
Kirana meletakkan hairdryernya, saat mendengar pintu kamar diketuk. Lalu terdengar suara ibu mertuanya memanggil. Dia melongok jam di dinding sekilas sebelum membuka pintu. Jam 12 dan dia belum memasak untuk makan siang.
"Tristan di dalam?" tanya Bu Ratih dengan tatapan menyelidik dan membuat Kirana gugup.
"I-iya, Ma," jawab Kirana pada Bu Ratih yang baru pulang dari acara arisan.
"Itu ada temannya sampai tidur di sofa, dia tahu?"
Lagi-lagi Kirana mengangguk sambil tersenyum canggung.
Bu Ratih pun membulatkan bibirnya. "Kamu belum masak, kan? Ini Mama bawa makanan dari rumah Tante Tiara. Suruh Tristan bangunkan temannya. Ajak dia makan sama-sama," ujar wanita itu lagi.
"Iya, Ma," sahut Kirana semakin canggung karena ibu mertuanya tak lepas menatapnya.
"Kalian sudah baikan?"
Kedua pipi Kirana mungkin saat ini sedang merona karena pertanyaan itu. Dia kembali melengkungkan bibir dengan kikuk tanpa menjawab.
Bu Ratih pun mendesah pelan seraya menggelengkan kepala. Dia ingin Kirana memberi pelajaran lebih lama pada Tristan. Tapi menantunya itu entah terbuat dari apa hatinya, melihat Tristan mengiba saja dia begitu mudah luluh.
Kirana pun mengekor ibu mertuanya yang berjalan ke arah dapur seraya menggelung rambutnya yang masih basah dengan handuk.
Dia membuka tas yang dibawa oleh ibu mertuanya. Banyak sekali makanan yang dibawa, Kirana menggantinya ke dalam mangkok-mangkok dan piring.
"Kamu itu jangan terlalu bucin sama suamimu. Nanti dia ngelunjak. Jadi perempuan sesekali harus tega. Jangan suami merengek sedikit kamu sudah mleyot. Biar dia tahu rasa."
Kirana diam saja mendengar omelan ibu mertuanya.
"Mama nggak ngerti sama kamu, Wi. Sekarang terserah kamu. Kalau nanti suamimu sembuh dan bertingkah lagi, jangan mengadu sama Mama."
"Jangan provokasi Kirana, Ma." Tristan yang baru tiba di meja makan menyela ucapan mamanya.
"Ah, sudahlah, Mama mau istirahat!" Wanita itu pun meninggalkan meja makan lalu naik ke atas.
Kirana meminta Tristan untuk membangunkan Lucky yang terlelap di sofa ruang tengah. Beberapa minuman kaleng kosong tergeletak di meja. Juga bungkus snack kosong. Snack stok untuk untuk Mentari yang sepertinya diambil Lucky dari dalam kulkas. Tristan tidak heran jika salah satu temannya itu memang tidak bisa rapi. Bahkan dia bisa tidur di sembarang.
"Pakai hijabmu! Mas mau bangunkan dia," ujar Tristan pada istrinya.
Kirana masuk ke dalam kamar, mengganti dasternya dengan pakaian yang lebih sopan. Juga menutup kepalanya dengan kerudung rumahan.
__ADS_1
Saat kembali ke luar kamar Kirana melihat Tristan sudah mengobrol dengan Lucky yang wajahnya masih sayu khas bangun tidur.
"MasyaAllah! Bidadari surga!"celetuk Lucky saat Kirana melintas sambil mengulas senyum dan menganggukkan kepala.
Kluntang!
Botol minuman jatuh usia menimpa kepala Lucky. Tristan pelakunya. Dan lelaki berkumis tipis teman Tristan itu pun mengaduh sambil mengusap dahinya.
"Kira-kira dong, Tan!" gerutunya.
"Gue colok juga mata lo jelalatan!'
Lucky mendengus. "Dia siapa? Saudara lo?"
"Istri gue! Kenapa?"
"Njiir! Pantes gue dikacangin!"
Tristan melempar sekali lagi kaleng bekas yang tergeletak di meja. Dia tahu betul apa yang ada di pikiran kawannya itu. Lelaki super mesum yang tidak bisa melihat perempuan dengan tubuh seksi. Apalagi Kirana yang tengah hamil mengenakan daster berbahan kaos yang pas di badannya. Lucky pasti sedang membayangkan lekukan tubuh Kirana.
Suara Kirana pun terdengar memanggil dari meja makan.
"Lo muji istri gue sekali lagi, gue bungkam mulut lo selamanya."
