Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
29. Ngidam


__ADS_3

"Hoek!"


Tristan berusaha memuntahkan isi perutnya di wastafel. Namun tidak ada sesuatu yang keluar kecuali cairan bening. Pola makannya akhir-akhir ini sangat kacau. Dia sering mengabaikan makan paginya. Dan rasa mualnya pagi ini mungkin akibat dari kelalaiannya.


Berkali-kali dia berusaha mengeluarkan isi perutnya. Berdiri di depan wastafel hampir lima belas adalah hal yang begitu menyiksa baginya.


"Mas, kamu kenapa?"


Silvia menghampiri Tristan lalu memijit tengkuk pria itu. Namun Tristan buru-buru menepisnya.


"Kamu bisa kan, ketuk pintu dulu sebelum masuk?!"


"Saya sudah ketuk pintu berkali-kali. Tapi nggak ada jawaban," sanggah Silvia.


Tristan kembali mencoba mengeluarkan isi perutnya. Namun tetap berakhir sia-sia. Dia meninggalkan wastafel kemudian merebahkan tubuhnya yang lunglai di sofa.


"Ambilkan air hangat, Sil!" ucapnya pelan dengan mata terpejam dan tangan memijit keningnya.


Silvia mendengus. Tristan memang selalu begitu. Kadang meledak-ledak, sebentar kemudian dia akan kembali normal. Terlalu sering mendapat perlakuan seperti itu membuat Silvia mati rasa dan seringkali bersikap acuh dengan sikap bosnya.


"Pasti tadi nggak sarapan lagi. Mau saya pesankan makanan, Mas?" Silvia mengulurkan gelas berisi air putih hangat.


Tristan menegakkan punggungnya lalu menerima gelas dari tangan Silvia tanpa berniat meminumnya. Kepalanya mendadak pusing dan terasa sangat berat. Dia pun menghempaskan punggungnya kembali ke sandaran. Pagi ini terlalu buruk baginya. Rasanya tidak sanggup jika seharian rasa pusing itu harus menyiksanya.


Beberapa makanan yang di aplikasi yang ditawarkan oleh Silvia ditolaknya. Meski Silvia menyebut beberapa makanan yang diisukainya.


"Lalu Mas Tristan mau makan apa?"


"Belikan saya rujak, Sil. Buahnya pilih yang asam semua."


Silvia hampir tak percaya dengan permintaan dari Tristan. Bahkan dia bertanya untuk memastikan permintaan yang menurutnya aneh. Tristan tidak menyukai banyak macam buah. Hanya beberapa buah yang dia suka. Apalagi yang berasa masam, pria itu tidak akan pernah mau memakannya. Dan kali ini dia justru meminta Silvia membelikan rujak dengan buah-buah yang rasanya masam. Sungguh mengherankan.


"Tapi ini masih terlalu pagi, Mas Tristan juga belum makan. Nanti perutnya tambah sakit."


"Saya menyuruh kamu, Silvia! Jangan membantah!"


Silvia pun bergegas meninggalkan ruangan bosnya sebelum sang singa kembali mengaum. Dia meminta tolong OB untuk membelikan rujak dengan detail pesanan sesuai permintaan bosnya.

__ADS_1


Setelah menunggu hampir setengah jam, dia kembali ke ruangan Tristan dengan satu mika berisi irisan buah dan satu cup kecil sambal. Lelaki yang sejak tadi tergolek di sofa mendadak bangkit dan membuka kantong plastik yang diletakkan Silvia dii meja.


Silvia sampai ngilu melihat Tristan makan buah mangga mentah yang masih keras. Bahkan suara kriuknya saja terdengar olehnya.


"Kamu beli di mana, Sil?" tanya Tristan di sela menikmati buah yang dicocolkan ke sambal.


"Aris yang beli."


"Suruh beli lagi."


Silvia terbelalak. Isi mika di meja bahkan baru berkurang beberapa potong. Dan Tristan minta untuk dibelikan lagi.


"Masih kurang, Mas?"


Tristan mengangguk sambil mengunyah. "Buat siang nanti. Enak, nih. Kamu nggak mau coba?"


"Nggak ah. Ngilu."


Tristan terkekeh. Lalu kembali mengambil potongan mangga muda yang melihatnya saja sudah bisa membayangkan betapa masamnya rasa buah itu.


***


"Kamu nggak sayang sama yang ada di perut kamu?"


"Emang kenapa sih, Bu? Namanya juga pingin," sahut Kirana yang akhir-akhir ini selalu ingin makan makanan yang berkuah pedas. Tiga kali sehari makannya selalu dengan bakso atau semacamnya. Kirana enggan minum susu hamil. Bahkan makan sayuran yang dulu tidak pernah dilewatkan, sekarang dia enggan makan sayur. Hal itu tentu mengkhawatirkan ibunya. Karena ibu hamil asupan makanan yang banyak gizi untuk pertumbuhan janinnya.


