Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
79. Cemburu Buta


__ADS_3

Kirana melirik Tristan yang melangkah lesu masuk ke dalam kamar. Dia seolah sibuk dengan laptopnya. Tumpukan email dari Jihan yang belum dibacanya. Kirana sebenarnya sudah enggan mengurus hal-hal rumit mengenai laporan pencapaian usaha. Tapi mau tidak mau dia harus ikut terlibat. Karena Syifa pun sepertinya akan segera mengundurkan diri. Kondisi kehamilannya tidak sekuat Kirana. Syifa beberapa kali harus bedrest. Sehingga dia hanya memantau pekerjaan dari rumah.


Dahi Kirana mengernyit saat menerima email dari Baraka. Klik! Pesan itu pun terbuka. Surat pengunduran diri Syifa yang dibuat langsung oleh sang suami. Kepala Kirana pun berdenyut.


"Kenapa mendadak gini sih, Mas?" tanya Kirana pada Baraka melalui panggilan telepon.


"Syifa udah nggak kuat, Na. Sorry banget, ya!"


Kirana pun mendesah pelan. Bisa apa dia selain bilang iya. Dia pun tidak tega jika harus memaksa Syifa. Wajar jika Baraka khawatir karena bagaimanapun kesehatan Syifa dan calon bayinya lebih penting.


Kirana mulai berpikir keras. Mencari pengganti Syifa bukan hal yang mudah. Meski sejauh ini Jihan sudah terlatih, namun dia sendiri tidak terlalu dekat mengenal sepupu Baraka itu.


Suara pintu kamar mandi mengalihkan perhatian Kirana. Tristan yang baru saja membersihkan diri mengganti bajunya dengan t-shirt tanpa kerah dan celana pendek. Lalu merebahkan diri di samping Kirana.


Sepertinya pria itu masih menyimpan rasa kesal. Karena cemburu buta yang menderanya.


"Mas!" panggil Kirana.


Tristan tak menyahut. Dia mengambil gawai dan menyibukkan diri dengan benda itu.


"Mas Tris!"

__ADS_1


"Hmm."


"Aku lagi galau."


"Galau karena baru saja ketemu mantan?" sindir Tristan.


Kirana pun berdecak mendengar jawaban random dari Tristan. "Udah deh, Mas. Kamu jangan seperti anak kecil gitu. Kan udah jelas kalau aku nggak pernah ada apa-apa sama Kak Ravi."


"Nggak ada apa-apa tapi kamu bisa dekat sama mamanya," balas Tristan dengan tatapan masih tertuju pada ponselnya. Mengucapkan selamat menjalani hidup baru pada Daniel yang memutuskan untuk hijrah ke London. Tristan hanya akan melihat seberapa lama Daniel bisa bertahan hidup di negeri orang. Karena sebelumnya, Daniel pernah ingin menetap di UK untuk melupakan Nabila. Namun hanya beberapa bulan saja dia sudah kembali.


Tristan melompat dari tempat tidur saat melihat Kirana hendak keluar dari kamar sambil menenteng laptopnya. Bisa dipastikan jika Kirana akan mengungsi ke kamar sebelah.


Tubuh jangkungnya menutup akses keluar bagi Kirana. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya meninggalkan dirinya malam ini. Tanpa memeluk Kirana sepanjang malam dia tidak akan bisa memejamkan mata.


"Kenapa? Kamu sudah bosan sama aku?" sahut Tristan tanpa beralih dari tempatnya berdiri.


"Astaga! Kamu lama-lama tambah ngaco!" balas Kirana lalu dia kembali ke ranjang. Duduk bersandar sembari meluruskan kakinya yang kelihatan bengkak.


"Memangnya apalagi yang mau aku cari, Mas. Aku udah punya kamu yang gantengnya nggak ketulungan. Punya Mentari, mau punya lagi. Kamu jangan overthinking tentang aku sama Kak Ravi. Dia calon suaminya Nabila loh, Mas. Kalian pasti akan lebih sering bertemu untuk selanjutnya. Aku jujur sama kamu dengan harapan supaya kamu nggak buruk sangka lagi. Bukan malah terus-terusan cemburu seperti ini. Kalau Nabila sampai tahu kan aku jadi nggak enak sama dia. Dia juga pasti akan merasa nggak nyaman saat aku mungkin menyapa atau ngobrol sama Kak Ravi. Jadi, please! Enough! Jangan dibawa berlarut-larut masalah yang nggak penting ini," ujar Kirana panjang lebar.


"Ada hal yang lebih penting yang harus aku pikirkan selain sikap kamu yang nggak jelas itu."

__ADS_1


Kirana menyudahi keluh kesahnya. Dia mengambil gawai dan kembali menghubungi Baraka. Mau tak mau sementara ini dia harus mempercayakan usahanya pada Jihan. Dan dia harus mencari tahu lebih banyak tentang Jihan dari Baraka. Pria itu pasti akan fair dalam mengungkapkan segala sesuatu meskipun Jihan adalah saudaranya.


"Assalamu'alaikum, Mas! Maaf ya aku ganggu waktu sebentar saja. Syifa ada di situ, kan?"


"Ngapain kamu malam-malam telpon suami orang?" hardik Tristan sambil mendekat.


"Sini biar aku yang bicara!" Tangan Tristan menengadah meminta handphone Kirana.


"Apa masalahnya sampai kamu harus menghubungi dia malam-malam begini?" tanya Tristan setelah mendapatkan hp Kirana.


Kirana pun menyodorkan laptopnya. Tanpa harus diberitahu, Tristan pasti sudah tahu masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Pria itu pun berbincang sebentar dengan Baraka. Lalu menutup telepon.


"Besok saja aku bicarakan sama dia," ujarnya lalu menutup laptop Kirana dan meletakkan dua benda kotak itu di meja.


Tristan pun beranjak naik ke atas tempat tidur. Mendekat pada Kirana lalu memijat kaki istrinya yang bengkak.


"Mulai sekarang kurangi aktivitasmu! Jangan terlalu capek," kata Tristan sambil terus memijit.


"Nggak jadi marah lagi?" goda Kirana


"Nggak. Tapi habis dipijit kamu harus bayar!"

__ADS_1


"Iih! Pamrih. Nggak usah mijit kalau begitu." Kirana menyingkirkan tangan suaminya. Karena dia tahu upah apa yang dimaksud Tristan.


__ADS_2