Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
71. Egois


__ADS_3

BUG!


Bogem mentah mendarat di pipi Lucky begitu laki-laki itu membuka pintu.


"Bangsat!"


BUG!


Tristan mendaratkan pukulan kembali di pipi temannya.


Terlihat seorang perempuan yang turun dari ranjang. Dengan tergesa-gesa memunguti pakaiannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Mana janji lo mau tanggung jawab sama Silvia? Hah?!"


Lucky menarik sudut bibirnya. Dia mengambil gawai di meja lalu sibuk dengan benda itu.


"Sudah saya transfer. Pergilah!" ujarnya pada gadis muda yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Perempuan itu pun mengangguk. Dia mengambil tas nya dengan terburu-buru lalu meninggalkan kamar itu.


Tatapan sengit masih terpancar dari wajah Tristan. Namun pria berkimono di depan justru tenang. Mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya.


Kepulan asap pun mencemari ruangan itu. Lucky menghempaskan diri di sofa. Seolah tidak terganggu dengan kemarahan Tristan.


"Dia ngadu ke lo rupanya?"


"Tentu saja. Gue kakaknya."


Lucky mendecih. "Silvia nggak pernah nganggep lo kakak," balasnya. Lali kembali menghisap batang gulungan tembakau itu. Kepulan asap pun kembali membumbung. Disusul ******* kasar pria itu.


Senyum hambar melengkung di bibirnya. "Silvia istri gue. Tapi yang ada di otaknya itu cuma lo! Lo nggak tahu kan gimana rasanya jadi gue? Gue nggak ada harga dirinya di mata dia? Tiap gue butuh dia, dia selalu nolak gue. Banyak alasan! Padahal dulu dia selalu liar sebelum jadi istri," ungkapnya dengan nada kesal.

__ADS_1


"Lo tahu gue, kan? Menurut lo gue harus ke mana kalau lagi butuh kalaui bukan nyari cewek yang bisa gue bayar?" lanjut pria itu dengan tenang.


"Harusnya lo ngerti. Sisil lagi hamil. Cewek hamil moodnya nggak stabil. Goblok!" Tristan semakin kesal karena sikap Lucky yang merasa tidak sedang melakukan kesalahan.


Lucky tersenyum remeh. "Lo tahu kan bagaimana egoisnya cewek yangvlo anggep adik itu. Dan gue juga bukan lo. Yang rela nyembah-nyembah demi mempertahankan seorang cewek. Masih banyak cewek yang mau sama gue."


Tristan mendekat dan mencengkeram kimono Lucky. Sebuah pukulan kembali melayang di pipi pria itu. Lucky tetaplah Lucky, yang tidak akan pernah membalas pukulan temannya. Namun tingkah pria itu justru membuat Tristan semakin naik pitam. Merasa dirinya benar dan enggan mengakui kesalahan.


"Kalau lo emang cuma mau bikin dia kecewa, kenapa lo nikahin dia?!" bentak Tristan.


"Anak gue ada di dia. Gue nggak mau anak gue lahir tapi nggak tahu siapa bapaknya," sahut Lucky dengan tenang.


Tristan semakin tidak mengerti jalan pikiran temannya. Lucky membiarkan Silvia mengandung anaknya tanpa mendapat perlakuan baik darinya.


"Lo sayang anak lo? Terus kenapa lo biarin Silvia ke dokter sendirian. Lo tahu dia hampir pingsan di rumah sakit. Lo di sini enak-enakan sama cewek lain. ****** banget lo, ya?!"


Lucky tak menyahut. Hingga batang rokok di tangannya habis. Kedua lelaki itu tetap saling mendiamkan satu sama lain.


Sementara itu, di rumah Tristan, Silvia dan Kirana tengah duduk di ruang tengah. Kirana membuat suasana agar Silvia merasa nyaman bersamanya. Mengajaknya makan snack bersama sambil menonton drama dari negeri ginseng. Meskipun Silvia terlihat tidak menikmati drama di layar kaca, namun larut dalam pikirannya.