Tetapi Kirana justru makan sesuai keinginannya. Lebih sering jajan daripada makan masakan ibunya. Pembelaan dari sang ayah membuat Kirana mendapat angin segar.


"Biarin aja, Bu. Kayak Ibu dulu nggak pernah ngidam.'


Kirana tersenyum lebar. Lalu menghabiskan sisa kuah yang tinggal sedikit.


Kirana sangat bersyukur, dia tidak pernah mengalami morning sickness seperti kebanyakan ibu hamil. Tidak ada makanan yang ditolak oleh perutnya selain sayuran. Semua dibabat habis asal terasa pedas. Kirana yang dulu tidak begitu suka jajan sembarangan, sekarang hampir setiap hari dia menghentikan pedagang makanan keliling.


Kirana masih tetap beraktivitas biasa setelah keluar dari rumah sakit. Meski sejauh ini tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, ibunya tetap merasa cemas.


Wanita itu memang terlalu protektif, terlebih saat mengetahui kehamilan Kirana yang sempat harus menjalani bed rest. Dia selalu mewanti-wanti agar Kirana menjaga dengan baik calon bayinya.

__ADS_1


Meski masih dalam kandungan, sydah terlihat sebetapa sayang Bu Ambar pada calon cucunya. Bahkan karena terlalu bahagia menyambut kehamilan Kirana, Bu Ambar menggelar pengajian. Padahal Kirana berencana menggelar acaranya saat usia empat bulan. Dan meski usia kandungan Kirana baru lewat dua bulan, setiap hari wanita itu mengusap-usap perut Kirana. Memanjatkan pujian dan harapan untuk calon cucunya.


"Nana ke pabrik dulu ya, Bu," ujar Kirana setelah meletakkan mangkok kosong di wastafel.


"Mau ngapain?"


"Mau jemput Syifa terus nemenin dia nyari bahan buat bridgesmaid."


"Ke Jogja lagi? Nggak. Ibu nggak ngijinin kalau ke sana. Kamu nggak ingat gara-gara kamu kecapekan nyetir pulang pergi, kamu hampir saja kehilangan calon bayimu?"


"Enggak, Bu. Cuma di sini. Nana pergi dulu Bu. Assalamu'alaiikum." Kirana menyambar dompetnya lalu bergegas keluar tanpa menghiraukan teriakan ibunya yang mencoba mencegahnya.


Bu ambar hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putrinya. Semakin ke sini tingkahnya semakin pecicilan. Bukannya semakin kalem karena sebentar lagi akan menjadi ibu.


Kirana mengendarai mobilnya menjemput Syifa di pabrik. Siang hari dengan panas yang menyengat membuatnya enggan jika harus berpanas-panasan memakai motor untuk ke toko kain. Lagi pula mereka akan membawa banyak potongan kain.


Acara pernikahan Syifa memang akan digelar cukup meriah. Atas kemauan kedua pihak keluarga tentunya. Syifa dan Baraka hanya iya-iya saja menuruti kemauan mereka. Meski konsep acara tetap melibatkan kedua calon pengantin. Dari seringnya berdiskusi itu hubungan Syifa dan Baraka semakin membaik. Keduanya tak lagi memasang muka jutek saat bertemu. Saling menerima karena mungkin keduanya memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh.


Konsep acara dengan mengusung warna pastel menjadi pilihan Syifa. Dan kini dia sedang meminta pendapat Kirana untuk memilih warna kain untuk dibagikan pada kerabatnya dan juga kerabat Baraka. Karena semua pilihan warna diserahkan semua pada Syifa.


Setelah memilih cukup lama, Syifa menurut pada pilihan Kirana. Warna dusty menyesuaikan konsep warna tenda dan dekorasinya. Untuk pilihan warna, tentu Syifa tidak meragukan kemampuan Kirana dalam mix match warna.


Butuh waktu lama bagi pegawai toko untuk memotong kurang lebih 100 potong kain. Kirana pun mengajak Syifa untuk pergi ke suatu tempat.


Sebuah showroom motor yang berseberangan dengan toko kain.


"Ngapain ke sini, Na? Mau beli motor?" tanya Syifa penasaran.


Kirana pun mengangguk.


Seorang sales pria menyambut mereka. Menanyakan motor yang diinginkan oleh Kirana. Dengan yakin Kirana menunjuk salah satu motor yang membuat Syifa membelalak. Pasalnya, Kirana memilih motor sport yang harganya membuat dia tarik nafas.


"Na, seriusan mau beli motor itu?"


Kirana mengangguk pasti.


"Buat apa sih? Kamu mau naik motor gede gitu? Aku bilangin Bu Ambar, ya."

__ADS_1


Kirana merenges. Memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dan dengan santai dia menjawab.


"Pingin aja."


__ADS_2