
"Aku nggak enak banget sama Mentari. Dia pasti ngambek lagi gara-gara kita pulang telat."
"Nggak usah panik. Di rumah kan ada Mama. Kalau ada apa-apa Mama pasti telepon. Tadi cuma akal-akalan Nabila yang ngerjain kita."
"Jangan begitu dong, Mas. Sebentar lagi Mentari mau punya adik. Jangan sampai dia merasa diabaikan dan mengira kita sudah nggak sayang lagi sama dia. Anak kecil itu perasaannya sensitif loh, Mas."
Tristan menarik kedua sudut bibirnya. Tatapannya masih lurus pada Jalan di depannya.
"Sesayang apa sih kamu sama Mentari?" Pertanyaan itu membuat Kirana mengerutkan dahi.
"Harus dijelaskan?" sahutnya. "Mungkin seperti rasa sayangku pada anak yang masih ada di dalam sini," lanjut Kirana seraya mengusap perutnya. Tristan membalas jawaban Kirana dengan sebuah genggaman pada jemari lembutnya.
Rumah sudah sepi saat mereka tiba. Namun semua lampu masih menyala. Kitana membuka pintu terlebih dulu meninggalkan Tristan yang baru turun dari mobil. Hal itu karena dorongan rasa bersalahnya yang mengetahuinya sejak terbangun dari tidurnya tadi.
Kamar Mentari menjadi tujuan pertamanya. Terlihat ibu mertuanya tengah menyelimuti Mentari yang sudah terlelap. Kirana semakin merasa bersalah. Baru sehari dia pulang ke rumah itu, dia sudah kembali meninggalkan Mentari seharian.
Beberapa panggilan dari ibu mertuanya di ponselnya dan ponsel Tristan tidak terjawab. Mungkin itu sebabnya wanita itu menghubungi Nabila.
"Maaf, Ma. Tadi kami …."
Bu Ratih meletakkan telunjuknya di depan bibir. .
"Sudah tidak apa-apa. Mentari baru saja tidur. Tadi sempat rewel menanyakan kamu. Tapi setelah capek dan minum susu, dia tertidur."
Kirana tertunduk dengan rasa bersalah yang masih enggan meninggalkannya. Membiarkan ibu mertuanya kalang kabut membujuk Mentari yang dia tahu itu bukan perkara mudah. Motana bahkan melihat tumpahan cairan putih di lantai. Air susu yang tumpah atau mungkin sengaja ditumpahkan. Mungkin akibat kekesalan Mentari karena tidak ada satu pun di antara dia dan Tristan yang mengangkat teleponnya.
Kirana mengambil kain pel di belakang untuk membersihkan kamar Mehtari.
"Maaf, Ma. Kami merepotkan Mama," ucapnya lagi pada Bu Ratih yang sedang merapikan mainan Mentari.
Bu Ratih melengkungkan bibirnya. "Mama sudah cukup bahagia melihat kalian seperti sekarang ini. Dan akan lebih bahagia lagi jika kalian bisa tinggal di rumah utama. Kamu dan Tristan akan bisa melakukan banyak kegiatan tanpa harus merisaukan tentang Mentari. Ada Mama dan Bi Elis yang akan menjaganya. Kalau kalian di sini, kamu akan capek melakukan pekerjaan rumah. Belum lagi kalian tidak bisa bebas bepergian berdua ke mana pun karena harus memikirkan Mentari."
Kirana justru merasa ucapan ibunya adalah sebuah sindiran. Meski Bu Ratih mengucapkannya dengan lembut. Perasaan Kirana pun semakin tidak karuan. Dia mengembalikan kain pel lalu kembali lagi ke kamar Mentari.
"Biar saya saja, Ma." Kirana mengambil alih keranjang mainan Mentari. Entah apa yang dilakukan Mentari selama dia ada di rumah. Dua keranjang mainan kosong dan isinya berpindah ke lantai.
__ADS_1
Bu Ratih tetap membereskan mainan itu meski Kirana telah mencegahnya. "Sejak dulu Tristan tidak pernah mau mempekerjakan asisten rumah tangga begitu juga dengan istrinya dulu. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Lihatlah Mentari kalau sudah bermain, semua pasti akan berantakan. Mama tidak ingin kamu bertambah capek jika setiap hari membereskan rumah sendiri. Apalagi perutmu akan semakin membesar dan membatasi aktivitasmu."
Kirana mengerti, selain alasan yang diucapkan panjang kebar oleh ibu mertuanya, wanita itu juga merasa kesepian tinggal di rumah. Bu Ratih sangat berharap agar dia dan Tristan mau tinggal di rumah utama. Menghabiskan masa tua dengan tinggal bersama anak dan cucunya.
Sedangkan Tristan justru mengajak Kirana untuk meninggalkan rumah itu dan membeli rumah baru. Meski Kirana menolaknya.
"Nanti saya bicarakan dengan Mas Tris dulu, Ma."
Bu Ratih membuang nafas pelan. "Tristan mana mau tinggal di rumah Mama lagi. Gengsinya terlalu besar mesi dengan orang tuanya sendiri. Dulu awal menikah dan belum mempunyai rumah saja dia lebih memilih untuk mengontrak meski sudah dicegah oleh Papa."
