
Kirana mengeringkan rambut secepatnya. Waktu telah banyak terbuang untuk bertukar peluh di atas ranjang. Tristan benar-benar sulit dikendalikan. Mungkin karena dia terlalu lama menahan diri untuk tidak menyentuh wanita.
"Kamu mau ke mana?"
"Kerja, Mas," sahut Kirana seraya mengikat rambutnya.
Dia duduk di depan cermin untuk memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat. Keletihan tampak jelas di wajah oval itu..
"Kerja? Di mana? Mengajar?" Rentetan pertanyaan itu membuat Kirana mengalihkan perhatian dari kotak blush on ke arah suaminya yang duduk di atas ranjang dengan bertelanjang dada. Sejak kapan Tristan begitu perhatian ingin tahu semua urusannya?
"Di toko baju," jawab Kirana kemudian.
Kirana dapat melihat jelas dari pantulan cermin raut wajah Tristan yang berubah masam.
"Mulai sekarang saya tidak mengijinkan kamu kerja.Katakan berapa semua kebutuhanmu setiap bulan, saya akan mencukupi tanpa kamu harus capek-capek kerja." Sepertinya Tristan mulai mengeluarkan taringnya. Menunjukkan bahwa dia punya kuasa untuk mengatur kehidupan istrinya.
Namun Kirana sengaja menulikan telinganya. Tangannya kembali sibuk mengusap pipi dengan perona. Kemudian meraih jilbab square yang sudah disiapkan. Dia mematut diri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah rapi.
"Kami tidak dengar apa kata suamimu?" Suara Tristan terdengar meninggi. Bahkan pria itu turun dari tempat tidur dan mencekal lengan Kirana yang hendak mengambil tas.
"Saya sudah terlambat, Mas, " ujar Kirana mencoba meminta pengertian suaminya. Ponsel di meja rias menyala dan itu sudah pasti panggilan dari Syifa.
"Saya tidak peduli. Saya tidak suka kamu bekerja. Sekalipun itu hanya untuk membuang rasa jenuh karena kamu bosan di rumah."
Kirana mendesah kasar. "Saya dan Syifa ada usaha produksi baju. Banyak yang sudah menggantungkan hidup dari usaha itu. Apa harus saya menutupnya untuk menuruti keinginan kamu? Lalu bagaimana nasib pera penjahit para reseller, orang gudang dan masih banyak lagi yang bekerja di sana?"
Tristan tertegun mendengar penjelasan Kirana. Selama ini dia memang tidak pernah tahu siapa wanita yang dinikahinya itu. Bahkan tidak mau tahu.
"Saya antar kamu. Tunggu sebentar, saya mandi dulu!" putusnya kemudian seraya berjalan ke kamar mandi.
"Tidak bisa. Sepuluh menit lagi saya ada zoom meeting. Saya berangkat dulu, Mas!"
__ADS_1
Kirana menyambar tas lalu bergegas keluar kamar saat Tristan sampai di ambang pintu kamar mandi. Teriakan suaminya pun dibalas dengan bunyi debaman pintu ditutup.
Tepat waktu memang sudah menjadi kebiasaan Kirana. Dia selalu mengatur waktunya dengan baik sehingga 24 jam waktunya dalam sehari nyaris tidak ada yang terbuang percuma. Dan menuruti Tristan untuk mengantarnya tentu saja tidak akan dia lakukan. Meski hubungan mereka tidak terlalu baik saat tinggal satu rumah, Kirana tahu betul jika Tristan selalu menghabiskan waktunya terlalu lama di kamar mandi.
Kirana memacu motornya lebih cepat setelah melihat jam yang melingkar di lengannya. Dia sudah terlambat karena harus antri mengisi tangki bensin terlebih dulu. Sepertinya ayahnya lupa untuk mengisinya semalam. Karena selama ini Kirana memang hanya tahu memakai kendaraannya tanpa perna mengecek isi bahan bakar. Untung saja saat kehabisan bensin tadi di sudah berada tepat di depan pom bensin.
"Maaf banget, aku terlambat!" Kirana meletakkan tasnya dan menggantikan posisis Syifa yang lebih dulu menyapa reseller mereka.
"Santai, Na. Mereka masih setia nungguin owner!"
"Ish, justru itu aku nggak enak dama tim."
