia mengangkat bahunya. Siapa pun perempuan itu, dia tidak peduli. Karena yang dia mau, pertunangannya dengan Ravi bisa segera putus. Dia tidak ingin menjalani hubungan dengan terpaksa.


Sekalipun dia tidak mungkin bersatu dengan Daniel mungkin dia akan menghabiskan usianya dengan menyendiri. Menyibukkan diri dengan bekerja dan memulai usaha baru. Meski dia yakin, keputusannya itu akan ditentang oleh mamanya.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Nabila. Balasan pesan dari mamanya.


Kamu jangan coba-coba membodohi Mami.


Nabila menipiskan bibir. Dia menyalakan video dan merekam sekelilingnya. Termasuk keberadaan Tristan yang tengah bersamanya. Sebuah kebetulan Ravi tengah beranjak dari tempat duduknya. Dan berjalan bersama wanita yang menemaninya. Dari gesturenya, jelas tidak menunjukkan jika mereka rekan kerja.


Rekaman video itu pun dia kirimkan pada mamanya. Nabila kembali meletakkan ponselnya. Dia melanjutkan makannya meskipun ponselnya kini menyala karena panggilan dari mamanya. Bisa dia bayangkan bagaimana paniknya sang mama setelah melihat video yang dikirimkannya.

__ADS_1


__ADS_2