Kirana menggeleng mendengar ancaman suaminya pada Lucky. Dua pria itu bersisian menuju meja makan.
"Saya Lucky, musuh bebuyutannya Tristan." Lucky mengulurkan tangan pada Kirana.
Namun ditepis oleh Tristan. "Istri gue nggak mau sentuhan sama yang bukan muhrim," ujarnya dengan ketus.
Satu persatu Kirana mulai tahu tentang pertemanan suaminya. Daniel yang menurut Nabila brengsek, namun dalam pandangan Kirana, lelaki bermata sipit itu sangat sopan. Atau mungkin memang Kirana yang belum begitu mengenalnya. Karena dua kali bertemu Daniel, tidak mencirikan jika Daniel laki-laki brengsek. Penampilannya rapi, dia juga berbicara sopan pada Kirana.
Sedangkan Lucky, tidak perlu dijelaskan jika pria itu memang slengekan. Asal bicara tanpa aturan. Sikapnya pun demikian.
Dari ketiga orang itu, Tristanlah yang paling irit bicara, bahkan cenderung ketus. Senyum pun jarang terlihat melengkung di bibir suaminya itu.
Kirana mempersilahkan Lucky untuk mengambil makanan. Dari gesturenya, Lucky sudah terbiasa berkunjung ke rumah itu. Bahkan dia tidak canggung mengambil makanan yang ada di meja.
Kirana pun baru tahu, jika ibu mertuanya welcome dengan teman-teman Tristan tanpa memandang penampilan. Bahkan mendapati Lucky tertidur di sofa dengan ruang tengah yang berantakan dengan sampah, Bu Ratih terlihat tidak mempermasalahkannya.
__ADS_1
"Lo ngajak gue makan cuman buat ngeliatin kebucinan kalian?" gerutu Lucky saat Tristan makan satu piring dengan Kirana.
Piring makan yang sengaja diisi oleh Kirana dengan nasi yang lebih banyak dilengkapi capcay sayur dan ikan fillet asam manis untuk berdua. Karena Tristan tidak bisa makan sendiri dengan tangan kiri. Sehingga setiap makan Kirana yang menyuapinya.
Pemandangan itu tentu saja membuat Lucky kesal. Harus dipertontonkan adegan suap menyuap suami iatri. Apalagi Tristan sengaja memancing kekesalan temannya dengan bersikap manja pada Kirana.
Secepatnya pria jangkung itu pun menghabiskan makanannya. Lalu pergi ke teras belakang sambil meracau mengumpat Tristan.
"Jangan gitu, Mas. Nggak enak sama teman kamu. Dia ke sini untuk mengantar mobil loh. Kita terima veres aja," tutur Kirana saat Tristan terkekeh melihat wajah Lucky yang dilipat sambil nyelonong ke belakang.
"Kamu nggak tahu siapa Lucky. Dia ke sini karena penasaran sama menantu Mama."
Dahi Kirana berkerut. "Aku maksudnya?"
"Siapa lagi, Sayang. Kamu tahu, yang ada di otaknya itu cuma perempuan. Nggak peduli perempuan itu sudàh punya suami atau belum."
"Masa sih? Kamu sedang menjelekkan teman kamu sendiri?"
"Terserah. Kamu ke kamar sana! Jangan keluar kalau dia masih ada di sini" pesan Tristan sebelum dia menyusul Lucky ke belakang.
Kirana tidak sepenuhnya percaya. Dia menganggap ucapan Lucky tadi hanya sebuah candaan. Suaminya saja yang terlalu berlebihan.
Sementara dua lelaki itu berbincang di teras belakang. Dengan sebatang rokok di tangan masing-masing. Dan Kiirana sesekali melihat jendela kaca setinggi dinding yang membatasi teras dan ruang makan. Sehingga pemandangan teras dan halaman belakang terlihat dari dalam rumah.
"Tan, adik ipar lo sekarang tinggal di mana? Gue ke apartemen kosong."
Adik ipar yang dimaksud Lucky tentu saja Silvia.
"Gue nggak tahu," jawab Tristan acuh setelah mengepulkan asap ke udara.
Jawaban Tristan justru membuat Lucky tersenyum miring. "Nggak mungkin kalau lo sampai nggak tahu di mana dia."
"Lo ngapain nyari dia?" tanya Tristan setelah beberapa saat diam.
"Ya …. Gue merasa bersalah aja sama dia?" sahut Lucky dengan wajah mendadak serius.
"Maksud lo?" Tristan bahkan sampai meletakkan rokoknya di asbak.
"Dia hamil anak gue!"
__ADS_1
"Apa?!"