Kirana dapat melihat raut kecewa di wajah ibu mertuanya. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menenangkan dengan memberi janji akan membujuk suaminya. Meski dia tidak yakin akan berhasil. Mengingat Tristan yang keras kepala.
"Sebaiknya Mama istirahat dulu. Sisanya biar saya yang membereskan," ucap kirana kemudian melihat kelelahan di wajah ibu mertuanya.
Dan malam ini Kirana ingin sekali mendekap mendekap Mentari sepanjang malam. Bahkan dia tidak kembali ke kamarnya dan memilih merebahkan diri di samping putrinya menyibakkan rambut panjang yang menutup wajah Mentari. Membelai lembut pipi yang semakin terlihat tirus. Kirana baru menyadari jika Mentari terlihat semakin kurus. Sebuah kecupan pun dia daratkan di kening gadis kecil yang tengah terlelap itu.
"Bunda!" Rengekan itu terdengar dari mulut mungil Mentari meski dengan mata terpejam.
Namun dia menggeser tubuhnya merapat pada orang dewasa di dekatnya.
Deritan bunyi pintu dibuka membuat Kirana menoleh. Dia pun menempelkan telunjuknya di bibir meminta Tristan agar tidak bersuara.
"Saya tunggu di kamar."
Kirana menggeleng. "Malam ini saya tidur di sini, ya?"
Tristan mendesah pelan. Dia mendekati ranjang lalu membopong tubuh Mentari. Tanpa banyak cakap, dia membawa Mentari ke atas. Dan justru membuat Mentari terbangun.
"Mau sama Bunda, Pa," rengeknya dalam gendongan sang ayah.
"Iya. Malam ini Mentari boleh tidur sama Papa dan Bunda."
Kedua mata bulat itu pun berbinar. Begitu indah memancarkan bahagia yang tidak terkira. Tristan tidak athu bagaimnan ink bisa terjadi. Mata bulat putrinya yang menurun dari Elita bisa sangat mirip dengan Kirana. Mata yang membuat Tristan tersihir ubtuk pertama kalinya dan membuatnya jatuh hati..
Seaampai di kamar, Mentari bukan kembali memjamkan mata. Tetaoi berceloteh oanjang lebar mengungkaokan kekesalannya karena ditinggal seharian oleh Kirana tanpa kabar.
__ADS_1
"Maaf, lain kali Bunda akan bilang kalau mau pergi. Kakak Mentari jangan marah lagi, ya. Jadi jelek, tuh!" Kirana menunjuk bibir mungil yang mengerucut. Dia yangvbarubsaja mengganti pakaian menghambur pun ikut anik ke atas ranjang.
Hal sepele yang mudah dilakukan tetapi memberi efek yang luar biasa. Memeluk, dekapan itu membuat Mnetari tidak lagi merasa kesal. Dia pun melingkarkan lengannya di perut buncit Kirana. Gerakan yang terasa ditangannya membuat dirinya terkejut dan memekik.
"Bunda! Kok perutnya gerak-gerak?"
Kirana terkekeh pelan. "Iya. Adik lagi nendang perut Bunda."
"Kok nendang? Adiknya nakal, dong."
"Bukan nakal. Tapi Adik lagi mainan di dalam perut Bunda. Coba diusap nanti gerak lagi dia."
Tristan yang sejak tadi diam dan sibuk dengan gawainya tidak mau kalah. Dia meletakkan beda pipih itu ke atas nakas lalu menghambur ke arah Kirana. Berlomba mengusap perut Kirana.
"Mentari berdoa, ya. Mudah-mudahan adiknya cowok," ujarnya.
"Nggak mau. Mau cewek," sanggah Mentari.
"Cowok, ya? Kan buat teman Papa."
"Cewek, Pa. Mentari mau main masak-masakan, salon-salonan, kasir,-kasiran. Kalau cowok nggak asyik!"
Perdebatan pun dimulai karena permintaan yang berbeda. Tristan yang sengaja menggoda anaknya, dan Mentari yang kekeuh mengharap bayi perempuan. Dan perdebatan itu terhenti saat Kirana merebahkan diri lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Keduamya pun ikut menelusup di balik selimut dan berebut memeluk Kirana.
Bunyi telepon mengacaukan keseruan mereka. Tristan ingin mengabaikan dering ponselnya namun Kirana memintanya untuk menerima panggilan itu karena merasa terganggu dengan suara yang meraung-raung.
Panggilan video nomor ta dikenal itu membuat Tristan mengernyit. Jam sepuluh malam siapa yang menelepon? Jarinya pun perlahan menekan tombol hijau memastikan foto Daniel terpampang di layar.
Dia tersentak meihat seseorang di layar ponselnya. Bukan Daniel, tetapi orang lain.
"Gila!" gumamnya pelan namun tertangkap oleh telinga Kirana.
"Siapa, Mas?" tanya Kirana kemudian
"Hah?!. Bukan siapa-siapa. Nomor nggak dikenal," sahutnya seraya mematikan sambungan telepon lalu menonaktifkan alat komunikasi itu.
__ADS_1