Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
92. END


__ADS_3

"Gimana, Mas? Perasaannya?" tanya Kirana saat suaminya baru saja masuk ke dalam kamar setelah mengangkat satu persatu anak mereka dari mobil ke kamar. Mentari dan Sam tertidur di mobil saat perjalanan pulang dari rumah Nabila.


Tristan melepas kancing kemejanya satu persatu. "Rasanya jadi pingin nikah lagi."


Bug!


Kirana melempar sebuah bantal dan mengenai tubuh suaminya. Tristan justru terkekeh melihat wajah Kirana yang dilipat.


"Maksudnya, pingin ngulang lagi nikah lagi."


Kali ini bukan lemparan bantal, tapi pelototan kedua mata Kirana yang didapatkan oleh Tristan.


"Duh, salah lagi, ya!" Tristan memukul mulutnya sendiri.


Dengan tubuh yang berbau parfum bercampur dengan keringat, dia mendekap Kirana yang sedang mengusap wajahnya dengan kapas. Bibir Tristan mendarat mengecup pipi kanan istrinya yang baru saja dibersihkan.


"Perasaanku saat ini, mungkin sebahagia mereka," ucap Tristan kemudian. Lalu menarik lengannya. Bermaksud membiarkan Kirana membersihkan diri.


Namun Kirana justru beranjak dari depan kaca dan tiba-tiba memeluk Tristan yang tengah mengambil handuk. Kirana memutari tubuh Tristan hingga mereka kini saling berhadapan.


Dahi pria itu pun berkerut. Saat Kirana menatapnya lekat. Kemudian menyandarkan kepala di dada telanjangnya.


"Sayang, Mas keringetan loh."


Kirana tak menyahut. Dia justru menghirup aroma tubuh suaminya sambil memejamkan mata. Tangannya terulur berusaha menggapai benda pipih yang tergeletak di meja. Jemari lentik itu pun mengusap layar beberapa saat kemudian, suara musik mengalun dari gawai yang telah diletakkan kembali ke atas meja.


Kira menatap wajah suaminya. Mengusap rahang yang tertutup bulu tipis. Kakinya berjinjit untuk menyatukan bibir mereka. Sikap aneh Kirana tentu saja membuat Tristan terkejut. Sepanjang mengarungi kehidupan bersama Kirana, istrinya tidak pernah seberani ini. Bahkan Kirana cenderung pemalu. Tidak akan meminta jika Tristan tidak memulainya.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi dengan Kirana sore ini. Setelah kepulangan mereka dari acara Daniel?


Kaki Tristan mulai melangkah seirama dengan langkah kaki Kirana. Dia tidak tahu sejak kapan istrinya itu bisa berdansa. Semua mengalir begitu saja. Hingga bibir Tristan kini tak lagi menyatu dengan bibir Kirana. Namun telah berpindah menuruni leher.


"God! Kamu benar-benar membuatku nggak bisa menahan diri, Kirana," ucap Tristan saat merasakan pakaian bawahnya semakin sesak.


Kirana tersenyum tipis menatap mata suaminya yang telah berkabut. "Aku menginginkanmu."


Tristan tertegun. "Kirana, ini kamu….Dengan senang hati, Sayang."


Tubuh Kirana melayang seketika. Dia memekik seraya mengalungkan lengannya ke leher Tristan.


Pakain mereka telah terlucuti sempurna. Namun Kirana sengaja menahan Tristan yang hendak menyentuhnya.


"Pelan, ya?"


Kirana menggeleng. "Aku lagu nggak suka kamu main kasar."


"Oke. Apa pun itu. Tolong jangan coba-coba menahanku lagi."


Tristan benar-benar memperlakukan Kirana dengan lembut. Sentuhan demi sentuhan berseling dengan suara *******. Hingga keduanya dihempas gelombang nyaris bersamaan.


"Thank you, Honey!" ucap Tristan dengan sebuah kecupan di kening istrinya.


"Hmm."


Dengan kaki yang masih lunglai, Kirana menggeser tubuhnya. Mengambil sesuatu dari laci nakas.

__ADS_1


"Happy birthday!" ucapnya setelah merangsek kembali ke bawah lengan suaminya.


Tristan menerima kotak kecil berpita yang diberikan Kirana. Hari ini terlalu sibuk. Bahkan dia pun lupa akan tanggal kelahirannya sendiri. Semua orang pun tidak ada yang mengingatkannya. Dia pikir istrinya pun sama. Namun ternyata sebuah kejutan dia terima. Pantas saja sikap Kirana sedikit aneh.


"Nggak mau dibuka?"


Tristan pun membuka kota biru berukuran 15×5 cm.Dia mengernyit saat melihat isinya. Sebuah stik penguji kehamilan. Tangannya terulur mengamati dua garis merah yang terlihat jelas.


"I-ini punya kamu?" tanya Tristan.


"Hmm!" Kirana tersenyum mengangguk.


"Alhamdulillah," ucap Tristan yang terlihat begitu bahagia mengetahui kehamilan Kirana.


"Tapi bukannya kamu pasang KB?" tanya Tristan kemudian.


"Bobol!" sahut Kirana pura-pura kesal.


"Ya susah lain kali nggak usah. Percuma saja. Benihku terlalu kuat tetap saja jebol," ujar Tristan jumawa. Dia pun menunduk mencium perut Kirana. "Hello! Selamat datang anak Papa. Baik-baik ya sama Ibu."


Kirana tertawa karena mulut Tristan yang komat-kamit di atas kulitnya membuatnya geli.


"Maaf, membuat kamu harus bersusah payah mengandung anak kita lagi."


"Kenapa harus maaf. Aku bahagia bisa menjadi seorang ibu," jawab Kirana dengan senyum lebar.


Dia melangitkan harapan, kehadiran buah hati mereka yang kedua semakin melengkapi kebahagiaan mereka.

__ADS_1


...-END-...


__ADS_2