Kirana memang meminta Syifa membagi pekerjaan dengannya. Awalnya karena keinginan menyibukkan diri agar pikirannya tidak terlalu larut dalam permasalahannya dengan Tristan. Bahkan dalam satu hati Kirana hanya menyisakan waktu untuk makan dan beribadah. Sisanya dia habiskan untuk ikut mengurus bisnis dan menghibur diri bersama anak-anak kecil.
Satu jam berlalu, Kirana menutup meeting bersama timnya. Dia baru sadar telah melewatkan makan pagi saat mendengar bunyi di perutnya. Paginya memang sangat kacau oleh sebab ulah suaminya.
"Mbak Nana, model dress yang kemarin masuk sudah siap." Seorang pegawai datang membawa design baju terbaru yang baru saja selesai dijahit.
Kirana membentangkan baju yang didesain kilat olehnya. Ide yang muncul begitu saja saat dirinya sedang dirundung kegalauan yang luar biasa. Dan Kirana menumpahkannya dalam coretan kertas.
Senyum lebar mengembang melihat dress dengan model yang simpel menggunakan bahan yang tidak terlalu mahal namun nyaman. Kirana tidak sabar untuk mencoba baju sampel yang dibuat sesuai ukurannya. Dia pun bergegas masuk ke kamar ganti untuk mencobanya.
Gaun itu nampak pas di tubuh Kirana yang proporsional.
"Gimana, Fa?" Kirana meminta tanggapan Syifa tentang baju barunya.
"Cantik bamget,Ini sih bakal jadi best seller selanjutnya."
"Yakin?"
Syifa mengacungkan jempolnya. Entah apa ritual yang dilakukan Syifa, hingga nyaris setiap produk selalu laku keras.
__ADS_1
"Yang penting yakin dulu."
"Oke. Untuk bulan depan. Jangan spill-spill dulu.nanti ditagih kita belum siap. Kita matengin dulu sebelum produksi."
"Ok, Bu Bos."
Kirana mencebik. Panggilan itu seperti sekat yang membatasi dirinya dengan para pegawainya. Dia kembali memutar tubuhnya sekali lagi di depan kaca lebar yang memenuhi dinding. Mengecek hasil desainnya layak untuk naik ke mesin produksi.
Gerakannya terhenti saat menyadari seseorang yang bersandar di pintu masuk dengan tangan dilipat tengah memperhatikannya. Kirana pun mendadak gugup mendapat lemparan senyum dan gerak bibir memuji dirinya.
Di belakangnya terdengar suara berbisik. Meski samar, Kirana dapatennagkap jelas ungkapan rasa penasaran pegawainya yang menanyakan siapa lelaki yang berdiri di pintu itu pada Syifa.
"Mas? Kok bisa tahu saya di sini?"
"Dari Ibu."
Syifa pun mengajak temannya meninggalkan kuris yang mereka duduki. Memberi ruang pada suami istri itu yang menurutnya sangat aneh. Mereka suami istri atau bos dengan asistennya. Terlalu formal.
Sepeninggalan mereka, Tristan masuk ke dalam ruangan luas yang biasa dipakai untuk packing. Senjah kursi panjang kuno terdapat di salah satu sisi.
Tristan meletakkan kotak makanan yang dibawanya. Sebuah kebetulan perut Kirana sudah sangat lapar. Makan pagi dirapel makan siang.
Perhatian ibunya memang selalu berlebihan meski dia sudah dewasa. Tidak hanya meminta Tristan mengantar makanan tapi juga meminta Syifa mengingatkannya untuk makan.
"Nana anaknya Pak Restu, Bu Ambar telpon katanya kamu disuruh makan. Segera!" Teriakan Syifa terdengar di pintu penghubung ruangan itu dan ruangnya.
"Iya. Ini baru mau makan."
"Makan sendiri apa disuapin? Bu Ambar tanya, nih?"
"Faaa! Jangan ngadi-ngadi, ya!" Lengkingan suara Kirana tak kalah tinggi. Tidak peduli pria di sampingnya menatapnya sambil tersenyum. Mungkin heran melihat Kirana dengan sisi yang lain. Kirana tak pernah selepas itu saat bersamanya. Seolah ada beban yang mengganjal sehingga rasa nyaman itu tidak pernah dirasakan oleh Kirana.
__ADS_1