"Aku takut," ucap Silvia tiba-tiba.


"Takut apa?" Kirana meletakkan botol yang baru saja diteguk isinya.


"Takut kalau Lucky semakin marah sama aku. Kamu tahu kan, hidupku sekarang bergantung pada dia. Aku nggak mungkin nyari pekerjaan dengan kondisi sekarang ini."


Silvia pun tertegun. Kiran tidak tahu seberapa buruk manajemen keuangan Silvia. Sampai dia tidak punya sedikit oun tabungan. Sebelum bergantung pada Lucky, bisa dipastikan Tristan mungkin terlalu memanjakan Silvia saat perempuan itu masih menjadi sekretarisnya.


Kirana mendesah pelan. Mengusir pikiran buruk yang meracuninya.


"Sil, apa aku boleh tahu? Apa yang membuat kalian bertengkar?"

__ADS_1


Silvia tersenyum kecut. Tampak ragu ingin menjawab. Tidak seharusnya masalah pribadinya dengan Lucky diceritakan pada orang lain. Namun di dunia ini, dia tidak punya siapa pun. Masih bersyukur jika Tristan tetap menganggapnya adik meski kakaknya sudah tidak ada.


"Lucky …. Dia hiper. Aku nggak kuat menuruti dia. Dia sering main kasar, nggak peduli dengan bayi yang ada di dalam. Dia egois. Aku lebih sering menolak dia karena khawatir dengan kandunganku. Aku pikir Lucky mengerti saat aku menolak dia. Tapi ternyata dia booking cewek lain." Silvia tampak menahan kaca di matanya yang nyaris kembali pecah.


"Mungkin ini karma buat aku. Biar aku tahu rasanya sakit hati karena dulu pernah nyakitin kamu, Na," ujar Silvia lirih sambil menunduk.


Kirana mengusap lengan Silvia. "Lupakan tentang masalah saya, Sil. Tidak perlu diungkit lagi."


"Thanks, Na."


Kirana mengangguk. "Aku rasa, kalian perlu duduk bersama. Mengungkapkan pikiran kalian masing-masing. Lalu mencari solusinya bersama."


Silvia kembali menyunggingkan senyum getir. "Lucky bukan orang seperti Mas Tristan. Yang mau diingatkan kalau dia sedang bersalah."


"Itu hanya masalah cara penyampaiannya, Sil. Kamu pahami bagaimana agar Lucky mau diajak bicara. Jangan disamaratakan, setiap orang memang punya sifat masing-masing. Kalian hanya belum bisa saling memahami satu sama lain, dan untuk menuju ke sana, butuh menekan ego masing-masing," tutur Kirana.


Keduanya menoleh saat mendengar bunyi langkah kaki masuk ke dalam rumah. Langkah dua lelaki yang sama-sama mengunci mulut. Wajah Lucky tampak memar akibat pukulan Tristan.


"Ayo pulang!" ujar Lucky oada Silvia.


Silvia bergeming. Dia menunduk enggan menatap suaminya. Hingga tubuh jangkung lelaki itu mendarat di sampingnya.


"Jangan kayak bocah. Dikit-dikit ngadu!" gerutunya. "Ayo pulang! Di sini bukan rumah kamu."


"Aku memang nggak punya rumah. Aku nggak tahu mau pulang ke mana," sahut Silvia ketus.


"Astaga, Sil! Mau kamu apa, sih?!"


Silvia mendongak.membalas tatapan Lucky. "Mau aku?! Aku mau kamu nggak mikirin diri kamu sendiri!" tegas Silvia tanpa mempedulikan Kirana dan Tristan yang masih ada di sekeliling mereka.


Tristan mengkode Kirana untuk meninggalkan ruangan itu. Kirana pun beranjak menyusul suaminya ke kamar atas.

__ADS_1


__ADS_2